Tata Cara Rujuk Dalam Islam

Assalamu’alaikum. Shobahal Khoir ya ustadz.

Saya salah satu jamaah masjid Al-ishlah ingin bertanya seputar Rujuk. Saya mempunyai anak (6). Istri saya meninggalkan saya selama empat tahun. Kemudian kami berdua ingin Rujuk dengan alasan; anak dan cucu. Yang saya tanyakan; bagaimana cara Rujuk dalam islam dan bagaiamana pelaksanaannya. Wassalamu’alaikum ya ustadz

Dari: suhanda, gg lontar bawah HP: 08571602xxxx

 

 

Jawaban

Wa’alaikumussalam Warahmatullah.

Tatacara Rujuk adalah berkata kepada Istri yang telah ditalak yang masih dalam masa Iddah dengan ucapan: “Aku telah Rujuk (atau lafadz yang semakna) denganmu” dengan menghadirkan dua saksi, atau berkata kepada dua saksi (tanpa keberadaan istri) dengan ucapan; “Aku telah Rujuk dengan istriku (atau lafadz yang semakna). Semua ini sah dilakukan tanpa disyaratkan adanya wali, Mahar, dan ridha istri. Tahu atau tidaknya istri juga tidak dipertimbangkan dalam Rujuk.

Rujuk harus dilakukan dengan ucapan selama mampu. Artinya, Rujuk dianggap sah jika dilafalkan. Adapun Rujuk dengan perbuatan seperti Jimak (baik dengan niat Rujuk maupun tanpa niat) atau Muqoddimah Jimak seperti mencium, meremas, meraba, memandang dengan syahwat, apalagi sekedar berkhalwat maka semua itu belum cukup untuk menghukumi bahwa Rujuk telah berlaku. Argumentasi bahwa Rujuk harus dengan ucapan adalah sebagai berikut;

Pertama; Allah memerintahkan Rujuk menghadirkan dua saksi. Allah berfirman;

 

 

{فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ } [الطلاق: 2]

 

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka Rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu (At-Thalaq;2)

 

Tidak mungkin Allah memrintahkan untuk mempersaksikan Jimak atau muqoddimahnya, karena melihat hal demikian hukumnya haram. Perintah mempersaksikan Rujuk bermakna perintah mempersaksikan ucapan Rujuk yang diucapkan oleh suami agar orang lain tahu sebagaimana persaksian terhadap ucapan akad nikah.

Tidak bisa dikatakan bahwa setelah Jimak orang bisa mempersaksikan bahwa dirinya telah Rujuk. Alasan ini tidak bisa diterima karena persaksian yang diperintahkan adalah saat terjadi Rujuk, bukan mempersaksikan atas Iqror (pengakuan) Rujuk. Lagipula, jika dia telah mempersaksikan dengan ucapannya bahwa dia telah Rujuk, maka keabsahan Rujuknya adalah dari ucapannya, bukan dari Jimak  atau muqoddimahnya.

Kedua; Nabi menetapkan bahwa Nikah, cerai dan Rujuk berlaku baik dilakukan dengan serius maupun canda. Abu Dawud meriwayatkan;

سنن أبى داود – م (2/ 225)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ ».

 

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga perkara, seriusnya dihukumi serius dan candanya (tetap) dihukumi serius, yaitu; nikah, talak, dan Rujuk (H.R.Abu Dawud).”

 

Sudah lazim diketahui bahwa maksud nikah serius atau canda adalah mengucapkan akad nikah baik serius ataupun canda. Demikianpula talak, yang dimaksud adalah mengucapkan lafadz talak baik serius maupun canda. Oleh karena itu hadis ini menunjukkan bahwa Rujuk itu dilakukan dengan ucapan sebagaimana akad nikah dan talak.

Ketiga; Allah menyebut talak dan Rujuk dalam Siyaq (konteks) yang sama, misalnya;

 

{وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ } [البقرة: 231]

 

Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, Maka Rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula). (Al-Baqoroh; 231)

 

Ini menguatkan argumentasi sebelumnya, yaitu talak dan Rujuk itu semakna dari sisi sama-sama dilakukan dengan ucapan.

Lagipula, kebolehan untuk menjimaki wanita adalah dengan akad nikah yang diucapkan secara lisan. Karena itu rujuk semakna dengan hal ini, karena Rujuk bermakna ingin mengembalikan wanita yang ditalak sebagaimana istrinya saat belum ditalak.

Jika suami tidak sanggup mengucapkan seperti karena bisu atau ada penyakit, maka Rujuk sah dengan sesuatu yang mewakili ucapan seperti tulisan atau isyarat.

Lafadz yang dipakai adalah Rujuk atau yang semakna seperti Rodd (mengembalikan), dan Imsak (menahan) karena lafadz itulah yang dipakai dalam Nash. Lafadz Rujuk misalnya dipakai Nabi ketika memerintahkan Ibnu Umar merujuk kembali istrinya. Bukhari meriwayatakan;

صحيح البخاري (16/ 292)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا

أَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا

 

 

Dari Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma, bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia pernah menceraikan isterinya dalam keadaan haid, maka Umar bin Al Khaththab pun menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perintahkanlah agar ia meruju’nya (H.R.Bukhari)

 

Lafadz Rodd dipakai Allah dalam Al-Quran. Allah berfirman;

وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا } [البقرة: 228]

 

Dan suami-suami mereka yang paling berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah (Al-Baqoroh.228)

 

Lafadz Imsak juga dipakai Allah dalam Al-Quran;

{ الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ} [البقرة: 229]

 

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh Rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik (Al-Baqoroh;229)

 

Oleh karena itu jika seorang suami mengatakan kepada istrinya “Aku telah Rujuk kepadamu” atau “aku mengembalikanmu sebagai istriku sebagaimana semula” atau “aku menahanmu lagi dan tidak jadi kuceraikan” atau yang semakna dengannya, maka Rujuknya sah.

Adapun mempersaksikan ucapan Rujuk kepada dua saksi yang adil, maka hal ini didasarkan pada perintah Allah dalam surat At-Thalaq. Allah berfirman;

{فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ } [الطلاق: 2]

 

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka Rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu (At-Thalaq;2)

Namun, mempersaksikan ini hukumnya sunnah, tidak wajib dan tidak menjadi syarat sah karena tidak ada qorinah yang menunjukkan kewajibannya atau dijadikannya persaksian sebagai syarat sah Rujuk. Mempersaksikan saat Rujuk hanyalah anjuran saja agar tidak timbul persoalan (seperti perselisihan dengan istri) sebagaimana anjuran mempersaksikan akad hutang piutang yang disebutkan dalam Al-Quran;

 

 

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ} [البقرة: 282]

 

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau Dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). (Al-Baqoroh; 282)

 

Tidak adanya syarat Wali dan mahar karena Rujuk bukan akad nikah. Oleh karena itu tidak perlu disediakan sesuatu yang hanya wajib disediakan untuk akad nikah. Lagipula tidak ada nash yang menunjukkan bahwa dalam Rujuk harus menghadirkan wali dan menyediakan mahar.

Ridha istri maupun tahu tidaknya dia juga tidak diperhatikan, karena Rujuk bukan akad. Rujuk adalah hak suami saja bukan hak istri sebagaimana talak juga menjadi hak suami saja bukan hak istri. Allah menegaskan bahwa Rujuk adalah hak suami. Allah berfirman;

وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا } [البقرة: 228]

 

Dan suami-suami mereka yang paling berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah (Al-Baqoroh.228)

 

Namun, patut dicatat bahwa hukum Rujuk hanya berlaku jika istri telah ditalak. Keharusan terealisasinya talak ini didasarkan pada ketentuan dalam Al-Quran yang mensyariatkan Rujuk hanya dalam kondisi istri telah ditalak. Misalnya dalam ayat berikut;

{ وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا } [البقرة: 228]

 

Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka Menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suami mereka yang paling berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah (Al-Baqoroh;228)

 

Tampak dengan jelas bahwa syariat Rujuk yang diungkapkan dengan lafadz;

وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا }

 

dan suami-suami mereka yang paling berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah

 

Hanya disyariatkan kepada wanita yang berstatus Muthollaqoh (telah ditalak)

Demikian pula ayat berikut;

{ الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ} [البقرة: 229]

 

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh Rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik (Al-Baqoroh;229)

 

Syariat Rujuk yang diungkapkan dengan lafadz;

فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ

 

setelah itu boleh Rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf

 

Hanya diperlakukan setelah adanya talak.

Rujuk juga hanya bisa dilakukan di masa Iddah. Jika masa iddah sudah berakhir maka hak Rujuk telah hilang dan istri telah resmi menjadi orang lain. Jadi, jika pihak lelaki ingin menjadikannya lagi menjadi istri, maka hal itu dilakukan dengan akad nikah baru, mahar baru dan wali.

Atas dasar ini, jika istri yang telah meninggalkan suami selama empat tahun pada aksus yang ditanyakan itu semata-mata meninggalkan tanpa ada lafadz talak/cerai dari suami, maka tidak perlu Rujuk karena tidak ada talak dan tidak ada masa Iddah. Kondisi istri yang demikian tidak lebih disebut Nusyuz (pembangkangan), yakni maksiat dari pihak istri yang membuatnya kehilangan hak-hak istri seperti nafkah dan lain-lain. Untuk kembali menjadi istri langsung saja berkumpul dengan suami dalam satu rumah sebagaimana suami-istri normal. Istri hanya wajib meminta maaf kepada suami dan bertaubat atas maksiat besar yang dilakukannya. Namun jika perginya istri selama empat tahun itu telah didahului talak, sejak awal kepergiannya, maka pasti istri telah melewati masa Iddah, karena masa iddah itu habis dengan tiga kali suci dari haid, atau tiga bulan hijriyyah bagi wanita yang sudah menopause. Karena istri telah melewati masa iddah, berarti dia telah tercerai dengan sempurna dan menjadi wanita lain. Untuk kembali menjadi istri maka harus dilakukan akad nikah baru (bukan Rujuk) dengan mahar baru, saksi baru dan wali. Namun jika talak suami diucapkan baru-baru saja (misalnya sebulan terakhir dari empat tahun masa perginya istri), maka berarti isteri masih berada dalam masa iddah. Dengan demikian berlaku syariat Rujuk, sehingga suami jika ingin menjadikannya sebagai istri kembali dia hanya perlu melakukan Rujuk dengan tatacara yang telah dijelaskan.

Wallahua’alam.

About these ads

149 tanggapan

  1. jika waktu iddah seorang istri adalah 3 bulan,apakah suami jika ingin rujuk harus menunggu sampai 3 bulan?bagaimana jika 1 bulan setelah talak di jatuhkan apakah suami boleh rujuk dengan istrinya..?

    1. justru rujuk dilakukan sebelum masa iddah habis. jk masa iddah sdh habis, mk itu bukan dinamakan rujuk lagi, tapai akad nikah baru yang harus menghadirkan wali, saksi, dan mahar baru. Wallhua’lam

  2. assalamualaikum pak ustadz… sy pnya istri,,tp kami sama2 di perantauan tapi berbeda negara.. d sini saya selingkuh sampai trlalu jauh..istri sy tau,, km brtengkar… lalu saya berucap..”tinggalkan saja aku, krna sudah kotor,tdk pantas lg jd suami,..biarkan sja aku sendiri..” saat itu terucap sya dlm keadaan kalut dan dlm pengaruh minuman keras. selang bbrapa waktu.. istri sy memaafkan sy dan mau menerima sy kmbali karna Allah. syingin memperbaiki rumah tangga sy. beberapa hari kmudian saya lewat tlp mengutarakan keingin sy untuk menikahi istri sy lg dan dia stuju. yang jd pertanyaan sya,apakah status kami msh suami istri yang sah dlm hukum islam? karna insya Allah sbentar lg km ingin ketemu… seandainya tidak, apa yg harus kami lakukan agar sah lg jd pasutri? apakah kami perlu menikah lagi dngn menghadirkan wali,saksi, dan sebuah mahar? trima kasih sebelum nya.. kami sngat mengharapkan solusi dr pak ustadz. minta tolong d bls lwt email.. wassalam.

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah. sudah sy jawab. silakan dilihat emailnya.

      1. maaf pak ustadz..balasan dari pak ustadz saya cari di email sy blum ktemu y..mungkin dh klamaan ga buka yahoo mail.. bisa tolong di resent lagi atau ngga d bls aja lewat pertanyaan sya kmaren jg ngga apa.. terima kasih tas bantuanya.. maaf merepotkan..

      2. Wa’alaikumussalam warohmatullah.
        ucapan ”tinggalkan saja aku, krna sudah kotor,tdk pantas lg jd suami,..biarkan sja aku sendiri..” belum termasuk talak, sehingga status bapak dengan istri masih sah sebagai suami istri. jadi, tidak perlu menyelenggarakan akad nikah baru dengan mahar, saksi dan wali.
        bertaubatlah bapak dari perbuatan buruk yang pernah dilakukan dan tenpuhlah jalan yang lurus untuk masa2 yg akan datang.
        sesungguhnya seorang hamba ditimpa berbagai bencana yang kadang bertubi2 disebabkan karena dosa2 yang dilakukannya.
        wallhua’lam

      3. assalamu’alaikum pak ustadz.. trimakasih atas jawaban,petunjuk dan nasehat nya,,, mdah2an ALLOH SWT membalas kbaikan pak ustadz..amin ya robbal alamin.. dan jg makasih sudah add facebook saya,youdie…….. wassalam

      4. pak ustadz… ada pertanyaan lagi yg ingin sy utarakan, mungkin ga menyangkut topik dlm blog ini.. skrng ni saya kan ada di taiwan merantau,, di sini jauh banget masjid.. katakan lah bisa d hitung jumlah masjid d seluruh ngara ini. pertanyaan nya;
        1. apakah shalat jum’at bisa di ganti dngn shalat dhuhur karna sebab di atas? sebenarnya ingin ikut melaksanakan shalat jum’at tapi kondisi waktudan tempat yang mendukung..
        2.di musim dingin matahari d sini kan lebih cepat terbenam ,jadi waktu untuk shalat ashar lebih sedikit karna mulai masuk waktu maghrib d sini sekarang sekitar jam 17.30 an, sedangkan sy baru pulang kerja jam 17.00 , mana yang harus d lakukan pak ustadz, apakah shalat ashar nya d qodho atau di jamak, untuk menghindari kebimbangan agar lebih baikdm beribadah.. mohon petunjuk nya.
        maaf kalau saya banyak mengajukan pertanyaan.. trima kasih sebelum dan sesudah nya….. wassalam

      5. Wa’alaikumussalam warohmatullah. Iya sama-sama.
        untuk pertanyaannya:
        1.bapak dalam kondisi safar (bepergian) sehingga shalat jum’at tidak wajib. tetapi shalat dhuhur tetap wajib. Jadi cukup shalat Dhuhur tidak mengapa
        2.Musafir juga boleh menjamak shalat sekaligus mengqoshornya. jadi silakan menjamak, baik jamak Taqdim maupun jamak ta’khir.
        Wallahua’lam

      6. assalamu’alaikum…pak ustadz… makasih atas jawabanya… sangat bermanfaat jawabanya untuk sy,, insya Allah jg bermanfaat bg pembaca yg punya kondisi sperti sy… amin.. wassalam…

      7. Wa’alaikumussalam warohmatullah. Amin. semoga menjadi amal Shalih yang diterima oleh Allah.

  3. assalamu’alaikum…pak ustadz. langsung saja sy mohon bantuanny utk masalah ini.
    sy istri yg malu sekali mengecewakan suami selama 5 bln menikah ini, demi suami.. krn sy tkt kehilanganny maka sy inisiatif buat surat perjanjian yg isiny ” apabila sy mengulangi, sy bersedia di talak 3 sekaligus “. saat itu suami hanya bilang ” itu kemauan kamu.. kamu ingat baik2 apa yg kamu komitkan “. lalu kemudian hari kami bertengkar lg tp lewat sms, saat itu sy merasa tdk bersalah, tdk merasa bagian dari melanggar komit sy di surat itu pak ustadz tapi suami berkata ” hati-hati, bs jatuh talak ke kamu ” dan kl bertengkar pun suami tdk pernah melafaskan ” sy talak kamu ” atau yg sifatny tegas ustadz tp sy ragu bukan main.. krn tkt pernikahan ini tdk berkah. apakah sy sudah tertalak apabila sy yg membuat surat itu lalu melanggarny ??, dan apakah syah talak 3 sekaligus ustadz ??, terima kasih. Wa’alaikumussalam warohmatullah.

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah.
      isi perjanjian tersebut masih belum termasuk talak, juga bukan talak Mu’allaq 9talak yang digantungkan), karena redaksi ” apabila sy mengulangi, sy bersedia di talak 3 sekaligus “ hanya menunjukkan kesediaan ditindak tegas dengan talak tiga, bukan secara otomatis jatuh talak.
      ucapan suami yang berbunyi ” hati-hati, bs jatuh talak ke kamu ” juga tidak bisa disebut lafadz talak, tidak berupa ucapan tegas menjatuhkan talak.

      saran saya, lebih baik surat perjanjian tersebut dibuangn dan dimusnahkan saja, karena dengan wasilah tersebut, syetan bisa menimbulkan was-was setiap saat.
      cinta dan pengertian lebih baik daripada membuat surat perjanjian yang secara tidak langsung menciptakan suasana formal, tegang, was-was, tidak tenang. Wallahua’lam.

      1. Subhanallah, di bls ny cepat sekali.. Alhamdullilah.. terima kasih y pak ustadz dan sgt membantu., maaf sy sampe salah tulis kemarin di kalimat penutup salam sy :) , sekali lg terima kasih y pak ustadz, wassalam…

  4. Assalamualaikum wrwb,
    Pak Ustadz, saya mau bertanya : saya punya kawan sedang ada masalah dengan suaminya.Suaminya pernah berucap “saya ceraikan kamu”
    beberapa hari kemudian mereka berhubungan suami istri tanpa ada kata2 rujuk.
    bagaimanakah hukumnya, mohon penjelasannya,trimakasih.
    Wasaalam,

    ( Klo bisa jawabannya via email.)

    1. Wa’alaikumussalam warohamtullah wabarokatuh. sdh sy jawab silakan dilihat emailnya

      1. tolong juga di balas di blog ini mengenai pertanyaan di atas, yaitu suami yang mengatakan :kita cerai saja atau kita pisah saja” tetapi beberapa hari kemudian dia menyesali hanya memohon maaf dan mengajak istrinya jimak sementara kata rujuk tdk di ucapkan..

      2. permintaan jawaban lewat email biasanya kami usahakan dibalas lewat email. apalagi jika bersifat privasi.
        namun, rupanya ada pula yang minta ditampilkan karena memerlukan jawaban untuk problem serupa.
        jawaban singkatnya adl sbb;
        jika sdh ada kata talak, maka tdk cukup hanya emminta maaf untuk rujuk. tapi harus ada kata yang jelas untuk rujuk atau yg semakna seperti;
        “Aku telah Rujuk kepadamu” atau “aku mengembalikanmu sebagai istriku sebagaimana semula” atau “aku menahanmu lagi dan tidak jadi kuceraikan”
        jk rujukm blm sah lalu sudah berjimak maka keduanya berdosa dan wajib bertaubat lalu melakukan rujuk yg syar’i.
        wallahua’lam.

      3. terima kasih atas penjelasannya.

        wassalaam..

    2. Pak ustad masalah sy sama dengan pertanyaan ini, kejadianya di tahun 2010 dapat 4 bulan nikah suami sy mengucapkan “kita pisah saja”3 hari kita pisah rumah dan hari ke4 sy serumah lg ama suami dan malam itu suami hanya mengucapkan maaf lalu kmi berhub suami istri, tanpa da kata rujuk…apa berarti kami berzina sampai sekarang? Th 2012 saya melahirkan anak perempuan.lalu 17 jan 2013 kemarin suami sy marah besar dan ngucap “kita cerai” lalu di ulang lagi “kita cerai” tapi beda jam…lalu lewat sms “kita cerai” apa itu udah jatuh talak 3 ama talak yg th 2010 sebelumnya? Pdahal belum rujuk untuk talak yg 2010…mohon pencerahanya pak ustad.baalas lewat email ya pak.

      1. sudah dibalas ibu sunies pertanyaannya pada email

  5. terima kasih atas jawabannya. Saya ingin konsultasi lg Pak Ustad..bagaimana sikap seorang istri yang menghadapi suami yang kurang perhatian kepada anak dan istrinya..kebetulan suami saya bekerja di luar kota dan pulang hanya seminggu sekali, saya juga sedang bekerja dekat dengan rumah orang tua,sehingga kami msh tinggal di rumah orang tua saya dan juga karena msh ada anak sy yg masih kecil..terus terang suami saya pernah selingkuh dengan teman kantornya tetapi beda kota sampai ke tahap hubungan pasutri, dan ia mengakuinya. pada saat itu tiba-tiba dia langsung mengajak sy untuk berpisah,akan tetapi sy tetap bertahan demi anak dan keluarga besar kami, suamiku mengajak jeda untuk hub kami selama 1 bulan dengan kata lain sy diminta untuk tidak menghubunginya/berbicara karena ia ingin mengetahui apakah perasaannya kepada sy masih ada atau sdh hilang, pada saat bulan berjalan sy mendapat promosi dan berangkat ke jakarta utk pendidikan selama 4 bulan..pada bulan kedua suamiku menyusul ke jakarta untuk sekedar menjengukku,tetapi anehnya ia menyuruh saya untuk berselingkuh juga dengan teman pendidikan, akan tetapi saya menolak dan mengatakan biarlah dosamu kau tanggung sendiri dan jangan ajak sy jg untuk berzina dg laki2 lain sekedar untuk membuatmu bergairah..semenjak itu dia berubah, apalagi sepulang dari jakarta ibunya tiba2 meninggal dunia (suamiku adalah tipe anak yg sangat dimanjakan oleh ibunya karena hny 2 bersaudra,kakaknya jg laki2). Setelah selesai pendidikan, sy kembali ke rumah dan mulai introspeksi diri apa yang perlu sy perbaiki untuk tetap menjaga rmh tangga ttp utuh.sy mulai lebih perhatian kepada suami,menyediakan segala keperluannya jika pulang kerumah (sy jd seperti pengganti ibunya), lalu sy selalu sering menghubunginya walau hanya sekedar menanyakan kegiatannya dikantor, mengingatkan makan dan shalat..akan tetapi katanya dia makin tertekan dengan kebiasaanku yg sering menanyakan kegiatannya setiap hari sampai akhirnya sy tau bahwa dia sedang dekat lagi dengan pegawai baru dikantornya yg biasa pulang bersamanya setiap hari jumat (suamiku bawa mobil utk transport pulang pergi shg teman2 kantornya terkadang ikut bersamanya). sy berbicara dg wanita tersebut dan mengatakan agar menjauhi suamiku karena sy sedang hamil anak kedua..kemudian jg berbicara dg suamiku mengenai perbuatannya shg ibuku jg menjadi penengah antara kami,dan berkata kpd suamiku untuk masalah ini tinggal kami berdua yang menentukan apakh msh tetap bersama atau harus berpisah karena sdh 2 kali suamiku mengulangi perbuatannya menyakiti hatiku sampai sy jatuh sakit dan pingsan. Sy jg sdh menawarkan kpd suami bhw sy dan anak akan ikut bersamanya ke tempat kerjanya,tetapi dia tdk membolehkan krn dia jg hny kost dan ssh kehidupan sehariharinya.sy jg berupaya untuk mengajaknya agar mengurus kepindahannya ke kota sy agar bisa hidup bersama, tujuannya melatih dia menjadi kepala rumah tangga yang lbh bertanggung jawab, itu pun sia2 krn tdk ada niatnya untuk mencoba krn sdh lbh dahulu pesimis utk mengurus pindah..kemudian bulan lalu dia meminta ijin untuk ikut berlibur bersama teman2nya ke bali,akan tetapi sy tdk mengijinkannya krn mengajaknya berpikir knp tdk memiliki perasaan meninggalakan istri yg hamil tua dan anaknya sekedar untuk baginya bersenang2..semnjak itu sy mulai berubah sikap kepadanya, tidak pernah lagi menghubunginya setaip hari melalui telp,,bicara dan ketemu hny pada saat dia pulang kerumah..apakah tindakan sy sdh benar pak ustad karena selama ini sy baik tetapi harga diriku makin di injak2..sy selalu mendoakannya agar mendapat petunjuk dari Allah SWT bersikap lbh dewasa…mohon petunjuk…Assalamu alaikum WR.WB

    1. Ibu yang semoga mendapat limpahan rahmat Allah,

      Pertama; Mari melihat ke bawah

      Terkait dengan urusan dunia, sikap terbaik yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah selalu melihat ke bawah, bukan ke atas. Mendapat nikmat duniawi atau tertimpa kesusahan duniawi sikap terbaik adalah melihat ke bawah, karena jika seorang hamba mendapat nikmat lalu dia melihat ke atas, maka akan timbul ketidakpuasan dan iri hati, sementara jika mendapat kesusahan lalu melihat ke atas, maka akan timbul sikap keluh kesah dan meratapi nasib. Sikap-sikap semacam ini dicela syariat karena merupakan cermin kegagalan bersyukur dan ketidaksanggupan untuk bersikap tabah.

      Jika seorang hamba mendapat nikmat sepeda motor, maka jangan melihat orang yang punya mobil, karena hal itu akan menimbulkan ketidakpuasan atas kepemilikan sepeda motor tersebut dan sikap iri hati atau malah dengki dengan pemilik mobil. Yang lebih tepat adalah melihat orang yang berjalan kaki, yang tidak sanggup membeli sepeda motor, karena sikap ini akan menimbulkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah dengan sepeda motor tersebut.

      Jika seorang hamba diberi wajah pas-pasan, maka jangan melihat kepada orang berwajah rupawan, karena itu bisa membuat iri hati dan meratapi nasib, tetapi lihatlah kepada orang lebih buruk rupa, cacat permanen, atau ditimpa penyakit mengerikan tak tersembuhkan. Sikap ini akan menumbuhkan rasa syukur atas nikmat rupa wajah yang diberikan Allah tersebut.

      Demikian pula menghadapi suami yang kasar dan tajam lidah, lihatlah ke bawah. Lihatlah di sana bahwa diantara sekian banyak rumah tangga ada banyak para suami yang jauh lebih jahat dan kejam. Ada yang gemar meludahi istrinya, memukul, menendang, bahkan menyetrika sampai membunuh. Lebih kejam lagi setelah dibunuh masih dimutilasi dan dibakar. Boleh jadi jika ibu menjadi istri dari suami jenis itu, saat ini ibu sudah tinggal nama saja karena telah berpindah ke alam baka. Yakinlah, bahwa sejahat-jahat suami, masih ada yang lebih jahat lagi. Sejahat-jahat suami, kejahatannya tidaklah sejahat fir’aun yang menyiksa sendiri istrinya; Asiyah. Fir’aun menyiksa istrinya dengan mengikat tangan dan kakinya memakai empat tonggak, lalu memanggangnya di bawah sinar matahari, dan menindihkan batu penggilingan di atas dadanya sampai Asiyah menemui ajalnya. Seperti inilah cara bersikap yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam; melihat ke bawah, agar seorang hamba selalu bisa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah dan tidak meremehkan nikmat pemberianNya betapapun kecilnya nikmat tersebut. Imam Muslim meriwayatkan;

      صحيح مسلم (14/ 213)

      عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

      قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

      dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Pandanglah orang yang berada dibawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian, karena hal itu lebih layak membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah (H.R.Muslim)

      Kedua; mari mengingat bahwa hidup ini adalah untuk beramal

      Jangan lupa bahwa semua yang dialami, yang dirasakan, yang didapatkan dan yang hilang, semuanya itu tidak lebih hanyalah “alat’ untuk menguji amal seorang hamba. Allah menjelaskan bahwa Dia menciptakan hidup dan mati adalah untuk menguji manusia. Allah berfirman;

      {الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا } [الملك: 2]

      Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (Al-Mulk;2)

      Semua pemberian dunia dari Allah kepada seorang hamba adalah untuk dilihat bagaimana hamba tersebut beramal dengan cara yang diperintahkan Allah. Mobil, tanah, tabungan, suami, anak, kedudukan dan semua yang bersifat duniawi diberikan Allah untuk menguji apakah seorang hamba sanggup menggunakan dan semua pemberian itu untuk beramal shalih yang diridhai Allah atau tidak. Imam Muslim meriwayatkan;

      صحيح مسلم (13/ 286)

      عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ

      عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

      dari Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dunia itu manis. Dan sesungguhnya Allah telah menunjuk kalian sebagai Khalifah (dengan cara membuat kalian menguasainya) didalamnya. Kemudian Allah memperhatikan bagaimana kalian beramal (H.R.Muslim)

      Kesusahan, kesedihan, kegalauan, kesengsaraan, keperihan, ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, dll yang muncul akibat berinteraksi dengan sesama hamba juga tidak lepas dari pesan amal. Semua perasaan yang muncul akibat berinteraksi dengan sesama hamba adalah bentuk ujian untuk menguji ketabahan. Allah berfirman;

      {وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ} [الفرقان: 20]

      dan Aku jadikan sebahagian dari kalian cobaan bagi sebahagian yang lain. Bisakah kalian tabah? (Al-Furqon; 20)

      Jadi, kalaupun Ibu susah, maka ingatlah bahwa Ibu bukan satu-satunya orang yang susah di dunia ini. Jika ibu merasa tersiksa, ingatlah bahwa ibu bukan satu-satunya orang yang tersiksa di dunia ini. Jika ibu merasa menderita ingatlah bahwa ibu bukan satu-satunya orang yang menderita didunia ini apalagi paling menderita. Allah tahu semua itu. Allah mengawasi semua gerak-gerik hambaNya. Tidak ada satupun yang luput dari pengawasan Allah di bawah kolong langit ini. Sehelai daun yang jatuh dari pepohonanpun Allah Maha mengetahui.

      Ingatlah ibu, sesungguhnya di dunia ini ada jutaan orang menderita dan sengsara, tetapi tidak semuanya menjadi mulia disisi Allah.

      Seorang hamba yang beriman, bisa menyulap penderitaan menjadi kemuliaan, empedu menjadi madu, dan luka menjadi ceria.

      Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam harus dicaci, dimaki, dituduh sinting, difitnah, diusir, dan dihinakan sebelum beliau berhijrah ke madinah, dilu-elukan, dan dicintai milyaran orang dikalangan penduduk bumi. Nabi Yusuf harus dimasukkan dalam sumur oleh saudara-saudaranya, dijual sebagi budak, difitnah berzina dengan istri pejabat, dijebloskan ke dalam penjara sebelum diangkat menjadi bangsawan dan memperoleh kemuliaan Nubuwwah. Imam As-Sarokhsi dicemplungkan ke dalam sumur sebelum mengarang kitab fikihnya yang terbesar Al-Mabsuth yang terdiri dari 30 juz, Hamka dipenjara sebelum akhirnya menerbitkan karya terbesarnya tafsir Al-Azhar,dst..semuanya adalah orang-orang yang diuji dengan kesusahan dan penderitaan, tetapi sanggup melewatinya dengan cantik dan menjadi orang-orang yang mulia karena benar menyikapinya; yakni dijadikan sebagai medan amal.

      Jangan sampai kita rugi dunia akhirat. Di dunia menderita, diakhirat juga rugi. Orang-orang yang tergolong kelompok ini adalah orang-orang yang menyikapi hidup tanpa iman dan tidak menjadikan cara penyikapannya sebagai amal. Tujuan hidupnya hanya memburu kebahagiaan duniawi tanpa peduli bagaimana membangun rumahnya di akhirat.

      Pertanyaannya; Amal apakah yang bisa dilakukan seorang wanita jika kebetulan memiliki suami yang jahat? Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan ini harus diketahui terlebih dahulu hak suami atas istri menurut Allah dan RasulNya.

      Ketiga; memahami hak suami atas istri menurut syariat.

      Sesungguhnya syariat Islam menjadikan amal berbakti kepada suami sebagai amal utama bagi seorang wanita yang telah menjadi istri dan terikat dalam ikatan pernikahan. Imam Ahmad meriwayatkan;

      مسند أحمد (4/ 85)

      عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ

      قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

      dari Abdurrahman bin Auf berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang istri melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan ta’at kepada suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya; ‘Masuklah kamu ke dalam syurga dari pintu mana saja yang kamu inginkan (H.R.Ahmad)

      Dalam hadis di atas dijelaskan jika seorang wanita menunaikan hak Allah dengan melakukan Shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan dan menjaga kemaluannya, lalu menunaikan hak hamba dengan berbakti kepada suaminya, maka amal tersebut sudah cukup menjadi tiket untuk memasuki surga dari pintu manapun yang dikehendaki. Hal ini menunjukkan bahwa amal berbakti kepada suami adalah amal terbesar seorang wanita, karena hak hamba yang wajib ditunaikan wanita adalah banyak seperti hak orang tua, hak kerabat, hak tetangga, hak fakir miskin, hak anak yatim,hak kaum muslimin dll. Namun diantara sekian hak hamba yang seharusnya ditunaikan seorang wanita, pelaksanaan salah satu hak hamba yaitu hak suami untuk ditaati ternyata sudah cukup untuk menjamin wanita masuk surga setelah dia menunaikan hak-hak Allah seperti shalat dan puasa.

      Dalam hadis yang lain, Nabi juga mengajarkan kepada wanita bahwa suami adalah surga dan neraka istri. Artinya, jika seorang istri benar dalam memperlakukan suami, maka dia berhak mendapatkan surga, tetapi jika salah dalam memperlakukan suami maka dia layak dijebloskan ke dalam neraka. Imam Ahmad meriwayatkan;

      مسند أحمد (55/ 350)

      عَنْ حُصَيْنِ بْنِ مِحْصَنٍ

      أَنَّ عَمَّةً لَهُ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَاجَةٍ فَفَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا فَقَالَ لَهَا أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَأَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ قَالَ يَعْلَى فَكَيْفَ أَنْتِ لَهُ قَالَتْ مَا آلُوهُ إِلَّا مَا عَجَزْتُ عَنْهُ قَالَ انْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّهُ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

      “Dari Husain bin Mihshan bahwa bibinya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan keperluannya, beliau lalu bertanya: “Apakah kamu memiliki suami?” Dia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya lagi: “Bagaimana sikapmu terhadapnya?” dia menjawab, “Aku tidak menunda-nunda (memenuhi kebutuhannya) kecuali karena aku sudah tidak mampu lagi.” Kemudian beliau bersabda: “Lihatlah di mana posisimu darinya karena sesungguhnya dia adalah Surga dan Nerakamu.(H.R.Ahmad)

      Nabi menginformasikan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita, dan sebab yang membuat mereka masuk neraka kebanyakan adalah karena kufur terhadap suami. Bukhari meriwayatkan;

      صحيح البخاري (1/ 50)

      عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ

      قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

      Dari Ibnu ‘Abbas berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita yang kufur“. Ditanyakan: “Apakah mereka kufur terhadap Allah?” Beliau bersabda: “ (tidak tetapi) Mereka kufur terhadap suami, dan kufir terhadap kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik terhadap seseorang dari mereka sepanjang masa, lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu maka dia akan berkata: ‘aku belum pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu (H.R.Bukhari)

      Begitu besarnya hak suami, sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengumpamakan seandainya beliau diizinkan memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain niscaya beliau akan memerintahkan seorang wanita bersujud kepada suaminya. Ahmad meriwayatkan;

      مسند أحمد (25/ 199)

      عَنْ حَفْصٍ عَنْ عَمِّهِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ

      كَانَ أَهْلُ بَيْتٍ مِنْ الْأَنْصَارِ لَهُمْ جَمَلٌ يَسْنُونَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْجَمَلَ اسْتُصْعِبَ عَلَيْهِمْ فَمَنَعَهُمْ ظَهْرَهُ وَإِنَّ الْأَنْصَارَ جَاءُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا إِنَّهُ كَانَ لَنَا جَمَلٌ نُسْنِي عَلَيْهِ وَإِنَّهُ اسْتُصْعِبَ عَلَيْنَا وَمَنَعَنَا ظَهْرَهُ وَقَدْ عَطِشَ الزَّرْعُ وَالنَّخْلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ قُومُوا فَقَامُوا فَدَخَلَ الْحَائِطَ وَالْجَمَلُ فِي نَاحِيَةٍ فَمَشَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ فَقَالَتْ الْأَنْصَارُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنَّهُ قَدْ صَارَ مِثْلَ الْكَلْبِ الْكَلِبِ وَإِنَّا نَخَافُ عَلَيْكَ صَوْلَتَهُ فَقَالَ لَيْسَ عَلَيَّ مِنْهُ بَأْسٌ فَلَمَّا نَظَرَ الْجَمَلُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْبَلَ نَحْوَهُ حَتَّى خَرَّ سَاجِدًا بَيْنَ يَدَيْهِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَاصِيَتِهِ أَذَلَّ مَا كَانَتْ قَطُّ حَتَّى أَدْخَلَهُ فِي الْعَمَلِ فَقَالَ لَهُ أَصْحَابُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ بَهِيمَةٌ لَا تَعْقِلُ تَسْجُدُ لَكَ وَنَحْنُ نَعْقِلُ فَنَحْنُ أَحَقُّ أَنْ نَسْجُدَ لَكَ فَقَالَ لَا يَصْلُحُ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ وَلَوْ صَلَحَ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ مِنْ قَدَمِهِ إِلَى مَفْرِقِ رَأْسِهِ قُرْحَةً تَنْبَجِسُ بِالْقَيْحِ وَالصَّدِيدِ ثُمَّ اسْتَقْبَلَتْهُ فَلَحَسَتْهُ مَا أَدَّتْ حَقَّهُ

      “Dari Hafs dari pamannya, Anas bin Malik berkata, “Ada sebuah keluarga dari kaum anshar yang memiliki seekor unta yang mereka gunakan untuk menyiram ladang, hanya saja unta tersebut tiba-tiba merasa sulit bagi kami untuk mejinakkannya dan mengelak dari kami untuk ditunggangi, maka orang-orang anshar datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan berkata: “Wahai Nabi Allah! sesungguhnya ada seekor unta yang kami gunakan untuk menyiram ladang hanya saja tiba-tiba unta tersebut merasa sulit bagi kami untuk menjinakkannya dan mengelak dari kami untuk ditunggangi, padahal tanaman-tanaman serta pohon-pohon kurma kami dilanda kekeringan.” Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Berdirilah kalian “, lalu mereka berdiri, dan masuk ke dalam kebun sedangkan unta tersebut telah berada di sebuah tepi, maka Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam berjalan ke arahnya dan orang-orang anshar berkata: “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya unta tersebut menjadi seperti anjing yang galak dan kami takut jika dia menerjang tuan”, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Saya tidak ada masalah dengan unta ini”, dan tatkala unta tersebut melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dia berjalan ke arah beliau Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam kemudian jatuh dengan bersujud di depannya lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam menyentuh ubun-ubunnya dan menjinakkannya dengan suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga beliau Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam mempekerjakan unta tersebut. Maka para sahabat berkata kepada beliau Shallallahu’alaihi wa Sallam: wahai Rasulullah sesungguhnya binatang ini tidak memiliki akal namun dia bersujud kepada Tuan sedangkan kita adalah manusia yang berakal maka kita lebih berhak untuk bersujud kepada Tuan, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak boleh seorang manusia bersujud kepada manusia, dan jikalau boleh seorang manusia bersujud kepada manusia niscaya saya akan memerintahkan seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami terhadapnya, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya seandainya seorang suami memiliki luka dari ujung kaki hingga ujung kepala yang mengalirkan nanah atau darah kemudian sang istri menghadapinya hingga menjilatinya, maka hal itu belum memenuhi seluruh haknya kepadanya” (H.R.Ahmad)

      Nabi memuji wanita yang selalu berusaha memperoleh ridha suaminya baik dalam keadaan zalim maupun dizalimi. An-Nasai meriwayatkan;

      سنن النسائي الكبرى (5/ 361)

      عن عبد الله بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ألا أخبركم بنسائكم من أهل الجنة الودود الولود العؤود على زوجها التي إذا آذت أو أوذيت جاءت حتى تأخذ بيد زوجها ثم تقول والله لا أذوق غمضا حتى ترضى

      “Dari Abdullah bin Abbas beliau berkata; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda; Tidakkah aku beritahu kalian tentang wanita-wanita kalian yang termasuk penghuni surga? Yang penyayang, subur, dan banyak memberi manfaat kepada suaminya…yang jika menyakiti atau disakiti dia datang lalu mengambil tangan suaminya kemudian berkata; demi Allah, aku tidak bisa tidur sebelum engkau ridha” (H.R.An-Nasai)

      Sebaliknya beliau juga mencela wanita yang tidak bisa berterima kasih kepada suaminya dengan mengatakan bahwa wanita-wanita semacam itu tidak dilihat dan diperhatikan Allah. An-Nasai meriwayatkan;

      سنن النسائي الكبرى (5/ 354)

      عن عبد الله بن عمرو قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : لا ينظر الله إلى امرأة لا تشكر لزوجها وهي لا تستغني عنه

      “Dari Abdullah bin ‘Amr beliau berkata; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda; Allah tidak melihat seorang wanita yang tidak bisa berterima kasih kepada suaminya padahal dia membutuhkan suami” (H.R.An-Nasai)

      Nabi menjamin, jika seorang wanita benar dalam memperlakukan suaminya, lalu wanita tersebut mati dalam keadaan suaminya ridha kepadanya, maka wanita tersebut akan dimasukkan ke dalam surga. At-Tirmidzi meriwayatkan;

      سنن الترمذى (4/ 388)

      عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ

      قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتْ الْجَنَّةَ

      “dari Umu Salamah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wanita manapun yang meninggal dan suaminya dalam keadaan ridha (kepadanya), niscaya dia masuk surga (H.R.At-Tirmidzi).”

      Dengan besarnya hak yang dimiliki suami seperti ini maka wajarlah jika Islam memberikan hak memilih suami itu sepenuhnya kepada wanita. Siapapun tidak berhak mengintervensi pilihan suami seorang wanita, apalagi memaksanya. Jika seorang wanita menikah karena dipaksa (meski oleh orang tuanya), maka syariat memberi hak Khiyar (memilih) antara melanjutkan pernikahan atau membatalkannya. Ketidaktaatan seorang wanita kepada orangtuanya dalam hal memilih calon suami tidak tergolong kedurhakaan, dan malah jika ayah (yang menjadi wali wanita) menghalang-halangi wanita menikah dengan lelaki pilihannya maka ayah tersebut dianggap telah melakukan ‘Adhl (mempersulit pernikahan) yang diharamkan syariat, dan statusnya menjadi orang fasik yang ditolak persaksiannya dan gugur hak perwaliannya. Allah berfirman;

      {فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ} [البقرة: 232]

      Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat saling ridho di antara mereka dengan cara yang ma’ruf. (Al-Baqarah;232)

      Karena itu, dengan memahami paparan nash diatas bisa difahami bahwa hak suami adalah hak yang besar, dan amal utama seorang wanita yang telah berumah tangga adalah berbakti kepada suaminya. Seorang wanita bebas memilih siapapun yang akan jadi suaminya, tetapi jika sudah menikah dengan lelaki pilihannya, maka dia terkena tanggung jawab berbakti semaksimal mungkin kepada suaminya. Wanita sulit menyalahkan orang lain jika suami jahat yang ditemuinya adalah adalah hasil pilihannya sendiri.

      Namun, masalahnya sekarang tentu bukan menyesali pilihan, kerena pernikahan sudah terjadi dan anak-anak telah lahir. Lebih bijaksana jika memahami bahwa suami yang jahat adalah bentuk ujian, dan ujian apapun yang dihadapi pasti berada diarea yang disanggupi karena Allah tidak pernah membebani hamba kecuali sekedar kesanggupannya, dan setiap jiwa akan mendapatkan sesuai yang diusahakannya. Allah berfirman;

      { لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ} [البقرة: 286]

      Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Al_Baqarah-286)

      Selanjutnya, setelah mengetahui besarnya hak suami dan amal utama seorang wanita untuk berbakti, harus diketahui bekal utama untuk menjalankan amal tersebut yaitu; Shobr (ketabahan)

      Keempat; menghadapi dengan Shobr

      Harus difahami terlebih dahulu bahwa jahatnya pasangan tidak menunjukkan buruknya kita. Jahatnya pasangan juga tidak boleh menjadi alasan agar kita tidak menjadi shalih. Asiyah, suaminya jahat yaitu Fir’aun, tetapi Asiyah adalah wanita shalihah yang jelas dijamin masuk surga oleh Allah. Nabi Nuh istrinya Kafir, namun hal itu tidak menjadi alasan Nabi Nuh menjadi tidak shalih. Pasangan hidup tidak lebih hanya ujian hidup. Apa yang didapatkan itulah yang dihadapi.

      Memang menjadi idaman setiap wanita untuk mendapatkan suami yang shalih, yang lembut, setia, pengertian, bertutur kata halus, berimu, membimbing, bertanggungjawab dan kriteria-kriteria ideal lainnya. Namun harus diingat, saat ini kita hidup di dunia, bukan di surga. Dunia adalah negeri ujian, bukan negeri pembalasan. Karena itu sebaik-baik suami tentu tetaplah ada celah kekurangannya, dan seburuk-buruk suami tentu tetaplah ada sisi kebaikannya. Setiap kali wanita bertemu dengan kondisi tidak ideal dalam rumah tangga yang menyusahkannya akibat perlakuan suami, maka sebaik-baik sikap adalah Shobr (tabah). Kesusahan yang dihadapi dengan Shobr karena semata-mata ingin memperoleh ridha Allah, akan menghapuskan dosa dan kesalahan seorang hamba. Bukhari meriwayatkan;

      صحيح البخاري (17/ 374)

      وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

      عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

      “dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.(H.R.Bukhari)“

      Terhapusnya dosa bermakna bersihnya diri. Bersihnya diri dan kesucian jiwa akan membuat seorang hamba dicinta Rabbnya. Jika seorang hamba sudah dicintai Rabbnya maka doanya akan didengar, kebutuhannya akan dipenuhi, dilindungi dari marabahaya, dan dibela jika disakiti. Boleh jdi juga dengan kedekatan kepada Allah seorang wanita bisa membuat keajaiban, yakni menjadi perantara suaminya menjadi orang shalih sebagaimana dirinya. Kisah-kisah keajaiban dalam rumah tangga semacam ini cukup banyak di masyarakat.

      Jadi yang dilakukan bukan meratapi nasib dan menyesali diri, tetapi berbuat, beramal, dan beraksi semaksimal mungkin sebatas yang dimampui dan kapasitas yang didapatkan. Asiyah istri Firaun adalah contoh terbesar seorang wanita yang berhasil beramal dengan benar, meskipun bersuamikan orang jahat. Asiah telah berhasil melewati episode hidup di dunia ini dengan sempurna dan telah dijamin masuk surga karena dengan sikap hidupnya yang benar. Hendaknya Asiyah ini benar-benar menjadi teladan. Allah berfirman;

      {وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ} [التحريم: 11]

      dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim (At-tahrim;11).

      Namun, kadang-kadang persoalan dalam rumah tangga telah mencapai level berat sehingga sulit diselesaikan dengan baik. Karena itu Islam memberikan solusi talak. Hanya saja Allah membenci dan tidak menyukai talak meskipun memubahkannya. Talak hendaknya dijadikan solusi terakhir jika persoalan sudah tidak mungkin lagi diselesaikan dengan cara baik-baik.

      Seorang wanita hendaknya juga perlu berhati-hati dalam meminta talak, karena meminta talak dengan alasan yang tidak benar adalah haram dan pelakunya diancam tidak bisa mencium baunya surga. Imam Ahmad meriwayatkan;

      مسند أحمد (45/ 360)

      عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ

      قَالَ رَسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلَاقَ مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ

      dari Tsauban berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda; “Siapa pun wanita yang meminta talak pada suaminya tanpa alasan maka bau surga haram baginya.”(H.R.Ahmad)

      Alasan yang benar meminta Tafriq (pemisahan ikatan pernikahan oleh Hakim) yang tidak haram adalah semisal suami tidak memberi nafkah, suami gila, suami impoten, suami terkena penyakit yang berbahaya jika hidup bersama dan semisalnya. Jika sekedar kasarnya ucapan, maka hal itu belum cukup untuk membolehkan wanita meminta Tafriq. Jadi, menyikapi dengan Shobr sebagaimana direkomendasikan adalah sikap yang paling bijaksana, terlebih lagi kondisi anak yang sudah tiga, perceraian secara tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan psikologi anak. Mudah-mudahan Allah memberi Taufiq katabahan

  6. terima kasih atas tanggapannya ustadz, Insya Allah kami bisa menjadi penghuni surga..Aamiin

    1. aamiin. mudah-mudahan. iman dan amal shalih adalah kunci surga.

  7. Assalamualaikum Ustadz, Alhamdulillah saya sudah berjilbab setahun ini,akan tetapi suami saya mengatakan bahwa ia ingin merasakan sesuatu yang berbeda dengan saya (mungkin ia bosan dg saya), sehingga ia mengatakan ingin mengajak saya liburan berdua keluar kota dan menantang saya agar mau berpakaian sexy (rok mini dan kemeja yg agak terbuka kancingnya) di depan umum agar gairahnya bisa kembali seperti dulu kpd saya. Sebagai seorang istri yg harus patuh atas perintah suami,apakah hal demikian juga hrus wajib sy ikuti? sementara itu bertentangan dg kaidah berpakaian seorang muslimah…Apa yg harus sy lakukan jika mendapat permintaan seperti itu Ustadz, mohon petunjuk…terima kasih

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah.
      Alhamdulillah. saya gembira dengan peningkatan iman tersebut. semoga tetap istiqomah.
      perintah suami tidak boleh ditaati, bahkan haram ditaati. karena taat suami terikat syarat pada hal2 yang ma’ruf. hal yang haram tidak boleh ditaati.
      namun harus tetap lembut kepada suami, tidak boleh kasar.
      jadi tolaklah dengan lembut seraya memberi pengertian.

  8. Assalamu alaikum wr.wb
    Istri saya pergi dari rumah karena saya usir dalam keadaan emosi tinggi dan berlangsung sudah hampir tiga bulan ini.

    Dalam kondisi tsb kami telah melakukan hubungan suami istri atas permintaan istri dengan alasan rindu, sebelum berhubungan saya sudah mengucapkan saya mau rujuk denganmu, namun tidak dijawab olehnya. Dan hingga saat ini istri saya masih dirumah orang tuanya.

    Yang saya tanyakan :
    1. Dengan ucapan rujuk saya tapi tidak dijawab si istri, sah atau tidak?
    2. Bagaimana status istri saya masih masa iddah atau tidak?
    3. Istri tidak juga mau pulang kerumah kami, apakah jatuh talak lagi atau nusyuz?

    Terima kasih atas jawabannya.
    Fulan

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh.
      1.rujuk tdk harus dijawab istri, karena rujuk bukan akad. bahkan pengetahuan istri juga tdk diperlukan. jika bapak sdh mengucapkan; “sy telah rujuk denganmu” maka rujuk tersebut telah sah, dan boleh berhubungan badan dg istri.
      2.jk sdh dirujuk mk masa iddah sdh tdk ada lagi
      3.jk istri diperintahkan tinggal dirumah lalu membangkang, maka itu disebut nusyuz, bapak tdk dosa jk tdk meberi nafkah apapun. talak baru jatuh jika bapak mengucapkan kata talak, atau yang semakna dengan talak, misalnya mengusir dr rumah.
      Wallahua’lam.

  9. Assalammualaikum pak ustadz, saya ingin bertanya soal talak, saya pernah mengatakan “y sudah kalo mau km seperti ini,untuk malam ini aku tidur disini dan besok aku tidur dirumahku sendiri” kepada istri saya,tp lewat sms pak ustad,apakah ini termasuk talak dan apakah sah talak saya itu pak ustadz?
    tapi saat itu juga saya langsung merujuk istri saya pak ustadz tapi hanya dengan kata-kata saja,apakah sudah sah?
    kalo itu talak,apakah artinya saya sudah menggunakan 1dari 3 talak dalam hukum perkawinan itu pak ustadz?
    mohon penjelasannya….
    terimakasih sebelumnya pak ustadz.

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah. mnrt sy itu blm talak, tp hanya skdar hukuman mental. karena kata2;
      malam ini aku tidur disini dan besok aku tidur dirumahku sendiri”
      menunjukkan pisah ranjAng sementara sj.
      jd tdk perlu rujuk dan blm jatuh talak.

      kecuali memang berniat talak.
      Wallahua’lam.

  10. Alhamdulillahirobbil alamin,terima kasih banyak pak ustadz atas penjelasannya,saya lega sekali atas jawaban dari pak ustadz,saya benar2 tidak ada niatan untuk talak istri saya pak ustadz.
    semoga pak ustadz mendapatkan kebaikan/pahala kebaikan atas setiap bantuan yang pak ustadz berikan kepada kami,amim amin ya robbal alamin

    1. Amin. Walaka bimitslin..

  11. assalamualaikum wr. wb.
    saya dalam idah, saya mengajak istri untuk rujuk tapi istri menjawab untuk saat ini kita jalani hidup masing-masing insyaallah kedepan nya masih ada jodoh. tetapi istri masih bisa memberikan ciuman dan sampai beberapa kali bahkan pernah menyatakan kepada orang lain bahwa “ini suami saya”.
    apakah dengan memberikan ciuman dan mengatakan “ini suami saya” itu sudah di sebut rujuk ?

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah.

      kata2 rujuk dr suami. tdk perlu persetujuan istri, juga bukan dari pernyataan istri. suami ckp bilang; Aku rujuk padamu (apapun reaksi istri), mk saat itu sdh sah rujuk. ciuman saja tdk cukup. kata2 istri juag tdk ada artinya. harus ada kata2 yg jelas dr suami.

      1. oh begitu pak ustad, cuman orang tua nya tidak memberikan restu untuk kembali lagi bersama, maka yg saya pertanyakan bagaimana untuk menjelaskan kepada orang tua nya kalau memang sudah rujuk ?

      2. restu ortu tdk pengaruh. krn sebnarx masa iddah itu wnt msh semi milik suami.
        beri sj artiekel dlm blog ini tentang “tatacara rujuk” dan tulisan tentang “jangan merusak rumah tangga orng” juga tulisan “jangan menghalangi muslimah menikahi pria pilihannya”.
        jk menyampaikan sendiri msh blm berpengaruh, mungkin bs minta tolong seorang utadz/kyai yg disegani orangtuanya.

  12. assalamualaikum wr. wb.
    terima kasih atas saran dari pak ustad. cuma saya masih ragu untuk menjelaskan yg mana pak ustad bilang harus ada kata kata yg jelas dari suami.
    maksudnya bagaimana ?

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh.
      mksd sy kata yg jelas adalh kata2 yg bermakna rujuk, misalnya: “Aku telah rujuk kepada istriku”, “aku telah mengembalikan istriku dalam ikatan pernikahan denganku” “wahai fulanah (disebut nama istrinya) aku telah rujuk kepadamu” “wahai fulanah aku telah mengembalikanmu pada ikatan pernikahan denganku” dan lafadz2 yg semakna dengannya. ucapan rujuk bs dihadapan istri, bisa dihadapan orng lain. afdholnya disertai dua saksi agar tidak ada yg mengingkari. itu maksud ucapan yg jelas. jangan mengucapkan kata2 yg msih samar misalnya “saya mau rujuk pd istriku”, saya ingin rujuk dg istriku”, saya berencana rujuk dg istriku” “maukah kamu rujuk denganku” dll. semua ini msh belum jelas bermakna rujuk krn masih rencana. mirip seperti orng yg bilang; “Saya beli HP anda” (ini ucapan jelas dan berkonsekuensi transaksi sah) dan “saya ingin membeli HP anda” (ini msh rencana, blm ada konsekuensi transaksi sah)

      1. pak ustad, yg saya kemukakan yg sebelum nya apakah itu sudah di sebut rujuk dan syah kembali menjadi istri saya ?
        tolong minta di jelaskan iya dan tidak nya, kalau benar iya, akan saya buatkan artikel ini untuk di berikan kepada orang tua dan istri saya .

      2. ungkapan bapak yg berbunyi;
        “saya mengajak istri untuk rujuk tapi istri menjawab untuk saat ini kita jalani hidup..dst ”
        ungkapan ini mash blm jelas apakah rujuk atau sekedar menawari. rujuk itu statemen, bukan menawari. jd jika bapak mengatakan di depan istri “sy rujuk kepadamu” atau didepan orng lain : “sy rujuk kpd istriku” berarti rujuk sdh sah.

      3. terima kasih pak ustadz atas nasihat nya.
        wasalam

  13. assalamualaikum.
    pak ustad,
    dulu waktu saya sudah menikah dg mantan istri saya. dan ketika sudah berjalan beberapa bulan ada masalah keluarga, yang mungkin karena pernikahan dini saya berfikiran pendek dan memutuskan untuk cerai dg istri saya karena permasalahn antr orang tua kami. dan ketika sudah resmi cerai saya menyesali perbuatan itu dan ingin kembali dengan istri saya. untuk itu bagaimana tata caranya atau hukumnya untuk permasalah tsb? jika sudah resmi bercerai apakah bisa kembali lagi atau menikahi mantan istri saya lagi.
    Terimakasih.

    1. wa’alaikumussalam warohmatullah.
      tentu bisa bapak,
      masih bisa untuk kembali membangun rumah tangga dengan istri.
      jika waktu antara talak sampai dengan hari ini masih dalam masa iddah (artinya istri belum melewati tiga kali haid dan tiga kali suci) maka untuk kembali dengan istri cukup mengucapkan kata2 rujuk. tetapi jika waktu antara talak sampai dengan hari ini sudah melebihi masa iddah, maka bapak dengan istri harus melakukan akad nikah baru dengan wali, saksi dan mahar yang baru. Wallahua’lam.

      1. pak ustad berarti sama saja dengan menikah lagi.
        dan apabila sudah mempunyai anak trus cerai dan melebihi masa iddah itu seperti apa hukum dan saratnya untuk kembali. terimakasih

      2. tidak ada ketentuan khusus. sama persis seperti menikah lagi dengan wanita baru.
        syarat2 akad nikah;
        1.Ijab kabul
        2.wanita tidak dalam masa iddah dan halal di nikahi
        3.Ada Wali
        4.Ada saksi

        mahar disebutkan saat ijab kabul, dan wajib dibayarkan sesudah ijab kabul.

      3. terimakasih atas informasinya dan tanggapannya. semoga informasi terus bermanfaat bagi semua umat islam. amin
        semoga ilmunya barokah dan bermanfaat. amin.

      4. Amin. jazakumullah doanya.

  14. Assalamualaikum…
    Pak ustadz,
    dlu sya meningglkan istri sya slma 2thn lbih, wktu sya tinggalkan istri sya sdang mengandung 2bln,, wktu itu sya meninggalkan istri sya penyebabnya krn dia brani mngucapkan kata” kasar (binatang” yg diharamkan dlm agama islam) yg menurut sya itu memang tidak pantas untuk d ucapkan seorang istri kpd suami, tpi yang bikin saya bner” sakit hati ada kata” sperti ini dri istri sya pak ustadz : “kalo saya disuruh milih antara suami, ortu, temen, saya ttep bkalan lbih mmilih temen drpd hrus mmilih suami sendiri dan ortu”, jujur saya wktu itu sakit hati banget pak ustadz stlah istri sya brkata sprit itu, sehingga wktu itu sya lgsg pergi dr rmah tanpa spatah katapun dan tak pernah menghubungi atau menemui istri sya lagi slma 2thn lbih, sya juga tdak pernah menjatuhkan talak kpd istri sya,,, smpe sy dnger kabar dr ortu klo istri sya mau mlhirkan sya ttep keras tdk mau plang untuk menemui & menemani istri saya mlhirkan, tapi skrg sya sdah sdar kalo mnusia itu tdak ada yang sempurna pasti semua mmpunyai kslahan trmsuk sya sndiri,, hingga akhirnya sya mau menemui istri saya lagi untuk meminta maaf krn sdah meninggalkan dia & anak sya sndri slma 2thn lbih, dan istri sya pun skrg sdah memaafkan saya bgtupun jg saya sdah bnr” memaafkan istri saya,,, skrg kami berdua ingin memperbaiki lagi hubungan kami dngan alasan : kami ingin menebus dosa yang telah kami perbuat kpd allah, juga kpd anak kami yg jadi korban dr keegoisan kami berdua, trus sbnrnya kami berdua juga msih saling menyayangi..
    yang jadi pertanyaannya :
    1. Kalo mnurut islam, apa kami msih sah sbg suami istri atau memang kami sdah resmi bercerai???
    2. Kalo misalkan scra islam kami sdah resmi bercerai, apa kami bisa kembali lagi dan syaratnya apa saja pak ????
    Terima kasih.

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah.
      Alhamdulillah.
      1.Jika bapak tdk pernah mengucapkan talak, maka meski berpisah 20,30, 40 tahun maka tetap sah jadi suami istri.
      2.tdk ada syarat apapun. jika sudah saling memaafkan maka urusan selesai. dosa bapak adl tidak menafkahi, mengurus anak dll selama masa berpisah. untuk dosa kepada istri krn sudah dimaafkan, maka sudah selesai. untuk menyia2kan hak anak, maka beristighfarlah sebanyak2nya dan meminta kepada Allah agar senantiasa ditambahi petunjuk.
      semoga kedepannya rumahtangganya selalu tenang, tentram dan penuh berkah.
      hendak2nya bapak dan istri banyak2 mendekat kepada Allah.
      Wallahua’lam.

      1. pak ustadz terimakasih untuk informasi dan tanggapannya,,,,
        semoga ilmu bpk barokah dan bermanfaat bagi smua,,,, amiiiiin

      2. Amin. Jazakumullah doanya.

  15. Ass. Pak ustad saya mau tya, suami saya kalo ribut pernah ucap talak, seingat saya 3x sdh dy mentalak saya, dan untuk rujuk haruskah kami mnikah lg ? Masa iddah dr d talak hingga rujuk tanpa harus nikah lg brp lama pak ustad? Tapi mnurut suami cm 2x shingga tidak perlu nikah lagi. Bagaimana mnrt pak ustad ? Apakah kami harus mnikah lagi?

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah.
      Jika suami sudah mentalak 3, berarti sudah talak bain kubro. artinya, Ibu sari tidak bisa menikah lagi dengan suami sebelum ibu menikah dengan lelaki lain sampai berhubungan suami istri (tidak hanya akad nikah). kemudian lelaki lain ini menceraikan ibu, dan setelah masa iddah ibu bisa dinikahi lagi dengan suami pertama.
      tapi pernikahan itu tidak boleh pernikahan sandiwara. pernikahan itu harus benar2 pernikahan sesungguhnya dan jika dicerai juga dicerai sesungguhnya.

      jika ada perbedaan pendapat antara suami dg ibu, maka dikembalikan pada saksi2 talak tersebut. jika saksi mengatakan 3 kali, berarti telah jatuh talak tiga. jika saksi mengatakan dua berarti talak jatuh dua.

      jika saksi tidak ada, maka yg diambil pendapat suami, krn suamilah yang mengeluarkan talak, jadi dia yg paling tahu apa yang diucapkannya.

      sejak detik pertama suami mengucapkan kata talak, maka saat itu juga istri mengalami masa iddah. lamanya adalah tiga kali suci dari haid.

      jika di masa iddah ini suami ingin kembali, maka cukup dengan ucapan rujuk misalnya mengatakan: Aku rujuk kepadamu.

      jika sudah melewati masa iddah, dan suami tidak pernah mengucapkan kata rujuk, maka istri tercerai dengan talak bain sehingga jika ingin kembali mereka berdua harus melakuakn akad nikah lagi dengan wali, saksi dan mahar baru.

      Wallahua’lam.

      1. Assmlkum..
        Sblmnya terimakasih byk pak ustad atas jawabannya. Saya ingin bertanya lg, apakah kalimat suami “ya sudah kita cerai saja” dan “saya mau cerai” tanpa didasari niat, termasuk kalimat yg menjatuhkan talak jg pada istri? Terimakasih pak atas jawabbannya..

      2. Wa’alaikumussalam warohmatullah.
        kalimat “ya sudah kita cerai saja” cukup jelas menunjukkan talak. jadi talak jatuh.

        tapi kalimat “saya mau cerai” masih menunjukkan rencana, belum ucapan cerai, jadi belum jatuh talak.

        niat atau tidak jika sudah ada kalimat “saya menceraikanmu”, atau “kita cerai”, “kamu kutalak” “talakku telah jatuh” dan yang semakna dengannya maka talak telah jatuh.

        mari ibu bersama2 membaca hadis ini;

        سنن أبى داود – م (2/ 225)

        عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ ».

        “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga perkara, seriusnya dihukumi serius dan candanya (tetap) dihukumi serius, yaitu; nikah, talak, dan Rujuk (H.R.Abu Dawud).”

        dalam hadis di atas cukup jelas, bercanda mentalak hukumnya tetap jatuh talak.
        karena itu, hal ini menunjukkan niat talak atau tidak niat talak semuanya tidak mempengaruhi, karena bercanda maknanya tidk berniat talak, namun nabi tetap menghukuminya jatuh talak.

        jadi, hendaknya para suami berhati2 dg kata talak.
        Wallahua’lam.

  16. Assalmualaikum ustat, jika kita mengatakan kita bercarai saja kalau kamu ga mau d atur, apa k ini suda jatu talak ? Persoalanya istri saya suka meminjam uang koprasi dan saya melarangnya tp dia tetap melakukanya tanpa sepengetahuan saya saya bermaksud menakuti dia

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah, mengancam talak bisa membuat jatuh talak.
      bapak bisa membaca artikel dalam tautan berikut;

      http://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/04/27/hukum-talak-muallaq-talak-tergantung/

      untuk mendidik, lebih baiik tidak memakai kata talak. bisa dengan tindakan yg lebih mengikuti ajaran Al-Quran dan hadis, misalnya pisah rancang, tidak diajak bicara selama sebulan, tidak dinafkahi, dll.
      Wallahua’lam.

  17. Assalamu’alaikum, saya mau rujuk sama istri saya yang sdh cerai selama 33hari, tp istri saya dia tidak mau, bagaimana caranya ustad? sekarang dia tinggal jauh dari saya

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah. dalam hukum islam, jika seorang wanita ditalak maka dia harus menjalani masa iddah dan tinggal di rumah suami dengan nafkah suami. tidak boleh langsung pisah2an.
      jika wanita keluar dari rumah suami pdhl msh dlm amsa iddah, dia berdosa.

      untuk rujuk, ridha istri tidak mempengaruhi keabsahan. jika suami sudah mengucapkan kata rujuk, maka sahlah rujuknya. baik istri ridha maupun tidak. tahu maupun tdk.

  18. assalamu’alaikum pak ustadz..
    saya seorang istri yang sudag menikah 3 tahun,,saya dan suami saya dalam 3 minggu ini bertengkar,tiap kami bertengkar sering mengucapkan kata2 akan ninggalin saya dan juga mengucapkan kita pisah saja kalau tidak mau ikut suami,yang ingin saya tanyakan :
    1.apakah ucapan suami saya sudah termasuk talak.
    2.apakah kami harus nikah lagi atau kami hanya rujuk,
    3.dua hri yang lalu saya dijemput suami krmh ortu saya dan kami melakukan hubungan suami istri,apakah kai sudah melakukan zina
    mohon pencerahannya pak…sebelumnya saya ucapkan terima kasih

    1. wa’alaikumussalam warohmatullah.
      jika cerita itu memang benar, mk dlm pandangan sy itu belum talak. krn masih rencana dan ancaman talak, belum talak yg sesungguhnya. jadi hubungan suami istri ibu dg beliau halal, bukan zina.
      tp sarankan suami agar mempelajari hukum2 talak. krn talak itu tdk boleh dibuat main2. kata nabi, talak itu serius atau canda tetap dihukumi jatuh.
      Wallahua’lam.

  19. Assalamualaikum.wr.wb
    Saya seorang istri, saya sudah di talak secara hukum dan kembali rujuk setelah 3bln rujuk, saya pulang ke rmh ortu krn merasa tdk dperhatikan oleh suami, tp saya baru menyadari suami sperti itu krn kewajiban saya sbgai seorg istri kurang baik dan saya ingin kembali untk memperbaiki kesalahan saya namun suami sudah tdk mau lg dgn saya krn tkut saya pergi lg dr rmh dan berkata ” mending ga usah punya istri” pa itu jatu talak? Bagaimana saya harus bersikap? Tlong penjelasannya! Terimakasih
    Wassalam

    1. Assalamualaikum.wr.wb
      Tlong dbls secepatnya, terimaksh!
      Wassalam

    2. Wa’alaikumussalam warohmatullah.
      ucapan “” mending ga usah punya istri” masih belum bisa ditafsiri talak.
      sikap yg saya sarankan:tetap berusaha bersatulah. jk suami memang benar2 sudah tdk mau lagi, mintalah talak dengan tegas, agar status ibu juga jelas.

  20. Assalamualaikum ustadz……. Dulu saya dan istri pernah bertengkar hebat….. dan istri saya sampai mau pergi ke rumah kakaknya, karena saya takut pertengkaran ini diketahui kakaknya dan terjadi ikut campurnya orang luar terhadap masalah kami saya sempat mengancam istri dan berkata ” kalau sampai kamu keluar dari rumah ini … jangan kembali lagi, kalo kamu kembali maka saya yg akan pergi….” istri saya tetap pergi meninggalkan rumah kira kira 100 meter saya kejar dan saya ajak kembali pulang.
    Bagaimana hukumnya perkataan saya tersebut ustadz….? apakah perkataan seperti itu terhitung talak…? terima kasih atas pencerahannya.

    1. wa’alaikumussalam warohmatullah.
      tergantung niat bapak. jika niat bapak hanya mengancam, mk tdk jatuh talak. jika niatnya mentalak dengan ancaman, maka jatuh talak, krn itu termasuk talak mu’allaq. yakni talak dg syarat/ancaman yg dihukumi jatuh jika ancamannya dilanggar. Wallahua’lam.

  21. Saya ingin konsultasi masalah rumah tangga saya pak ustadz.saya sudah menikah 7 tahun dengan istri. Kami sudah dikaruniai 2 orang anak. Saya mengakui saya dulu kurang memberi nafkah ke istri dan kurang perhatian. Saya terkadang suka memaksa istri berhubungan, karena istri selalu menolak. Istri saya bekerja, dan ternyata dia selingkuh dengan teman kerjanya.istri saya sudah mengaku selingkuh dengan laki2 lain dan sudah zina dengan pacarnya. Dan istri saya mengatakan tidak cinta lagi sama saya dan minta dicerai, karena sedih dan emosi saya mentalak istri didepan pacarnya dan pacarnya berkata siap menikahi istri. Saya sedih karena selama ini saya tidak pernah selingkuh walaupun banyak yg menggoda. Setelah kejadian itu saya bener2 bertobat dan mendekatkan diri pada allah yg selama ini saya tinggalkan. Setelah kejadian itu kami masih tinggal serumah, selang 2 hari saya mengatakan rujuk sma istri karena saya masih cinta dan mau menerima dia kembali, selain itu karena anak2 dan orangtua. Tapi istri menolak dan masih jalan sama pacarnya, saya sakit hati dan anak2 saya bawa kerumah orangtua. Hari itu istri kerja, dan pulang malam karena pergi sama pacarnya, saya tau dr temannya dan pengakuan istri. Ketika pulang dia marah2 anak2 saya bawa dan dia memutuskan pergi dari rumah karena alasan itu. Dia ngontrak sendiri, saya ga taj dimana dan keluarga dia jg ga tau dimana. Keluarganya sudah menasihati untuk pulang tp dia menolak dengan alasan ingin menyendiri dan tenang. Barang2 dari rumah sudah dia ambil dan saya ijinkan. Saya masih menjalin silaturhmi dengan sms dan telpon tp ga ada jawaban. Setelah lama menungu akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman beda pulau. Dan diapun sudah sya beritahu, dia datang membawa pakaian untuk anak2. Saat itu saya jg masi mengajaknya untuk pulang kerumah atau ikut saya ke pulau lain dia tetep menolak. Sekarang saya sudah berpisah jauh dengan istri selama sebulan, dan ,asih tanpa kabar dari dia. Saya sudah shalat istikharah dan mendapat mimpi yg berbeda2 tp saya tetep ingin menunggu istri saya, karena saya sadar kesalahan saya. Saya ingin tanya apa yg harus saya lakukan pak ustadz, dan bagaimana baiknya pernikahan kami. Saya ga mau menceraikan istri, biar dia yg menuntut cerai. Sampai sekarang saya masi transfer nafkah ke dia. Dia mengatakan akan menuntut cerai ke saya, dan saya dengar dr temennya kalo mereka mau nikah siri padahal kami beljm resmi cerai. Sekarang istri masi masa idah, tp dia sama sekali belum haid karena masih menyusui. Dia jg mengaku sebelum anak kdua kami lahir jg pernah selingkuh dan zina. Saya ingin tanya jg, bagaimana hak asuh anak jika kami nanti benar bercerai.

    1. jika sudah ada kata2 rujuk, berarti wanita tsb sah jd istri bapak. jk beliau tdk mau menaati bapak, berarti berdosa.
      tabahlah dan teruslah berdoa, krn sy berharap doa suami akan makbul jika untuk kebaikan istri.
      pertahankanlah rumah tangga sebisa2nya krn ini menyangkut banyak hal, terutama masa depan anak.

      doa perlu waktu. kata imam Syafi’il, doa bagaikan anak panah. jangan diremehkan. anak panah untuk mencapai sasaran perlu waktu. tapi suatu saat pasti akan mengenai.
      apalagi ada jaminan dlm Al-Quran akan dikabulkan.

      kalaupun ada surat cerai dari pengadilan, maka selama bapak tdk pernah mengucapkan kata talak lagi setelah rujuk, maka surat itu tdk ada nilainya.
      selamanya istri berzina jk suami blm sah mencerai.

      jk terjadi perceraian-naudzubillah min dzalik- maka tanggungjawab nafkah anak tetap pada ayah. terkait pengasuhan, anak yg masih kecil jk istri menginginkan maka hak (mantan) istri untuk mengasuh, sampai anak mumayyiz (bisa mmebedakan).
      Wallhua’lam

  22. Aslmkm. Pa hukumnya mngucapkan rujuk lewat tlpn pa sah gak

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah. Sah2 saja rujuk lewat tlp. demikian pula sms, email, surat dan yamng semakna dengannya. Wallahua’lam.

  23. Assalamualaikum ustadz, saya mau bertanya barusan saya bertengkar dengan istri lewat telephon tanpa sadar saya ucapkan kata ” kita pisah saja” beberapa menit kemudian saya minta maaf karena telah berucap demikian. apakah itu termasuk talak? saya berada diluar kota. apa bisa saya rujuk meskipun berjauhan? terima kasih ustadz.

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah. benar itu sudah jatuh talak satu. rujuk berjauhan bisa saja, karena rujuk tdk harus bertemu istri. silakan dibaca lagi artikelnya tentang tata cara rujuk.

      1. terima kasih untuk pencerahanya ustadz.

      2. assalamualaikum,,,
        maaf sebelumnya pak ustad, saya mau tanya ,,
        tp sebelumnya saya cerita dulu, saya baru menikah 2 minggu, saya dan suami saya tinggal d kota yg berbeda, sehingga komunikasi hanya bisa lewat tlpon, semalam kami bertengkar pak, saya sangat kecewa dan marah terhadap suami saya, sehingga saya minta cerai, tapi suami saya mengabaikan ucapan saya, suami saya masih mengalihkan pembicaraan lain, tapi saya masih marah dan minta d ceraikan pada saat itu juga, dengan emosi suami saya menjawab, baiklah akan saya urus cerainya.. nah apa hukumnya perkataan dari suami saya itu pak ? apa sudah jatuh talak ke saya ?
        sedangkan saya juga lagi dalam keadaan haid,,
        makasih sebelumnya pak ustad,,,

      3. wa’alaikumussalam warohmatullah. sepertinya pertanyaan ini sudah saya jawab ya, entah di email atau sms. jika belum silakan konfirmasi

  24. Ass pak ustad, thn 2004 sy menikah secara sah memiliki Surat Dan sbgnya ternyata Surat itu Palsu krn suami sy telah memiliki istri sblmnya lalu blm agustus kmrn sy diceraikan lwt SMS Oleh suaminya…1bln stlh sy bertemu suami disebuah bioskop saat itu sy pergi dng Teman laki2 sy, lalu dia marah2 pd sy Dan Teman sy lalu blng Bahwa sy adalah istrinya…apakah itu dinamakan sdh rujuk, krn saat ini mantan suami terus2 mengejar sy krn menurut dia sy msh istrinya pdhl saat ini dia jg punya istri Dan anak Mhn pencerahannya pak ustad makasih

    1. wa’alaikumussalam warohmatullah. jika ibu masih di masa iddah, lalu mantan suami mengatakan ibu masih istrinya maka itu rujuk yang sah. tetapi jika sudah lewat masa iddah, maka itu bukan rujuk yang sah.

      sy nasihatkan kepada ibu;
      alangkah indahnya jika ibu berkenan bertekad menjadi muslimah yang selalu berusaha shalihah.
      pergi ke bioskop dengan lelaki bukan suami bukanlah kebaikan dan menjauhi upaya menjaga kehormatan, ibu. jadi hentikanlah ibu. pergilah ke pengajian2.
      semoga ALlah memberi taufik kebaikan.

  25. ass,saya mau bertanya,tapi saya mau cerita dulu,begini, saya bercerai dgn istri saya talak satu,sdh berjalan satu tahun,tapi saya ingin kembali kpd istri saya,berarti saya hrs nikah kembali,tapi saya sempat melakukan hubungan badan dgn dia sampai hamil,kemudian saya menikah dlm keadaan dia hamil tadi!yg saya tanyakan apa hukumnya hubungan badan saya tadi dan apakah sah pernikahan saya tadi?mohon penjelasannya terima kasih.

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah..bertaubatlah bapak. hubungan badan dg wanita yang bukan istri adalah perzinaan, dan itu dosa bahkan dosa besar..pernikahan dalam keadaan hamil adalah pernikahan fasid (rusak) jadi harus diulang setelah selesaia melahirkan. dan sebelum melahirkan tidak boleh digauli. Wallahua’lam.

  26. Ass. pak Ustad saya mau bertanya ttg masalah saya. saya dan suami sudah bercerai melalui pengadilan agama. namun mantan suami saya tidak/belum mengucapkan talak.hanya menyetujui permintaan saya untuk bercerai.disini saya yg mengajukan permohonan cerai. jika kami ingin rujuk apakah harus kepengadilan agama lagi? jika tidak bisakah kami menikah hanya disaksikan anak2 kami saja.mohon jawaban secepatnya. kami bercerai satu tahun yg lalu.terimakasih bayak atas bantuannya .wass

    1. Wa’alaikumussalam. Ibu sudah bercerai, jadi jika ingin kembali harus emngulang pernikahan, bukan dengan tata cara rujuk. Untuk emnikah lagi, tidak harus ke pengadilan agama. Cukup hadirkan wali ibu, saksi2 dan mahar baru. ke KUA atau pengadilan agama itu hanyalah untuk kepentingana dministratif saja. Wallahua’lam.

      1. assalamualaykum…. maaf pak ustadz, mau tanya tapi diluar tema:
        bolehkah orang yg sedang puasa disuntik? trimakasih atas penjelasannya.

      2. Suntik,infus,transfusi memasukkan obat melalui telinga,mulut,mata dan yg semisal membatalkan puasa..argumennya adalah:

        Sesungguhnya orang yang berwudlu dalam kondisi tidak berpuasa, disunnahkan untuk melakukan istinsyaq (air dihirup sampai ke pangkal hidung dan masuk ke kerongkongan) dengan sungguh-sungguh ( مبالغة ). Akan tetapi, dalam kondisi berpuasa jika dia melakukan Istinsyaq dengan sungguh-sungguh maka hal tersebut membatalkan puasa. Dalilnya adalah:

        عَنْ لَقِيطِ بْنِ صَبِرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَالِغْ فِى الاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ صَائِمًا ».(أبو داود(

        Dari Laqith ibnu Shobiroh berkata: Rasulullah Saw. brsabda: bersungguh-sungguhlah Engkau dalam ber Istinsyak kecuali jika engkau dalam keadaan berpuasa (HR. Abu Dawud)

        Termasuk yang semakna dengan ini dalam hal membatalkan puasa adalah memasukkan air atau obat atau sejenisnya ke hidung, mata, telinga, atau lubang manapun dalam tubuh yang berjumlah sembilan (dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, lubang mulut,qubul, dan dubur) dengan sengaja. Karena didasarkan pada mafhum hadits di atas (riwayat Abu dawud).

        Akan tetapi bagi hal-hal yang sulit dihindari, maka hal tersebut dima’fu (tidak membatalkan puasa), misalnya menelan ludah, ingus, air mata. Dengan catatan masih berada di dalam tubuh. Namun, jika telah dikeluarkan lalu dimasukkan kembali maka hal tersebut membatalkan puasa. Termasuk yang dima’fu pula adalah mencicipi makanan, lalu dimuntahkan (tidak ditelan). Misal bagi ibu-ibu yang sedang memasak, boleh mencicipi rasa masakannya asalkan dimuntahkan.

        Suntik, infus,menerima transfusi darah dan semisalnya termasuk membatalkan puasa karena semakna dengan hal ini juga yaitu memasukkan sesuatu ke dalam tubuh dengan sengaja.lebih dari itu, secara fakta infus, suntik, dan transfusi darah juga memberikan nutrisi terhadap tubuh yang ini semakna dengan makan/minum.

        Wallahu a’lam.

  27. Assalammua’laikum Wr Wb Pak Ustad,
    Saya mau tanya tentang pernikahan saya, saya seorang bapak dari dua anak yang berusia 9 thn dan 6 thn. pernikahan saya sudah berjalan 13 thn..baru-baru ini, di bulan ramadhan saya marah besar kepada istri saya. saya sempat mengatakan kepada istri” tunggu sampai habis hari raya (idul fitri) saya akan menceraikan kamu!” dan saat itu juga istri saya masih juga tidak menghiraukan saya, sampai saya mengatakan lagi ” akan ku ceraikan kau!” sambil menujuk telujuk dihadapannya dan ” akan ku ceraikan kau!” itu sampai 3X saya sebutkan…
    dan sebelumnya saya sempat membanting barang disekitar saya hingga akhirnya saya mengucapkan kata-kata trsbt..

    setelah 2 jam atas kejadian tersebut saya sangat menyesal,dan terjadi disaat dibulan ramadhan..dan saya telah meminta maaf padanya..dan memohon ampunan pada yang kuasa..

    Atas kejadian ini pertanyaan saya, Apakah saya telah menjatuhkan talak kepadanya ?

    Mohon bimbingannya dan pencerahannya Ustad
    Terima Kasih Atas waktu dan perhatian
    Wa’alaikumsalam Wr Wb

    Adi

    1. Wa’alaikumsalam Wr Wb. kata “akan” menunjukkan masih rencana. jadi belum jatuh talak.
      setelah ini berhati2lah ya bapak, krn talak itu jika telah diucapkan, bercanda ataupun serius semuanya dihukumi jatuh.

      1. Alhamdulillah, Dan terima kasih untuk penceraha dan bimbingannya Pak Ustadz

  28. Assalammua’laikum Wr Wb Pak Ustad

    saya ingin bertanya., saya sudah pisah ranjang dengan suami saya selama 5 bulan karena perselisihan rumah tangga dan sekarang suami saya ingin rujuk kembali dengan saya dan meminta saya untuk kembali bersama, memang tidak ada kata yang pasti dan jelas dari suami saya untuk mentalak atau menceraikan saya hanya kata “terserah jika ingin pergi dan jika kamu ingin bercerai silahkan istri yang mengajukan karena suami tidak mau mengajukan perceraian ke pengadilan” apa dengan kata itu termasuk talak dan bagaimana solusinya untuk rujuk kembali?

    terimakasih

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh. jika ibu menanggapi dengan kata2 yg maknanya; “iya saya setuju berpisah denganmu”. maka saat itu juga jatuh talak suami, sehingga dlm waktu lima bulan, jik ibu sudah 3 kali suci dr haid, berarti ibu telah tercerai sempurna. krn tercerai sempurna,maka jika mau kembali, ibu hrs nikah lagi dg mahar baru, saksi dan wali.
      tetapi jk saat itu ibu hanya diam saja, tdk menaggapi, dan selama 5 bulan juga hanya diam, maka ibu dan suami msh pasutri yang sah, sehingga tdk perlu ada rujuk dan tdk perlu nikah lagi. langsung saja kumpul dan tinggal bersama.
      Wallahua’lam.

  29. Assalammualaikum wr WB pak ustad
    saya nk brtaya suami sya pernah berckap dia tidak Ada hati LG dgn saya Dan bosan,tpi dia melakukn hubungan suami isteri dengn saya.apakah yg dia ckp itu bleh jatuh talk Dan ape hukumnya kami bersama

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh.
      belum termasuk talak. jadi statusnya masih suami istri yg sah. Wallahua’lam.

  30. Assalammua’laikum Wr Wb Pak Ustad

    Saya ingin bertanya : saya pernah bertengkar, saya pernah berkata saya akan meninggalkan kamu selamanya, sudah kejadian itu saya mau pergi ke jakarta, waktu itu saya tinggal dipekanbaru – riau, tapi saya tidak jadi pergi ke Jakarta dikarenakan istri saya menahannya, saya sebenarnya mau merubah nasib dijakarta, dan saya menerangkan ke istri dan dapat dipahami dan dimengerti, pergilah saya ke jakarta, saya selalu berkomunikasi setiap hari dan tidak ada lagi pertengkaran, alhamdullilah saya dapat kerja dijakarta, tapi istri saya tidak mau tinggal di jakarta, dia minta status atau cerai tapi saya tidak mau dikarenakan anak-anak masih kecil, sampai sekarang saya belum memberikan status cerai sudah kurang lebih 2 tahun. sebenarnya sekarang saya mau rujuk lagi demi anak-anak tapi istri saya tidak mau, apakah saya harus menceraikan atau bagaimana, atas perhatian dan bantuan untuk mencari solusi terbaik bagi saya, terima kasih, wassalam.

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh.
      Sekuat tenaga pertahankan rumah tangga. Jk bpk merasa bersalah
      mintalah maaf. Berikan nafkah, uruslah anak dan istri sebaik2nya.
      Pergaulilah mrk dengan baik. Kerja merantau boleh, tp istri juga punya
      hak. Minimal 4 bulan sekali harus dikunjungi untuk mendapatkan nafkah
      batin dan kejiwaan. Istri menolak mungkin mrs msh digantung statusnya,
      krn itu perjelaslah dengan status pernikahan yg jelas. Wallahua’lam

  31. asslm, saya mau bertanya saat ini saya telah bercerai dengan suami(gugat cerai) mempunyai 2anak dan menikah lagi dengan orang lain tapi baru 5 bln menikah, bnyk konflik dlm keluarga n suami yg skrg menceraikan saya talak 1 n 3bln tdk memberi nafkah n tdk pulang krn pekerjaan, namun akhir2 ini mnt rujuk lg n mantan suami minta rujuk jg…
    slma 2bln ini saya bnyk berfikir n keluarga saya n keluarga mantan mnt kami rujuk lagi krn anak n saya jg msh ada rasa sayang dgn mantan
    klo saya mw rujuk lg dgn mantan, apa yg harus saya lakukan dengan pernikahan saya yg skrg?
    mohon bantuannya

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah. Hitunglah berapa lama jatuhnya talak suami yg sekarang. Jika sudah melewati masa iddah, maka ibu sudah terlepas dari beliau sehingga bisa menikah dg suami pertama. Jk belum selesai masa iddah dan suami sekarang ingin rujuk maka itu hak beliau.

  32. Assalamu’alaikum pak Ustadz!

    Sdkt crt dl pak ustadz,
    Pd bln puasa kmrn,kami bertengkar dan istri saya memaki2 saya habis2an,1 mgg sblm kami bertengkar istri saya bicara pd bpk dan kakak saya untk minta diceraikan!
    Pagi hr stlh kami bertengkar,istri saya kabur dr kos pd saat saya kerja,dia meninggalkan surat yg isinya minta cerai!
    5 hr stlh dia kabur krmh ortunya,saya dtg menemuinya dg tjn tdk smp bercerai!Tp,dlm musyawarah antara saya,istri saya,dan kedua ortunya,tetap saya malah di maki2 bhkan ortu saya jg ikt di maki2,sehingga saya jatuhkan talak pd istri saya!
    Pertanyaan saya:
    1.Apkh hukumnya bagi saya saat mengabulkan tuntutan talak istri saya?Apakah saya termasuk suami fasik?Pdhl saya sdh berusaha mempertahankan rmh tngga demi ank saya,tp dia ttp mnt cerai!
    2.Dia minta uang kado dr hasil pernikahan,serta gaji waktu dia kerja sktr 5 bln(pd awal kita nikah) di kembalikan!Pdhl uang it juga di pakai untuk kebutuhan hidup brsama,sdgkn saya jg kerja trs dr sblm nikah smp sekarang!Apakah uang tsbt wajib saya kembalikan?
    3.Smp detik ini,uang susu jajan ank saya ttp saya penuhi,apakah saya juga hrs ttp menafkahi istri saya?
    4.Berulang kali saya mengajaknya rujuk,karena saya tdk ingin keluarga saya berantakan,dampaknya ke anak jg tdk baik!Tp ttp blm ada jawaban mengiyakan ats ajakan rujuk saya!
    Solusinya bgmn pak Ustadz?

    Sebelumnya,terima kasih atas jawabanya,dan maaf ceritanya terlalu panjang!

    Assalamu’alaikum,……

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh.
      Jk benar ceritanya seperti itu maka;
      1.Tidak fasik, krn menjatuhkan talak bukan maksiat. Tp seandainya tdk mnjatuhkan talak, mk itu lbh baik.
      2.uang kado, biasanya diberikan untuk mempelai berdua. Jd jk diminta, mk wnt tsb hanya berhak separuhnya. Uang gaji istri jk telah digunakan tuk kebutuhan rumah tangga oleh istri secara sukarela, maka itu termasuk hibah dan tidak bisa ditarik kembali. Kecuali saat memberikan, istri bilangnya menghutangi. Jika jelas ucapannya : “saya menghutangi engkau wahai suamiku” atau yg semakna dengan ini, maka bapak wajib mengembalikan.
      3.semanjak talak dijatuhkan, istri masih wajib tinggal dikos (maksudnya; tempat tinggal bapak) selama masa iddah (3 kali suci). Di masa itu, bapak wajib menafkahi. Jika istri membangkang tdk mau tinggal di kos, maka tdk ada kewajiban nafkah.
      Di masa iddah itu, bapak berhak merujuknya. Jk sudah habis masa iddah, tdk bisa merujuk lagi, dan jika ingin bersatu kembali mk harus ada akad nikah baru dengan mahar baru, saksi dan wali.
      4.untuk rujuk, tdk harus persetujuan istri. Begitu bapak bilang “sy rujuk kepada engkau” di hadapan istri dengan dua orng saksi adil, atau mengatakan “saya rujuk dg istriku” dihadapan dua saksi adil maka sahlah rujuk tsb dan bapak menjadi suami istri lagi seperti sedia kala.

  33. Terima kasih atas jawaban pak ustadz,semoga Allah meridhoi niat baik saya untuk tetap berkeluarga,sekalipun saya tau istri saya bukanlah org yg patuh thdp suami,moga Allah membimbing kami menuju jalan lurus yg di Ridhoi-NYA,Amin!

    Assalamu’alaikum warohmah,…….

    1. aaminn. Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh.

  34. Assalamualaikum wr.wb.
    Salam kenal Pak Ustad
    Saya memiliki banyak masalah dengan pernikahan saya, dan saya ingin curhat sekaligus meminta solusi kepada Bapak
    Pada awalnya saya menikah dengan istri karena sebuah dosa yang terbongkar oleh orang tua. Kemudian kami dinikahkan secara resmi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kami. Pada saat saya dinikahkan saya sudah tidak bekerja karena resign dari kantor, dan tidak ada persiapan untuk menghadapi hari2 setelah berkeluarga. Dengan kondisi seperti itu kami sering sekali bertengkar masalah ekonomi, masalah orang ketiga, dan lain-lain. Saya juga bersikap sangat keterlaluan karena selalu memukul istri disaat emosi. Hingga pada suatu hari disaat istri sedang hamil kami bertengkar dan saya sungguh2 khilaf telah menendang kandungan istri (hingga saat ini saya sangat menyesali semuanya). Akhirnya istri saya dijemput oleh orang tuanya dan saya dicacimaki, tapi saya telah meminta maaf walaupun tidak dihiraukan. Saya disuruh cerai dari istri saya setelah kejadian itu, namun hingga saat ini setelah 1tahun berlalu tidak ada panggilan sidang cerai dari PA.
    Sekarang anak sudah lahir dan sebentar lg genap berumur 1 tahun tapi kami masih terpisah, saya sangat merasa menyesal dan kehilangan anak istri. Saya sudah sering meminta maaf kepada istri dan memohon rujuk, namun istri saya tidak bisa menjawab karena orantuanya tidak merestui hubungan kami lagi.
    Beberapa hari yg lalu saya beranikan diri utk mendatangi orangtuanya dan memohon ampun, namun tetap saja kami disuruh cerai. Saya sangat bersedih sekali dengan keadaan ini dan membuat saya frustasi.
    Melalui tulisan ini saya sangat berharap Bapak dapat memberikan solusi untuk saya agar saya dapat kembali hidup bersama anak dan istri saya.
    Terimakasih saya ucapkan sebelumnya
    Wassalamualaikum wr. wb.

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh .

      Semua tergantung wanita. Jk wanita bs diyakinkan bs aman dan bahagia hidup bersama bapak, maka proses selanjutnya akan lebih mudah.
      Jadi yakinkan dulu wanita tsb.
      Setelah meyakinkan wanita, baru berjuang meyakinkan keluarganya.
      Semua proses ini akan mudah jk bapak serius bertaubat dan bertekad berubah menjdi manusia shalih.
      Jaga shalat lima waktu. Rajin ikut pengajian. Baca buku2 agama, dan bergaullah dg orng2 shalih.

      Bapak sudah tdk bs rujuk lg, krn waktunya sudah setahun lebih.
      Jd jika kembali lagi, istilahnya bhukan rujuk, tp nikah baru dg mahar baru, wali dan saksi. Wallahua’lam

  35. Assalamualaikum..saya mau tanya pak Ustadz..saya kemarin bertegkar hebat dengan istri saya..dan saya bertanya kepada istri saya seperti ini “Kamu mau apa tidak aku cerai?”..yang mau saya tanyakan apakah pertanyaan saya kepada istri saya tersebut sudah termasuk ucapan talak???..waktu itu saya dalam keadaan emosi dan bapak dan ibu saya juga menyaksikan kejadian tersebut???

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah. jk masih pertanyaan, mk itu belum dihitung cerai. Wallahua’lam.

  36. assalamualaikum

    pak semalam suami saya menceraikan saya lewat sms tapi dengan keadaan saya sedang haid..
    apakah itu sudah jatuh talak ??
    dan suami saya juga meminta rujuk kembali kepada saya tadi pagi lewat sms
    apakah itu sudah di namakan rujuk ??

    tolong penjelasannya ustad
    terimakasih
    wasalamualaikum

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh.
      Mentalak istri dlm keadaan haid adl haram. Talak tersebut dinamakan talak Bid’ah. Pelakunya berdosa. Tapi tetap dihukumi jatuh. Meminta rujuk bukan rujuk. Dikatakan rujuk sah jika suami membawa dua saksi kemudian berkata di depan mereka (baik diketahui istri ataupun tidak) “aku telah merujuk istriku kembali menjadi istriku” atau kata2 yg semakna dengan ini. Wallahua’lam

  37. Assalamu’alaikum ustadz.. saya sering bertengkar hebat dgn istri saya dan setiap bertengkar ia selalu minta diceraikan… sy sering menjawab, “kalu kamu mau cerai ya bilang dulunsama orang tuamu terus silahkan diurus kalau kamu mau… kalau aku sih g mau cerai…” apakah itu sdh jatuh talak? Nah terakhir kemarin, karena emosi yg sdh memuncak, sy capek tidak makan seharian, mikir hutang, mikir kerjaan… pada saat bertengkar hebat (setiap bertengkar omongan istri sy selalu kasar) akhirnya sy ucapkan cerai didepan anak2… setelah membaca artikel ini sy yakin ini sdh jatuh talak 1.. yg mau sy tanya, kalau kasus yg pertama (minta cerai) itu sdh jatuh talak sedangkan sy tdk berniat dan blm mengetahui ilmu tentang talak ini apakah bisa utk tdk dikategorikan talak? Dan utk kasus kedua, apabila sy rujuk tanpa saksi apakah tetap sah? Krn sy ingin menjaga perasaan istri sy. Mohon jawabannya ustadz. Terima kasih. Wassalamu’alaikum wr wb.

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah.
      Ucapan bapak “kalau aku sih g mau cerai” menegaskan bahwa talak tidak pernah jatuh betapapun istri menginginkannya.
      Rujuk tanpa saksi sah tapi tdk baik. Afdholnya tetap pakai saksi krn demikianlah perintah Allah dlm alquran. Yakinlah bhw setiap perintah Allah pasti ada hikmah tersembunyi. Wallahua’lam

  38. Assalamualaikum,,,ustadz, jika suami isteri bertengkar, isteri mengatakan akan melakukan suatu hal, lalu suami marah akan ucapan isterinya tsb,dan suami mengatakan “jika kamu melakukan hal itu,saya ceraikan kamu”,,apakah itu sudah jatuh talak?mohon jawabannya ustadz,saya sangat kepikiran

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah.
      Itu yg dinamakan talak mu’allaq (talak tergantung). Selama istri tdk melanggar larangan suami mk tdk jatuh talak. Begitu detik istri melanggar ancaman suami, maka saat itu pula jatuh talak. Silakan baca artikel saya yg berjudul talak mu’allaq untuk pendalaman. Wallahua’lam

  39. Saya sdh cerai dgn istri sdh 4 thun, dan punya 1 org anak, sekarang kami sering komunikasi mslh anak, lalu krna byk komunikasi kami sepakat utk balik lagi (nikah). Namun dri pihak org tua sy tidak stuju. Bagaimana sy hrs bersikap, apakah sy hrus mengusahakan (memaksakan) nikah demi anak, atau hrus mengikuti orang tua, krna sy tau bahwa smuanya tindakan seorg anak harus jg mndpt restu ortu.. Mohon utk solusi Pak ustadz, blsn jika berkenan di email ke: ……(sensor)
    Trmkshh

    1. Ibnu taimiyah dalam majmu fatawa mngatakan bhw orng tua tdk berhak memaksa putranya menikah dg wanita tertentu. Beliau memberi perumpamaan: orng saja tdk bisa dipaksa memakan makanan yg tdk disukainya, apalagi istri yg direncanakan hidup bersama sampai akhir hayat.
      Krn itu, terus memperjuangkan tdk apa2. Tdk termasuk durhaka. Cuma caranya jangan kasar. Lakukan dg cara yg lembut dan teguh. Insya Allah lama2 melunak.
      Kontak paman2, bibi, sepupu, keponakan, kakek, nenek, tetangga, tokoh msyarakat dll agar mrk semua menjadi pendukung.
      Jk orng tua memiliki kesalihan yg bagus, mk saya menganjurkan untuk menuruti orngtua. Namun jk ortu lebih dominan perimbangan duniawi, maka sy tdk menganjurkan mengikutinya. Wallahua’lam

  40. Suami sya pergi meninggalkan saya sudah satu tahun tp dya tidak pernah mengatakan talak atau cerai.skrng dya ingin kembali kpada sya.bgaimna cranya.apa hrus nikah lagi atau gmn
    sedangkan orng tua saya tidak ingin suami kembali lagi
    tlong solusinya

    1. Jk tdk pernah mengucapkan talak, mk tdk perlu rujuk dan tdk perlu nikah lagi. Langsung saja berkumpul seperti suami istri biasa. Wallahua’lam

  41. Beberapa hari lalu saya dan suami saya bertengkar hebat. Dia marah besar karena saya selalu mempertanyakan tentang perselingkuhannya yang notabene dia sudah hentikan, sudah meminta maaf, sudah meninggalkan selingkuhannya itu. Tapi sakit hati saya membuat saya selalu penasaran sampai sejauh mana perselingkuhan yang dia lakukan. Tiap saya membahas itu, dia marah besar. Sampai beberapa hari lalu ketika sedang emosi dia mengatakan “ok, kita bahas ini setelah itu kita pisah”. Apakah itu sudah termasuk talak pak ustad? mohon pencerahannya. Tks

    1. Melihat konteksnya, kata”pisah” suami memang bermakna talak. Jd jatuh talak. Wallahua’lam. Tp pastikan dulu apa memang maksud dan niat suami dg kata pisah itu adl cerai?

      1. Welvi .Banjarmasin

        Yg utk kasus talak saya yg paling awal 3 tahun yg lalu pak ustadz, ternyata saya mengiyakan permintaan talak istri saya beberapa kali pak ustadz…..yg beberapa kali itu diawal pak ustadz.. dimana waktu istri saya ngamuk ngamuk minta cerai sama saya yg cerainya gak saya gubris dan tanggapi…krn say memang tidak mau mencerai dia krn dia nya lagi emosi aja dlm benak saya..akhirnya dia bilang kalau saya tidak mau menceraikan dia..dia mau ngurus sendiri…dia mau gugat cerai saya..dia melempar buku nikah kemuka saya..sambil ngamuk ngamuk…kemudian istri mau meninggalkan rumah pas menjelang maghrib mau urus cerai sendiri ke KUA pakai jalan kaki lagi dianya, dia sudah kayak orang kesetanan…saya coba nahan dia..cuman dia kayak orang gila tetap mau keluar…dia juga mukul mukul saya….jd kami bergumul..dia ngamuk banget..sambil teriak teriak…dia bilang pokoknya saya harus iyakan dulu permintaan cerainya baru ..iyakan bilangnya…dia mukul saya..sadar sadar saya bilang..cuman dia masih kayak orang stress dan minta saya iyakan dulu..pokonya iyakan dulu katanya…sambil mukul mukul saya pak ustadz…kayak orang gila sudah pokoknya pak ustadz, ..kemudian saya juga bingung gmn lagi ini caranya buat bikin dia tenang…krn saya masukin ke dlm rumah dianya keluar lagi..saya mau kunci dirumah takutnya dia mau bunuh diri..dia sudah gak sadar lagi keliatannya…pokoknya sudah tidak dapat saya kendalikan lagi istri sayanya pak ustadz…dipikirannya hanyalah cerai dan cerai dari saya..mungkin dia sudah kayak liat hantu kalau liat saya..dan dibenaknya wajib hukumnya mendapat kata iya dari saya….shg saya dgn kalut dan sangat terpaksa mengiyakan..iyaaa!!..iyaaa..!! .saya bilang…nanti bareng sama saya saja ke ngurus cerainya..kamu masuk rumah dulu..kalau kamu sendiri bisa kenapa napa nanti dijalan….ini benar benar jalan saya terakhir untuk menenangkannya pada saat itu..tidak ada jalan lain …kalau tidak saya iyakan juga pada saat itu saya benar benar khawatir kalau istri saya keluar sendirian bisa celaka apakah di perkosa atau bunuh diri ..dan hal hal yg membahayakan lainnya….saya juga ikut ikutan bingung dan kalut dipikiran saya gak ada jalan lain selain mengiyakan permintaan talak…cuman saya sebenarnya tidak mau dan tidak ada niat..semata mata karena dipaksa istri saya yg mungkin sudah kayak orang kesetanan itu…daripada terjadi sesuatu yg mungkin lebih buruk untuk istri saya…baru pas saya terpaksa bilang iya itu..istri saya mulai dapat dikontrol dan keaadarnnya sdh mulai kembali……Nah pak ustad untuk status talak saya yg benar benar dipaksa oleh istri ini dan harus bilang iya ini..apakah tetap jatuh atau tidak…..krn memang sedang dalam kondisi benar benar terpaksa oleh istri saya…gak ada jalan lain dibenak saya pada waktu itu..krn kondisi istri saya sudah kayak orang gila..

      2. Welvi .Banjarmasin

        Assalaamu’alaikum..saya dapat jawaban dari seorang ustadz bahwa talak saya tetap jatuh..krn ancaman bukan buat diri si pentalak, yg mudhorot bukan si sisuami…melainkan dari istri buat istri

  42. Apakah apabila seorang suami mengatakan akan meninggalkan istri apabila dalam waktu 2 bulan tidak mau pindah kerja dan ikut suaminya pindah keluar kota sudah jatuh talak satu? Mohon pencerahannya, terima kasih

    1. tergantung niat suami. Jika kata2 meninggalkan itu diniatkan cerai, maka jatuh talak mu’allaq. JIka tdk ada niat, maka hanya bermakna menakut2i sj. Wallahua’lam

  43. Apakah sudah jatuh talak apabila seorang suami mengatakan akan meninggalkan istrinya dalam waktu 2 bulan jika tidak mau pindah kerja dan mengikuti suami ke luar kota? Mohon pencerahannya,terima kasih

    1. tergantung niat suami. Jika kata2 meninggalkan itu diniatkan cerai, maka jatuh talak mu’allaq. Jk tdk ada niat, maka hanya bermakna menakut2i sj. Wallahua’lam

  44. Assalaamu’alaikum pak ustadz yg semoga senantiasa di rahmati Allah SWT.
    Maaf pak ustadz saya ada ngulang pertanyaan saya yg lewat telpon dulu, walaupun sudah dijawab pak ustadz, cuman takut ingatan saya dan ada was was, saya pengen konfirmasi lagi jawaban ustadz,

    Ini untuk kasus talak mu’allaq saya dulu pak ustadz yah yg jatuh tgl 01 Nopember 2013

    Ceritanya:

    Pada tanggal selasa malam tgl 21 januari 2014 (saat ini saya masih belum tau bahwa ada talak mu’allak saya yang jatuh pada tanggal 01 Nopember 2013), saya dan istri saya bertengkar dimana ujung ujungnya saya menawarkan kepada istri saya, apabila dia minta cerai saya ikhlas menceraikan dia, alhamdulillah dia nya tidak mengiyakan dan dia bilang kalau memang saya mau pisah/menceraikan dia, silahkan saya urus ke pengadilan agama. saya tidak mau pisah dengan istri saya, saya cuman nawarin aja. Namun karena saya khawatir bahwa tawaran talak yg tgl 21 jan 2014 ini jatuh talak, maka pada saat itu saya bilang kepada istri saya bahwa saya rujuk dia dan dia mengiyakan (saya dan istri masih sama sama jahil dalam bidang agama pak ustadz, takut kalau tawaran saya ini ternyata menyebabkan jatuh talak).

    Jadi pada kasus ini setelah saya konsultasi dengan pak ustadz alhamdulillah tidak ada talak yang jatuh, terus setelah saya tau hal dimaksud saya infokan istri saya dan infokan juga bahwa rujuk kemaren itu bukan berarti saya talak dia, cuman krn takut kalau jatuh talak atas tawaran talak saya yg dia serahkan kembali kepada saya serta yg kemudian oleh saya juga tidak menceraikan dia krn saya memang cuma tawarkan talak kepada istri saya .

    Pada tanggal 29 januari 2014, setelah saya dapat info dari beberapa ustadz dan juga ustadz sendiri bahwa talak saya mu’allak jatuh yakni apabila dia tidak berhenti kerja pada saat kontrak dia berakhir maka dia saya talak, nah kontrak kerja istri saya berakhir yg informasinya setelah saya konfirmasi ke bos nya tmt 01 Nopember 2013, di tgl ini istri saya sudah tidak terhitung karyawan kontrak dan sudah diangkat menjadi pegawai tetap dan namun istri saya pun taunya diangkat sbg pegawai tetap bukan tgl 01 nop 2013 melainkan tgl 6 Nop 2013 krn SK nya baru hari itu diserahkan,
    Pada pagi hari tgl 29 januari 2014 pagi saya langsung menelpon istri saya (saya di makassar dan istri saya di banjarmasin) bahwa saya rujuk kembali dia terkait talak mu’allak saya yang jatuh pada tanggal 01 nopember 2013 (kondisi istri saya masih haidh yang ketiga cuman ada sedikit yg buat ragu cuman dia bilang masih ada plek coklat, krn saat itu sebelum haidh ketiga ini dia ada minum pil kb sehingga dalam 1 bulan ada 2 peroide haidh dan utk haidh ketiganya ini, hari awal haidh darahnya seperti darah luka baru beberapa hari kemudian seperti darah haidh masih plek lendir kecoklatan) dan info istri saya seingat dia sejak 1 Nopember 2013 sampai dengan 29 januari 2014 ini dia baru haidh yg ketiga kali, sore menjelang maghrib pada tgl 29 januari 2014 dia mandi suci, krn cuman sisa lender katanya.
    Nah pak ustadz yang semoga senatiasa dirahmati Allah, yang ingin saya tanyakan disini adalah sbb:

    Pertanyaan:
    Rujuk saya yg mana yg sah untuk talak mu’allaq yg jatuh tgl 01 Nopember 2013 apakah yang:

    A. Rujuk saya secara lisan yg tgl 21 jan 2014 (rujuk karena kekhawatiran saya kalau ternyata tawaran talak saya yg tidak diiyakan istri td merupakan jatuh talak, yang ternyata alhamdulillah tidak jatuh talak utk kejadian pada tanggal 21 jan 2014), walaupun saya sendiri tidak mengetahui ternyata ada saya talak yang jatuh atas istri tgl 01 Nopember 2013 dan tidak ada niat untuk merujuk talak muallak dimaksud (krn saya beranggapan tidak ada talak saya yg jatuh atas istri saya), dan di tgl 21 Januari 2014 ini insyaAllah istri masih menjalani suci dari haidh yg kedua, krn info pak ustadz jeda antara haidh itu minimal 15 Hari

    ATAUKAH

    B. Rujuk yg tanggal 29 Januari 2014 itu lah rujuk yang sah atas talak mu’allak saya yang jatuh pada tanggal 01 Nopember 2013. Tgl 29 Januari 2014 ini istri saya posisi haidh yg ketiga Cuma dia masih bingung membedakan darahnya krn jeda haidh kedua dengan haidh ketiga terlalu cepat, mungkin krn pengaruh obat KB.

    Informasi siklus haidh: 1 Nopember 2013 insyaAllah istri saya suci

    Periode masa haidh ke dua : dari Akhir desember 2013 s.d kira kira 11 jan 2014 haidh lg 12 s.d 13 jan 2014 siang suci dari haidh, disini istri saya menkomsumsi pil kb

    Periode masa haidh ke tiga: 14 s.d 29 januari 2014 sore haidh lg dgn kondisi diawal awal haidh darah yg seperti luka dan disambung dengan darah yg menurut istri saya itu mirip darah haidh sampai tgl 29 januari sore, 29 januari 2014 pagi istri saya saya rujuk dia bilang masih ada plek coklat(karena saya br tau cara rujuk yg benar), 29 januari 2014 menjelang maghrib dia mandi suci krn katanya cuman sisa lendir

    Demikian pertanyaan dari saya, mohon konfirmasi ulang dari ustadz, maaf kalau sering nanya, krn ada sedikit was was terkait hal ini ustadz,

    Wassalaamu’alaikum wr wb

    1. Assalaamu’alaikum ustad, saya mau tanya terkait rujuk ini juga saya was was, waktu kasus talak 1 saya 3 tahun yg lalu..seingat saya dgn bilang ke istri kira2 bahwa “kamu masih istri ku yg sah” atau “kita masih suami istri” atau “yank, kamu masih istriku” cuman krn dia tidak menjawab pernyataan saya dan diam saja, trus saya bilang “iya khan” saya pikir dia tidak mau, kemudian dia ngangguk, niat ngomong kamu masih istri saya memang utk mengembalikan dia menjadi istri, cuman saya ada was2 takutnya rujuk saya gak sah, takutnya redaksionalnya spt ini “kamu masih istri aq khan” atau “kita masih suami istri sah khan”. Saya lebih yakin yg redaksional awal rujuk. Cuman saya was was dan seperti yg pernah saya bilang ke pak ustadz saya jahil masalah ini. Bagaimana ini ustadz, dari welvi Banjarmasin

  45. bagus dan kembangkai
    n lag

  46. trims banyak ustd

  47. Assalamualaikum pak ustad mohon bantuannya

    tahun 2007 yang lalu , suami saya berkata “kalau kamu keluar dari rumah ini saya tidak mengakui kamu lagi dan saya tetap pergi keluar rumah untuk bekerja .
    pada saat itu kami berdua tidak tahu makna kalimat itu…… saya pun tetap pergi karena saya harus bekerja saat itu. setelah tiba dikantor saya meminta maaf lewat sms, dan suami saya pun memaafkan saya .
    setelah itu kami tetap bersama seperti sebelumnya tapi tanpa ada kata ‘ aku rujuk kau kembali menjadi istriku” karena kami tidak tahu bahwa ucapan itu adalah talak.
    sampai suatu hari kejadian serupa menimpa sepupu say yg sedang bertengkar dan dia berkata pada istrinya ” kalau kamu keluar dari rumah ini kamu bukan istri saya lagi” ….dan anggota kluarga yg lain menahan istri sepupu saya agar tidak pergi karena menurut kluarga jika pergi maka jatuhlah talaknya.

    saat itu saya kaget , teringat akan ucapa suami saya yg sudah saya sebutkan diatas.yg ingin saya tanyakan
    1. apakah ucapan suami saya memang sudah termasuk talak?
    2. suami sudah memaafkan saya hari itu juga ….dan kami kembali bersama tanpa kata rujuk (karena kami tidak tahu) , apakah kami msh terikat dalam perkawinan ?

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah.
      1.benar, masuk talak mu’allaq.
      2.tdk terikat perkawinan. Hrs ada rujuk. Jk sdh lewat waktu rujuk hrs nikah ulang. Wallahua’lam

  48. Assalamualaikum ustadz

    ustadz apakah rujuk harus dengan ucapan ?

    2007 yang lalu , suami saya berkata ” jika kamu keluar dari pintu ini aku tidak mengakui kamu lagi ”
    saat itu kami berdua tidak tahu bahwa ucapan tersebut sudah termasuk talak.
    karena itu saya tetap pergi karena saya harus kerja .
    pulang kerja saya langsung meminta maaf dan suami sudah memaafkan saya dan menganggap saya istrinya seperti dulu. saat itu tidak ada kata rujuk karena kami tidak tau …. kami lanjutkan pernikahan kami seperti biasanya dengan melakukan hubungan suami istri.

    saya baca disumber lain bahwa rujuk tidak harus dengan lafadz , jika sudah bersetubuh selama masih dalam masa iddah itu boleh , dan sah rujuknya .

    satu lagi pak ustadz , apakah dengan berbicara ” mas kmu jahat kamu ga nganggep saya lagi sbagai istri, trus sang suami menjawab karena sedang kessal dan marah sm istri “iya …stengahnya karena kmu juga ga nganggep saya” tapi suami saat mengucapkan itu sama sekali tidak bermaksud menjatuhkan talak.
    saya pernah baca juga bahwa itu termasuk khinayah kalau tidak ada niat untuk menjatuhkan talak maka tidak jatuh apakah benar pak ustad ?

    saya tunggu jawaban secepatnya. ini menganggu pikirn saya slama 1 minggu terakhir . terimakasih

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah.
      1.rujuk hrs dengan ucapan. Pendapat yg mengatakan ckp bersetubuh sdh bermakna rujuk sdh sy jelaskan kelemahannya dlm artikel tata cara rujuk. Monggo dibaca lagi dengan tenang.
      2.iya, itu tidk jatuh talak, krn suami tdk meniatkan talak. Wallahua’lam

  49. assalamualaikum pak ustad, saya mau bertanya, saya bingung , suami saya orgnya emosian bgt, dia juga ga paham tentang ilmu agama, dan setiap bertengkar besar dia sering bilang cerai, tp kl emosinya udh reda dan kl aku bilang “yah km td bilang cerai ke aku, kl kita mau bersatu lg, km harus merujuk aku lg” dan selalu dia bilang “guekan ngomongnya lg emosi, Allah juga tau laah , jadi gak sah talaknya ” karna dia udh sering bgt ngomong cerainya aku suka kasi penjelasan kalo dosa mainin kata cerai ,tp dia malah ga percaya sm yg aku bilang , dia malah ngomong “guekan udh bilang kl gue ngomongnya lg emosi, jd ga perlu ada rujukrujukan, kl lo mau ijab kabul lg, ijab kabul aja ama org, ” trs katanya “kalo lo kekeh kaya gitu, ya lo aja gugat gue k pengadilan “, aku binguuuuuuung bgt pak ustad, mertuaku jg baik bgt sm aku, dan kl aku aduin kelakuan anaknya, mertuaku jg suka bilang ‘ udh kalo dia ngomong gitu ga usah ditanggepin, namanya jg org emosi, udh km yg sabar ya ngadepin dia’ , aku jd bingung, mereka ga faham” kl aku kasi penjelasan, kl org tuaku sih udh hawatir, itu bagaimana hukumnya ya menghadapi org yg awam ilmu agamanya, kelihatannya juga mertuaku ga ingin aku bercerai dgn anaknya, krn cm aku yg sabar sm dia, suamiku hatinya seperti tertutup sesuatu, ga ada yg bisa nasehatin , org tuanya saja sering d caci maki, di katain macem macem..sy sedih bgt, trs ada ga ya doa doa agar dapat meluluhkan hatinya yg keras dan kasar, mslhnya sy jg udh punya anak msh 11 bln :(

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah.
      Justru talak itu umumnya muncul krn emosi, dan itulah yg dihukumi jatuh dlm islam. Tdk ada atau sangat jarang sekali ada lelaki mentalak sambil tersenyum manis atau dengan lembut mendayu.
      Awas dan jangan remehkan. Jk sdh jatuh talak, maka haram berhubungan dan menyentuh dg syahwat. Jk dilanggar mk dihukumi disa dan bs jatuh dlm perzinaan selamanya. Wallahua’lam
      Untuk doa, berdoa dlm bhs indonesia gpp. Yang penting sungguh2 dan rutin dilakukan. Wallahua’lam

    2. Wa’alaikumussalam Warohmatullah.
      Justru talak itu umumnya muncul krn emosi, dan itulah yg dihukumi jatuh dlm islam. Tdk ada atau sangat jarang sekali ada lelaki mentalak sambil tersenyum manis atau dengan lembut mendayu.
      Awas dan jangan remehkan. Jk sdh jatuh talak, maka haram berhubungan dan menyentuh dg syahwat. Jk dilanggar mk dihukumi dosa dan bs jatuh dlm perzinaan selamanya. Wallahua’lam
      Untuk doa, berdoa dlm bhs indonesia gpp. Yang penting sungguh2 dan rutin dilakukan. Wallahua’lam

      1. kalo org yg mengucapkan dangkal ilmu agamanya gimana ?dia ga ngerti hukum talak ? apa perlu d coba untuk di bimbing terlebih dahulu ?mohon jawabannya ustad …

      2. tetap jatuh. lelaki sblm nikah wajib belajar hukum2 tentang talak.

      3. Menyambung pertanyaan diatas berarti kalau berhubungan dengan istri yg sudah tertalak haram..knp haram pak ustadz…bagaimana misal kayak kasus diatas yg mungkin sang lelaki mengucapkan cerai lg atas istri namun untuk cerai yg awal tidak ada rujuk..apakah jumlah talak yg jatuh bertambah??

      4. haram, krn status istrinya muthollaqoh (wanita tertalak), bukan zaujah (istri) sempurna. krn itulah ada mekanisme rujuk untuk menghalalkan lagi hubungan. Jk mentalak lagi sblm rujuk, maka talak tsb juga tetap jatuh sehingga jumlah talaknya bertambah. Wallahua’lam.

      5. Tambahan pertanyaan..dalam kasus krn kejahilan pasangan suami istri dlm masalah agama..yg mana mungkin status pernikahannya sudah bubar dihadapan Allah..namun krn mereka tidak tau, dan menganggap waktu itu msh sah sbg suami istri..dan mereka masih melakukan hubungan suami istri…..hingga pada suatu saat mereka sudah tahu terkait ketentuan hukumnya dan mereka bertobat… nah apakah hubungan suami istri dilakukan yg krn ketidaktahuan atau ketidak sengajaan dulu itu dihukumi zina dan harus di kenakan hukuman rajam pak ustadz..

      6. talaknya tetap jatuh, tapi hubungan krn ketiadaktahuan tdk dihukumi zina, dan bukan dosa. hubungan seperti itu yg diistilahkan dlm istilah fikih Wath-u Asy-Syubhah (setubuh krn samar). Wallahua’lam.

      7. Jadi hubungan suami istri yg dilakukan oleh pasangan yg sdh tercerai dimata Allah tidak dianggap zina selama itu dilakukan krn ketidaktahuan atau ketidaksengajaan walaupun gara gara jahil ilmu agama pak ustadz…apakah hal ini juga berlaku utk utk pasangan yg telah talak 3…krn mungkin tidak ngerti aturan talak. Namun setelah tau aturan nya…mereka menghentikan hal tsb dan mematuhi hukum Allah yg berlaku krn sudah tahu…

      8. Jadi hubungan suami istri yg dilakukan oleh pasangan yg sdh tercerai dimata Allah tidak dianggap zina selama itu dilakukan krn ketidaktahuan atau ketidaksengajaan walaupun gara gara jahil ilmu agama pak ustadz…apakah hal ini juga berlaku utk utk pasangan yg telah talak 3…krn mungkin tidak ngerti aturan talak sehingga tidak menyadari bahwa mereka sdh talak 3 ternyata Namun setelah tau aturan nya…mereka menghentikan hal tsb dan mematuhi hukum Allah yg berlaku krn sudah tahu…

      9. iya sama juga dg kasus talak tiga. Mudah2an dimaafkan krn ketidaktahuan tersebut. Wallahua’lam.

    3. Terimakasih atas jwban pak ustadz…oh iya saya tanya lg cuman d luar tema….bagaimana cara membayar kafarat sumpah…teknisnya…kayak memberi makan brp kali sehari…2 kali atau tiga kali..trus misal kita langsung beri jatah buat 2 kali langsung gak siang dan malam ngasihnya boleh gak..atau memberi pakaian yg bagaimana…trus misalkan kalau kita belikan makan di warung karena kita kdg makan d rumah kadang d warung..cuman dgn harga yg juga insyaAllah krg lebih atau bahkan lebih dari hrg yg kita biasa makan…mohon penjelasannya pak ustadz yah…trus kalau kita kasih ke panti asuhan itu bagaimana..boleh atau tidak…

  50. assalamualaikum pak ustad
    maaf pak mungkin sedikit panjang ceritanya biar saya jelas..
    jadi saya merasa ragu apakah telah terjadi talak atau tidak terhadap istri saya….sebelumnya rumah tangga kami baik2 saja dan mempunyai anak 1 umur 4thn,,dan istri ikut saya merantau bekerja,baru dapat 1bln ikut saya dia dapat panggilan kerja jg dkampungnya tinggal bersama orang tuanya,dengan berat hati saya mengizinkannya,,,dapat 1 bulan istri bekerja sikap istri bnyak berubah,,ditelp gx diangkat di sms jarang di balas,,,skalinya diangkat atau balas sms sikapnya dingin,,,ada perasaan curiga dll,,tp saya tepis smuanya krn saya tau bener istri saya mungkin kecapek an jg dia bekerja,,,selang seminggu akhirnya istri angkat telp dan agak sedikit ketus ucapannya,,karna emosi saya matikan telp nya lalu sms dia dengan kata kotor,,”‘anjinglah ketus banget,,lalu dia balas sms saya” gak usah anjing2 ya….tambah lagi emosi saya memuncak lalu saya sms lagi”kenapa gak suka??kalo mau minta cerai ngomong aja,,saya ceraikan…
    maksud saya dalam sms saya itu mengajukan penawaran bukan niat cerai,,,andaipun itu terjadi talaq,saya bner2 menyesal bukan main dan ingin rujuk kembali,,,namun istri telah menganggap talaq telah jatuh,,,yg saya bingung istri benar2 minta cerai dan tidak mau rujuk kembali,,,walaupun saya bersumpah tidak akan pernah terulang lagi dan meminta maaf kepada orang tuanya dan berucap rujuk…hampir tiap hari saya meminta rujuk,,tapi istri tetap pendiriannya…akhirnya saya pergi lagi merantau bekerja,,dan berharap istri berubah pikirannya,saya berfikir mgkin istri perlu tenang karna dia emosi jg,,15 hari kemudian saya pulang lg dan mengajak rujuk kembali,,dengan niat tulus,,karna memang saya masih cinta dan masa depan anak jg,,,tapi istri bner2 minta cerai,,akhirnya saya capek hati juga akhirnya kami sepakat,,,saya bilang ke istri kalau memang kamu sudah gak cinta lagi dan benar2 ingin pisah,,y sudah gugat saja aku,,kalo aku gak bisa krn aku masih cinta,,namun istri menyanggupinya untuk menggugat secepatnya saya…15 hari kemudiannya lagi saya pulang lagi dan mengajaknya rujuk kembali..tapi kali ini istri bner2 cuek dan seperti tidak peduli lg dan banyak diam,,tp tidak jg gugat cerai kepengadilan…akhirnya saya menanyakan lagi ke istri,,apa masih mau berfikir lg..dan saya menawarkan ke istri 3 bulan kedepan beri waktu dy berfikir,,dan jgn ada yg menyesal setelah benar2 pisah,,dan dia setuju…sekarang telah berjalan 2 bulan tetapi istri blm jg ada tanda2 mau rujuk,,walaupun hampir tiap minggu saya ajak rujuk…masih ada 1bln lagi..jujur pak saya sangat berat menyimpan perasaan ini…keluarga orang tuaku sampai sekarang blm ada yg tau masalah rmh tanggaku,,jadi yg saya mau tanyakan dan solusi menurut pak ustad bagaimana dan apa yg saya lakukan??
    1.talaq sudah jatuh atau belum??
    2.rujuk telah terjadi atau belum??
    3.apakah saya harus menggugatnya kepengadilan,,setelah 3 bulan selesai kesepakatan kami,,seandainya istri masih seperti kemarin banyak diam dan blm jg ada jawaban??jujur pak saya gak mau tergantung seperti ini trus,,karna saya pria normal dan takut terjerumus zinah nantinya…nauzubillah..
    4.seandainya istri mau menerima lagi apa yg saya lakukan??apakah menikah lagi atau apa pak??
    sebelum dan sesudahnya trima kasih wassalammualaikum…

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah.
      1.talak sudah jatuh, yakni ketika ada tawaran dr suami kemudian langusng diiyakan istri
      2.sepertinya belum ada rujuk. Krn blm saya lihat ada kata2 yg jelas tuk rujuk
      3.tidak. sy sangat menyarankan pertahankan sekeras mungkin rumah tangga. Perceraian adl diantara fitnah Iblis yg besar dan ditargetkan iblis dan tentara2nya.
      4.Untuk Rujuk, ridho istri tdk pengaruh. Bapak cukup memanggil 2 orng saksi adil kemudian berkata kpd mrk: “Aku rujuk kepada istriku”. Setelah ucapan ini, mk wnt tsb sudah sah menjadi istri lagi. Tdk harus kepengadilan agama. Istri tahu atau tidak tahu, ridha atau tdk ridha itu semua tdk pengaruh. Krn ridha istri, persetujuan, maupun tahunya dia tdk jadi pertimbangan dlm keabsahan rujuk. Namun rujuk hrs dilakukan di masa Iddah. Masa iddah adl waktu 3 kali suci semenjak talak pertama jatuh. Jk sdh lewat masa iddah mk rujuk tdk sah. Agar bs kembali menjadi pasutri hrs melakukan akad nikah lagi dg mahar baru, wali dan saksi. Wallahua’lam

  51. Aslmkm pak ustdz,,,sy prnh mngglkn suami stlh kami bertngkr hbt sy mnnglkn suami sktr 8 bln dan yg lbh mnykitkan slm 8nbln sy mngglkn suami sy sy ad hub dgn lelaki lain dn hal itu sy beritau k suami sy,,,dgn mkst ht sy spya suami mnceraikan sy.ttp suamiku jg tdk mncraikn sy dan dlm 8 bln itupun wlupun sy sdh dgn org lain sy ttp tdk bs mlpkan suami sy.kbtlan suami sy tlp dia pny mksut spya kt kembali lgi,,dan skrg pun sy trma sran itu krn dlm ht kcil sy sy msh syng dgn suami sy.bgmn hkum dlm islam soal kasus sya ini pak ustadz

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah.
      Istri meninggalkan suami adl dosa. Bahkan dosa besar. Apalagi ditambah selingkuh. Itu juga dosa besar. Bertaubatlah, kembali pd suami. Putus hubungan dg lelaki asing tsb. Minta maaflah dan berjanjilah untuk tdk mengulangi. Perbanyaklah pengetahuan islam, agar mengerti bagaimana ajaran islam mengatur pergaulan suami istri. Wallahua’lam

  52. Aslmkm ustadz.trima ksh atas nasehat ustadz.skrg sy ingin brtny lg apakah msh bs sy membetulkan hub ini dan bgaimn crny.suami sy msh menyayangi sy dan bgt jg sy sbtlny
    mgkn dl krn sft ego kt msg2 jd smua in trjd
    apakah Allh msh mau mnrma taubat sy ustad dan apakah sy dan suami harus mnkah lg sprti nikah pd awalny ustadz

  53. Sya mohon bimbinganny ustadz,,trimakasih.
    wassallam

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh.
      Perbaikiliah hubungan dengan Allah terlebih dahulu. Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah maka hubungannya dengan hamba akan dipermudah.
      Allah maha pengampun lagi maha penyayang. Jk hamba sungguh2 bertaubat maka Allah akan mengampuni.
      Tdk perlu menikah lagi krn tdk ada cerai. Jd cukup kembali ke rumah suami dan berumahtangga seperti sedia kala. Wallahua’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 524 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: