Jangan Merusak Rumah Tangga Orang

oleh: Muhammad Muafa

 

Assalamu’alaikum ustadz,
Dengan segala hormat, saya mohon bantuan ustadz untuk membantu saya memberikan solusi permasalahan rumah tangga saya saat ini,
Saya wanita, 28 tahun, memiliki anak 3tahun. saya bekerja di sebuah perusahaan swasta di Surabaya, sebenarnya saya ingin sekali menjadi ibu rumah tangga seperti wanita lainnya, namun suami saya melarang saya berhenti karena adik-adik saya  masih kuliah sehingga sewaktu-waktu adik-adik butuh biaya saya bisa membantu, karena penghasilan suami saya saat itu juga tidak besar.
Dalam perjalanan waktu kami mengarungi kehidupan rumah tangga yang bahagia, namun saat pernikahan adik saya permasalahan ini akhirnya muncul, saat itu ketika pernikahan, adik saya menolak ucapan selamat dari suami saya dengan berjabatan tangan, hal itu dilakukan di depan keluarga kami, akhirnya suami saya merasa malu dan langsung pulang, keesokan harinya saya juga di telepon disuruh pulang juga, sayapun akhirnya menuruti permintaan suami saya.

Setelah itu kamipun akhirnya bertengkar masalah itu, karena saya juga menghormati sikap adik (I) saya mengenai prinsipnya haram berjabat tangan meskipun dengan ipar, akhirnya kamipun rukun setelah berhari-hari tidak bertegur sapa, namun  tidak ada solusi mengenai permasalahan ini, dan sayapun tidak mengungkit-ungkit juga karena takut kami akan bertengkar lagi.

Namun suatu saat  pada acara selamatan dirumah Ibu saya di desa, suami saya tidak mau datang ke rumah,dia hanya mengantarkan ( naik Bis)  sampai di ujung jalan rumah,  alasannya karena dijika pulang maka akan bertemu adik 1 saya suami saya akan malah marah dan takut malah menambah dosa, karena sikapnya. Sayapun berusaha memahaminya, karena saya kira dia akan datang pas acaranya, namun ternyata juga tidak datang, dia hanya mengirimkan sms dengan isi permohonan maaf tidak bisa datang karena berat melangkah ke rumah saya di desa, dia juga meminta saya pulangnya minta antar saja sama adik ke 2 saya.

Karena musim liburan Bis sangat penuh, akhirnya oleh adik @ saya, saya dipesankan  tiket kereta, ternyata juga habis, sayapun akhirnya ditawari sepupu( wanita) saya yang juga akan berangkat ke Surabaya bersama menggunakan sepeda motor. Dan sayapun tidak meminta adik saya mengantarkan saya karena dia juga akan kembali ke Malang, saya kasihan karena transportasi bis sangat ramai.

Sebelum saya berangkat sayapun memberi kabar kepada suami saya bahwa saya berangakat bareng sepupu saya, namun mendengar kabar saya suami saya malah  marah dan menelfon adik saya, karena tahu suami saya sedang marah saya melarang adik saya mengangkat telepon tersebut, namun berungkali suami saya tetap menelpon, akhirnya diangkat juga oleh adik saya, dengan marah serta memaki adik saya dengan mengatakan adik saya tidak memiliki etika, karena sudah dibantu biaya kuliah diminta bantuan mengantarkan saja adik saya tidak mau, tidak tahu terima kasih.  Mendengar makian itu saya juga sangat marah, dan sayapun mebela adik saya, ketika suami saya bertanya sebenarnya siapa yang salah, saya jawab bahwa yang salah suami saya, kenapa harus memaki. mendengar itu suami saya menuduh saya telah menginjak-injak harga dirinya.

Dan permasalahan inipun berlanjut sampai sekarang, suami saya meminta saya segera berhenti bekerja dan akan mengatur semua keuangan saya, sayapun menolak karena dia memerintahkan saya dalam keadaan sangat marah, saya takut saat saya benar-benar berhenti permasalahan ini berujung pada perceraian, karena kata-kata suami saya sudah sangat kasar. Saat ini suami saya juga  mendiamkan saya, membiarkan saya entah pulang ke rumah atau tidak,  dia sama sekali sudah tidak memperhatikan saya, dan terus terang saya masih sangat mencintai suami saya, saat kami rukun dia selalu memanjakan saya, saya juga sempat melihat dia sangat bersedih dan menitikkan air mata,

Di sisi lain keluarga saya meminta saya berpisah saja, jika terus-terusan bertengkar dan suami saya tidak bisa akur dengan adik-adik saya, saya sangat bingung saat ini karena dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda, jika seandainya bersujud pada  manusia diperbolehkan  beliau akan memerintahkan istri bersujud pada suami, di sisi lain suami saya tidak bisa akur dengan adik karena permasalahan di atas.
Ustadz bagaimana saya menyikapi permasalahan ini, apa yang harus saya lakukan saat ini ustadz? Mohon bantuan Ustadz
Terima kasih sebelumnya.
Wassalamu’alaikum wr. Wbr.

Fulanah-di Suatu Tempat

Jawaban

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Semoga ibu dan suami senantiasa dihimpun Allah dalam kebaikan dan berkah.

Ibu,

Tidak ada satupun rumah tangga di kolong langit ini yang bebas sama sekali dari problem dan permasalahan. Tidak satupun rumah tangga yang terlepas dari perselisihan. Tidak ada satupun rumah tangga yang tidak pernah ada pertengkaran (meski kecil). Rumah tangga Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pun tidak bebas dari pemasalahan. Problem dan masalah justru menjadi “alat pengukur” untuk menguji kualitas iman pasangan suami istri.

Ada kalanya problem rumah tangga muncul dari pasangan, kadang dari orang tua/kerabat, dan kadang pula dari orang lain. Semuanya adalah ujian untuk meningkatkan kualitas iman, senyampang disikapi menurut cara yang diajarkan Allah dan RasulNya.

Hal yang harus diwaspadai saat terjadi masalah antara suami dengan istri adalah adanya pihak ketiga yang berusaha mengipas-ngipasi/mengkompori dengan target memisahkan antara suami istri tersebut. Aktivitas merusak rumah tangga orang dengan berupaya memisahkan pasangan suami istri adalah dosa besar (Kaba-ir), kemunkaran berat, perbuatan para penyihir, dan diantara program utama Iblis berikut tentaranya untuk menimbulkan fitnah dan kerusakan di tengah-tengah manusia. Abu Dawud meriwayatkan;

سنن أبى داود – م (2/ 220)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا أَوْ عَبْدًا عَلَى سَيِّدِهِ ».

dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya, atau seorang budak terhadap tuannya.” (H.R.Abu Dawud)

Lafadz imam Ahmad berbunyi;

مسند أحمد (46/ 454)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ حَلَفَ بِالْأَمَانَةِ وَمَنْ خَبَّبَ عَلَى امْرِئٍ زَوْجَتَهُ أَوْ مَمْلُوكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا

dari ‘Abdullah bin Buraidah dari ayahnya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak termasuk golongan kami orang yang bersumpah dengan amanah dan barangsiapa merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya atau budak dengan tuannyanya, maka ia tidak termasuk golongan kami.” (H.R.Ahmad)

Orang yang berusaha merusak hubungan istri dengan suaminya dalam hadis di atas di vonis tidak termasuk golongan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Jika bukan golongan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ maka menjadi golongan siapakah selain golongan kaum Kuffar, Munafik, Fasik, ahli maksiat dan semua yang tidak menempuh jalan yang lurus? Cukuplah hadis ini menajdi dalil bahwa merusak rumah tangga orang termasuk hitungan dosa-dosa besar dan kemungkaran yang berat.

Merusak rumah tangga orang juga termasuk perbuatan para penyihir berdasarkan ayat berikut ini;

{وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ } [البقرة: 102]

dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya (Al-Baqoroh;102)

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa diantara aktivitas sihir yang dipelajari dari Harut dan Marut adalah sihir untuk memisahkan antara seorang lelaki dengan suaminya. Sihir menyeret pada kekufuran, dan sudah diketahui dalam Islam bahwa perbuatan sihir termasuk salah satu dari tujuh dosa besar yang pelakunya dihukum bunuh. Dalil ini semakin menguatkan bahwa merusak rumah tangga orang adalah dosa besar (Kaba-ir) dan kemungkaran yang berat.

Memisahkan pasangan suami istri dan merusak rumahtangga mereka juga menjadi program utama Iblis dan tentaranya utnuk menimbulkan fitnah dan kerusakan di muka bumi. Imam Muslim meriwayatkan;

صحيح مسلم (13/ 426)

عَنْ جَابِرٍ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ

dari Jabir berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya, (setan) yang kedudukannya paling dekat dengan Iblis adalah yang paling besar godaannya. Salah satu diantara mereka datang lalu berkata: ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab: ‘Kau tidak melakukan apa pun.’ Lalu yang lain datang dan berkata: ‘Aku tidak meninggalkannya hingga aku memisahkannya dengan istrinya.’ Beliau bersabda: “Iblis mendekatinya lalu berkata: ‘Bagus kamu.” (H.R.Muslim)

Tampak jelas dalam hadis di atas, bahwa Iblis meremehkan banyak “prestasi” tentaranya yang menimbulkan fitnah dan kerusakan ditengah-tengah manusia. Namun ketika diberitahu “prestasi” memisahkan pasangan suami istri, iblis begitu gembira, mendekatkan Syetan tersebut di sisinya dan memujinya. Dari sini bisa difahami, siapapun yang terlibat upaya memisahkan pasngan suami istri dan merusak rumah tangganya (meski dia bersorban besar), sesungguhnya dia adalah bagian dari tentara iblis, yang merealisasikan program-programnya, dan menjadi “anteknya” baik sadar maupun tidak.

Ibnu Taimiyah berkata;

الفتاوى الكبرى (2/ 313)

فَسَعْيُ الرَّجُلِ فِي التَّفْرِيقِ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَزَوْجِهَا مِنْ الذُّنُوبِ الشَّدِيدَةِ، وَهُوَ مِنْ فِعْلِ السَّحَرَةِ، وَهُوَ مِنْ أَعْظَمِ فِعْلِ الشَّيَاطِينِ.

Upaya seseorang untuk memisahkan istri dengan suaminya adalah diantara dosa-dosa berat, termasuk perbuatan tukang sihir, dan sebesar-besar perbuatan Syetan (Al-Fatawa Al-Kubro, vol.2 hlm 313)

Merusak rumah tangga orang variasi caranya beragam. Kadang orang melakukannya dengan mengadu domba pasangan suami istri tersebut, memprovokasi istri agar minta cerai kepada suami dengan cara mencitraburukkan suami, memprovokasi suami agar menceraikan istri dengan cara mencitraburukkan istri, intervensi saat terjadi masalah rumah tangga sehingga api kian membesar, meminta istri tua dicerai sebelum menikahi istri muda, dll. Semuanya termasuk hukum merusak rumah tangga yang hukumnya haram dan dihitung dosa besar.

Sikap yang bijak yang menunjukkan kafakihan dalam dien, jika pihak ketiga melihat ada permasalahan/pertengkaran dalam rumah tangga maka dia tidak boleh berbicara sebelum terealisasi dua hal; pertama: Pasangan suami istri tersebut mengizinkan  dan ridho pihak ketiga itu menjadi Hakam (penengah) terhadap perselisihan mereka dan, kedua: Pihak ketiga tersebut tidak berbicara kecuali setelah mendengar dengan seksama curahan hati dari kedua belah pihak (bukan hanya satu pihak).

Jika dua hal ini tidak terealisasi, maka tidak ada hak apapun bagi pihak ketiga untuk turut campur/mengintervensi urusan rumah tangga orang (meskipun dia kerabat dekat). Hal itu dikarenakan Syariat telah mengajarkan mekanisme penyelesain rumah tangga yang berpulang pada pasangan suami istri, bukan pihak ketiga. Islam telah menempatkan secara bijak dan hati-hati terhadap peran pihak ketiga untuk ikut andil dalam menyelesaikan permasalahan rumah tangga. Peran pihak ketiga hanya bisa dilakukan dengan permintaan, bukan intervensi.

Rumah tangga harus dihormati, karena rumah tangga punya kepala keluarga yang mendapatkan hak dari Allah untuk mengatur rumah tangganya sesuai dengan kebijakannya. Suami adalah kepala keluarga. Ia bagaikan nahkoda bagi sebuah kapal. Membiarkan pihak ketika mengintervensi urusan rumah tangga  secara fakta membuat ikatan pernikahan menjadi tidak ada gunanya.

Jadi, sikap keluarga ibu yang menganjurkan untuk bercerai adalah sikap yang tidak benar. Hal tersebut sudah terkategori intervensi (meski diatasnamakan nasihat), merusak rumah tangga, dosa besar, kemunkaran berat, perbuatan tukang sihir, dan bagian tentara Iblis. Hal tersebut harus dihentikan, dan merka wajib diingatkan untuk tidak turut campur. Seorang istri tidak boleh mendengarkan ucapan provokasi/memanas-manasi/mengompori dari pihak manapun yang jelas berefek rusaknya hubungan suami-istri.

Jika ada pihak ketiga yang telah diketahui ucapan/perbuatannya mengarah pada perusakan hubungan dalam rumah tangga, maka mereka harus dijauhi dan suami berhak melarang istri bertemu dengan mereka. Namun, menjauhi bukan bermakna memutus Shilaturrahim atau memutus Ukhuwwah Islamiyyah. Menjauhi tidak lebih sekedar meminimalisasi interaksi, dan membatasi interaksi pada hal-hal selain urusan rumah tangga. Jika pembicaraan/tindakan sudah mengarah para urusan rumah tangga maka dihindari/dijauhi.

Ini adalah penyikapan terhadap keluarga dan pihak ketiga.

Adapun penyikapan terhadap suami, jangan sampai salah ibu. Bersikap terhadap suami yang paling baik adalah sikap yang diajarkan Allah dan RasulNya, bukan berdasarkan pertimbangan akal, selera, dan perasaan.

Syara’ mengajarkan bahwa asas perlakuan seorang istri terhadap suaminya adalah Tholabur Ridho/طَلَبُ الرِّضَى (mencari Ridho). Dalil yang menunjukkan adalah hadis berikut ini;

سنن النسائي الكبرى (5/ 361)

عن عبد الله بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ألا أخبركم بنسائكم من أهل الجنة الودود الولود العؤود على زوجها التي إذا آذت أو أوذيت جاءت حتى تأخذ بيد زوجها ثم تقول والله لا أذوق غمضا حتى ترضى

Tidaklah aku kabarkan pada kalian wanita-wanita kalian yang termasuk penghuni surga? Wanita-wanita yang penyayang dan subur,  yang apabila ia mendzalimi atau didzalimi ia berkata,”tidaklah aku merasakan dapat memejamkan mata hingga engkau ridho” (H.R.An-Nasai)

 

Dalam hadis di atas diterangkan bahwa istri calon penghuni surga diantara sifatnya adalah jika menyakiti suami atau disakiti suami maka dia akan meminta maaf kepada suami dan tidak bisa tidur sebelum suaminya ridho/memaafkannya. Meminta maaf saat menyakiti suami dalam hadis di atas tidak diterangkan apakah penyebabnya adalah kesalahan suami ataukah istri. Yang jelas, ketika suami merasa disakiti oleh istri, baik dengan ucapan maupun perbuatan lalu istri meminta maaf, maka sifat tersebut dipuji syariat. Lebih hebat lagi ternyata pujian Syara’ bukan hanya saat sang istri yang menyakiti suami. Saat dia disakiti suami, (artinya suaminyalah yang zalim) istri juga meminta maaf, dan sifat ini juga dipuji Syariat. Oleh karena itu, hadis ini bukan sekedar bermakna wajibnya istri yang berbuat zalim untuk meminta maaf, tetapi lebih dari itu hadis ini menunjukkan asas perlakuan seorang istri kepada suami yaitu berusaha selalu mencari ridha/kerelaannya.

Dalil yang menguatkan adalah hadis berikut ini;

سنن الترمذى (2/ 99)

 أَبَا أُمَامَةَ يَقُولُ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ آذَانَهُمْ الْعَبْدُ الْآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ

Dari Abu Umamah r.a beliau berkata, Rosuullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ,” tiga orang yang sholat mereka tidak melampui telinga-telinga mereka yaitu seorang budak yang melarikan diri hingga ia kembali, seorang wanita yang bermalam sementara suaminya marah kepadanya,  dan seorang imam suatu kaum sementara kaumnya membencinya”(H.R.At-Tirmidzi)

 

Dalm hadis di atas, diterangkan bahwa istri yang membuat suaminya marah maka shalatnya tidak naik ke langit. Penyebab marah dalam hadis di atas juga bersifat mutlak dan tidak diterangkan. Maknanya, Syara’ tidak berkehendak istri membuat suaminya marah, sehingga bisa difahami berdasarkan hadis ini pula bahwa Tholabur Ridho/طَلَبُ الرِّضَى (mencari Ridho) adalah asas seluruh perlakuan Istri kepada suami.

Dalil yang menguatkan adalah hadis tentang kecemburuan Hurul ‘In/Wanita surga/bidadari berikut ini;

مسند أحمد – (ج 45 / ص 78)

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ لَا تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللَّهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا

            Dari Mu’adz bin Jabal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di sunia melainkan istri-istri suaminya dari kalangan bidadari di surga berkata, “engkau jangan menyakitinya, Allah melaknatmu, sesungguhnya ia (suami) di sisimu hanyalah tamu yang hampir-hampir meninggalkanmu dan pulang kepada kami”.(H.R.Ahmad)

Secara implisit hadis di atas juga mengajarkan kepada para wanita agar jangan sampai membuat suaminya tersakiti. Maknanya Tholabur Ridho/طَلَبُ الرِّضَى (mencari Ridho) adalah asas seluruh perlakuan Istri kepada suami.

Berdasarkan alas fikir ini, peristiwa-peristiwa rumah tangga Insya Allah bisa disikapi secara lebih tepat dan bijaksana yang lebih dekat dengan syariat yang diperintahkan Allah dan RasulNya.

Ketika terjadi  kesalahfahaman antara suami dengan sebagian kerabat istri, maka langkah pertama agar masalah tidak meruncing dan memanas adalah taatnya istri terhadap semua perintah dan pengaturan suami. Istri selalu berusaha mendapatkan ridha suami. Namun hal ini tidak bermakna istri “berkubu” suami dan memusuhi kerabat. Namun sekedar menjalankan perintah syara’ menaati suami dan mencari ridhanya seraya berusaha mendialogkan kesalahfahaman tersebut dengan tetapn menjaga Shilaturrahim. Jangan sampai istri memaki suami, memarahi apalagi merendahkannya. Karena hal tersebut terhitung dosa besar, bertentangan dengan perintah syara’ dan malah akan memperkeruh keadaan.

Bukankah ibu sendiri telah merasakan bahwa suami sungguh sayang pada ibu?bukankah beliau telah bersedia mengantar pergi, mengontrol kepulangan, mengkhawatirkan keselamatan, dll yang semuanya adalah diantara tanda betapa suami mencintai istri? Terhadap suami yang jahat dan zalim saja Syara’ masih memerintahkan taat, hormat, dan mencari ridhanya, bukankah suami yang mencintai, menyayangi, memanjakan, memperhatikan (sampai kadang-kadang menitikkan air mata) lebih punya alasan untuk ditaati, dihormati, dan dicari ridhanya?

Terakhir, perbanyaklah membaca doa berikut ini agar segala permasalahan dunia maupun akhirat lekas selesai;

صحيح مسلم (13/ 249)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

dari Abu Hurairah dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: “ALLOOHUMMA ASHLIH LII DIINII ALLADZII HUWA ‘ISHMATU AMRII, WA ASHLIH LII DUN-YAAYA ALLATII FIIHAA MA’AASYII, WA ASH-LIH LII AAKHIROTII ALLATII FIIHAA Meriwayatkan’AADZII, WAJ’ALIL HAYAATA ZIYAADATAN LII FII KULLI KHOIRIN, WAJ’ALIL MAUTA ROOHATAN LII MIN KULLI SYARRIN “Ya Allah ya Tuhanku, benahilah untukku agamaku yang menjadi benteng urusanku; benahilah untukku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; benahilah untukku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala keburukan!” (H.R.Muslim)

Wallahua’lam.

About these ads

28 tanggapan

  1. Penjelasan yang jelas dan detail, smoga Allah membalas sebagai amal shalih

  2. Assalamualakum ustadz, sy seorang ibu jg seorang wanita karir beranak 2, kebetulan baru seminggu melahirkan anak ke 2.Suami jg kerja di perbankan. Sudah beberapa bulan ini suami berselingkuh dgn teman kantornya, dan ini sdh jelas diketahui dn dipandang miring oleh teman2 kantornya hmpir di seluruh wilayah daerah itu dimana suami sy kerja di luar kota dan plg seminggu sekali kerumah.Semakin hari suami makin sering berbohong dan suka keluar malam smp plg subuh jika sedang plg libur ke rumah. Sementara di tempat kerjanya,suami bersma teman wanitanya sering jalan berdua.Selama ini sy tetap berpikir positif trhp kelakuan suami, akan tetapi gangguan pihak ketiga makin menjadi dn jelas wanita tsb sdh berani scr lgsung mnganggu rmh tngga kami. Hal ini sdh sampai pd batas kesabaran sy sbg istri jg sbg seorang ibu yg sedang hamil tua, karena perhatian suami kpd sy maupun anak yg sedang sakit sdh tdk ada.Akhirnya sy menghadap kepada kepala cabang kantor suami sy utk mencoba memohon mutasi suami sy ke kota kami dn sekaligus melapor gangguan pihak ketiga dlm hal ini tmn kantornya.Kemudian mereka di proses dn diinterogasi mngnai kebenaran hubungan mreka, tetapi keduanya mengaku hanya berteman dn di lain pihak wanita ini jg mengaku bhw suamiku yg tdk mw melepaskannya.lalu sy inisiatif mengajak suami mengajak suami utk berdiskusi dg kepala kantornya yg memang sngat dekat dg keluarga kami, apa yang dikehendaki oleh suami sy mengenai rmh tangga kami. Dari hasil pembicaraan suami mengaku salah dan berusaha memperbaiki kesalahannya asalkan sy mw mengklarifikasi laporan sy ke instansinya bhw benar2 tdk ada hubungan apa2 antara dia dn wanita tsb, dlm hal ini dia mau melindungi wanita tsb agar tdk dipecat.Sy iyakan syaratnya dg komitmen bahwa setelah pembicaraan malam itu,dia tidak akan berhubungan lg dg wanita tsb,suami menjawab dg ragu2 dn dia akan mncoba krn msh sbtas tmn kantor. Akhirnya tiba saat sy melahirkan sy minta suami utk menunggu saat persalinan dn menyaksikan perjuanganku utk melahirkan agar tergugah perasaannya kpdku krn wktu anak pertama dia cm mengandalkan orang tuanya utk menemaniku. Setelah melahirkan sy perhatikan gelagat suami belum jg berubah dn masih ada niat berbohong, kmdian sy menyadap telp suami dn terbukti dia janjian kembali utk bertemu dg wanita tsb pdhal alasannya mw kerumah tmnnya.Sy sngat kecewa sekali kmudian sy ungkapkan smw bhw kebohongannya tlh terungkap dg bukti yg nyata,tp tetap tdk mw mengakui. llu sy katakan bhw telpnya sdh sy sadap dn jelas bhw suami mengajak wanita tsb utk bertemu.Alasannya mw bertemu dg wanita tsb hnya untuk bercerita bgamana kondisi mreka masing2 skr, dan jika sy melarangnya utk bertemu dg wanita tsb malam itu,dia mengancam akan berbuat hal lbh gila jika dia di sdh di luar kota tmpatnya bekerja.Di sini sy sadar bhw suami sy telah jatuh cinta buta kpd wanita tsb..tapi dia juga tdk mw melepaskan sy krna kami msh tinggal dg org tuaku dn hanya rmh tsb tmpatnya utk plg beristirahat. Kemarin kami bertengkar hebat krn semua uneg2 sdh sy keluarkan scr langsung smpai sy tuntut mslsh tanggung jawabnya sbg suami dan ayah dr anak2 terutama perhatian dn komunikasi antar kami. Sy sdh ckup bersabar mengadapi ulah suami krn sudah 2 kali berselingkuh, yg pertama dulu dia mengaku dn tdk berhubungan lg, sy sdh maafkan dn cb memperbaiki apa yg kurang dlm hubungan kami sbg suami istri.tp ini yang kedua kali, suami sangat keras hati dan keras kepala,sdh bbrpa kali sy nasehati,ajak untuk jdi imam dn ingt akan masa depan rmh tangga kami.tapi smpai detik ini dia cm berpikir utk saat sekarang dn menikmati saat skr, sy merasa jiwa suami sy sangat kosong dan tanpa pegangan hidup krn hanya memikirkan kesenangan duniawi sj dn belum berpikir dewasa apalagi takut akan dosa dan maksiat..Sy selalu mendoakanya dlm setiap kesempatan baik shalat fardhu,shalat sunnah pagi dn malam,sllu berdzikir agar Allah SWT Membukakan pintu hati suami sy..Skr hatiku sngat sakit tetapi masih berusaha sabar dan berpikir rasional,sy yakin ada rahasia Allah dibalik ujian ini. Disini sy mohon petunjuk dari Ustadz apa yang harus sy perbuat lagi agar suami benar terbuka hatinya, krn dia sdh gampang sekali mengucapkan kita berpisah dlm keadaan marah entah dia tahu itu artinya talaq atw tidak, tetapi dia jg tdk mau meninggalkan rmh orang tuaku, dn beberapa kali sdh begini kami cm saling diam slama seminggu utk berpikir..lalu suami balik lgi sprt tdk trjadi apa-apa. Pak ustadz hati dn pikiranku sdh sngt lelah menghadapi ulah suami krn jika sdh baik sy ingin ada solusi mngenai hubungan kami apakah kmi msh hrus mempertahankan atau kami berpisah sja utk membuat dia sadar akan rasa kehilangan keluarganya…Mohon petunjuk dan boleh di balas dlm tanggapan ini.Terima kasih
    Wassalam..

    1. Mohon maaf ibu, baru sempat menengok blog.
      Sebelumnya saya berdoa Semoga duka yg dirasakan ibu menjadi sebab bertambahnya kedekatan ibu kepada Allah, bukan malah menjauhkan dariNya.
      Mencintai manusia memang akan banyak mendatangkan kecewa, sebaliknya barangsiapa mencintai Allah sepenuh hati maka, pasti Allah tidak akan mengecewakannya.

      Membaca persoalan ibu, kika memang benar demikian masalahnya, saat ini yang bisa saya sarankan adalah mengamalkan doa.
      Doa nabi yunus.
      perbanyaklah doa yang yang dibaca oleh Nabi Yunus berikut ini dalam keadaan berbaring, duduk, maupun berjalan. Terutama sekali di waktu sujud dalam shalat. Doa ini adalah doa yang jika dibaca maka orang yang kesusahan akan dilepaskan dari kesusahannya. Doanya berbunyi;
      لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنْ الظَّالِمِينَ

      LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya)
      Riwayat doa ini ada dalam Sunan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi meriwayatkan;
      سنن الترمذى (11/ 410)
      عَنْ سَعْدٍ قَالَ
      قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنْ الظَّالِمِينَ فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

      dari Sa’d ia berkata; Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah; LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya). Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah kabulkan baginya.” (H.R.At-Tirmidzi)
      Doa kami dari kejauhan; mudah-mudahan segera dilepaskan dari kesusahannya. Amin.

  3. Assalamualaikum Pak Ustadz, Alhamdulillah selama ini sy sdh mengamalkan doa tsb disertai dg zikir dan yaasin walaupun saat ini sy sdg nifas…3 hari yg lalu saat dini hari suami saya menelpon dn mengatakan ia tdk ingin berpisah dg sy dn meminta maaf kpd sy ats perbuatannya, ia ingin memperbaiki hubungan kami yg ia rasa sdh tdk sprt wktu pcaran dulu dlm arti ia ingin merasa cemburu kpd sy dn rasa cintanya kembali bergairah kpd sy..tp sy mengatakan ingin berpisah sj dri dia krn sdh tdk tahan dg perbuatannya kpd sy yg sdh sgt menyakitkan hatiku bgtu jg dg hati ibuku yg sngt kecewa dg perbuatanny kpd sy krn berdampak pd anak2 kami yg msh kecil..krn sy slm ini hnya bgtu mmprhatikan sgla kebutuhan suami pdhal suami tdk memperhatikan sy dn anak2..Skr sy bingung menghadapi masalah ini krn ibuku sdh tdk bs membantu lgi walaupun skdar sy hny bertanya krn sdh terlnjur kecewa dg mslah rmh tangga kami..

    Sampai hari ini setiap subuh suami sllu menelponku skedar menanyakan kbr anak2 dn ingin memperbaki hub. kami…tapi yg ingin sy tanyakan bagaimana dg kata2 pisah dn cerai yg selama ini suami katakan kpd sy setiap kli bertengkar, dn bbrp kali kmi kembali lg sbg suami istri, tp kata ia ingin menceraikan sy kembali terulang pd saat pertengkaran terakhir kami minggu lalu. Suami sdh mengisi smw pakaiannya dlm koper tp tdk membawanya pd saat meninggalkan rmh utk ketempat kerjanya…krn sy tau dia pasti akan berpikir kmbali ats pertengkaran kmi kmdian akan meminta maaf lg..Sy telah membaca berbagai artikel dlm blog mngenai rujuk dn cerai walaupun dg kata2 suami, tapi bgmana dg suami yg tidak paham akan hukum rujuk,cerai dlm pernikahan..ia msh menganggap pernikahan kami sprti pacaran sj yg bgtu gmpang utk berkata berpisah saja tetapi akan baik kembali setelah ia meminta maaf..Saya takut akan dosa krn ketidaktahuan kami akan talaq dn rujuk yg bgtu gmpang oleh kata-kata..

    Mohon solusinya bgmanakah kondisi rmh tangga kmi sbnarnya, apakah sdh otomatis trjadi talaq dg kata2 cerai atau pisah yg selama ini sdh bbrpa kali suami katakan dn kmudian hnya bbrpa hari kmi slg berpikir kmdian baikan lgi..Mohon petunjuk …Wassalam.

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah.
      benar, yang harus hati2 sekali adalah terkait dengan lafadz talak suami.
      karena jika dilanggar akibat ketidah tahuan, konsekuensinya hubungan suami istri atau pembukaannya bisa terhitung dosa bahkan zina.
      coba ibu baca dulu artikel2 dalam blog ini seputar talak dan juga jawaban2 sy terhadap komentar2 dibawahnya.

      terutama pada link;

      http://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/05/05/menafsirkan-lafadz-talak-suami/
      http://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/04/27/hukum-talak-muallaq-talak-tergantung/
      http://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/05/10/tata-cara-rujuk-dalam-islam/

      ibu bisa memeriksa kira2 yg pernah diucapkan suami yg mana.
      jika msh ada kebingungan, ibu bisa menjelaskan lebih detail ucapan2 yg telah dilakukan suami lengkap dengan data waktu kejadiannya. agar sy bs memahami situasinya lebih baik.

  4. Assalamualaikum Pak Ustadz, seingat sy yg pertama waktu suami mengaku selingkuh yg pertama kali dia berkata “kita pisah saja ya?” tp sy jwab sy tdk mau krn udh ad anak..dan dia mnta wktu berpikir slm 1 bln utk memilih sy atau pacarnya,dmna akhirnya kmi bersatu lagi dn dia meninggalkan pacarnya…yang kedua saat dia ingin pergi ke bali bersama tmna2nya tp sy tdk mengizinkannya krn sy sdg hamil tua dan dia shrusnya brpikir utamakan keluarga drpda bersenang2 dg temannya..akhirnya ia mengatakn ‘kita pisah saja” llu sy blng iya klw mmg dia ttp ingin prgi ke bali, jd plg dr bali jgn brtemu dg sy dan anaknya lg nnt…kmudian kmi tdk slng bcra atw komunikasi slma 4 hri dn tiba2 dia dtg ke kntorku brsma anakku dn menjemputku makan siang…kmdian dia kmbali lg ke rumah, stlah kmi shalat jamaah brsma sy jlaskan jng prnh smbrngan mngucapkan kata2 pisah atw cerai kepd istri krn akan jth talaq,lalu sy mengajarkannya mngucapkan kata mengajak rujuk kpd sy jika dia mmg msh mw brsmaku..kmdian yg ketiga dia ucapkan saat pertengkaran kami krn dia sdh berbohong dan berselingkuh lg dg tmn kantornya..dn itu ketahuan oleh sya…dia mrsa sy mata-matai dan awasi gerak geriknya shg tdk bbs bergaul dg sp sj..tp intinya sy melakukan itu krn bbrpa bln trkhir suami sdh srg berbohong dn tdk plg krmh aplg saat anak2 sakit..bhkn jk waktunya plg krmh krn dia krja diluar kota, mlm minggu sllu di habiskan brsma pacarnya..dn sllu plg dini hari..saat prtngkaran itu dia mngatakan kpd sy “kw mau cerai? ayo klw mau cerai…” sy mngtakan iya sy ingin berpisah sj krna dia sdh tdk bs dipercaya dn sdh mnkhianati cintaku, aplgi org tuaku sdh kcewa akan sikapnya krn sdh menyia-nyiakan sy dn anak2…kmdian 2 hr kmdian suami menelpon dn meminta maaf dn ingin kembali kpd sy…..sy bngung bgmn ya hukumnya Pak Ustadz?

    1. wa’alaikumussalam warohmatullah.
      ucapan yg pertama; “kita pisah saja ya?” belum termasuk talak, karena baru bertanya dan menawari.
      ucapan yg kedua; ‘kita pisah saja” sudah termasuk talak, jadi sdh jatuh talak satu.
      jk sudah mengucapkan kata rujuk berarti sudah sah lagi menajdi suami istri.
      ucapan yg ketiga; “kw mau cerai? ayo klw mau cerai…” ini seperti ucapan yg pertama.
      patut diketahui, talak tdk tergantung persetujuan istri, cukup keputusan tegas suami.
      jadi itu yg perlu diperhatikan.

  5. asalamualikum pak ustad sya mau nanya sya d madu oleh suami sya tp sya trma yg sya tdk trma dr suami sya it knpa dia gk mau terbuka sdang yg sya tau istri yh sdang hamil knp dia blng kalo istri yh gk hamil sbnr yh ap yg dia mau dari sya,sya mhon solusi yh dr pak ustad wasalam

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah.
      Ibu, lebih baik sibuk memikirkan upaya mendekat dengan Allah daripada meresahkan sesuatu yg belum tentu kita dapatkan.
      barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan mempeerbaiki hubungannya dengan manusia.
      Wallahua’lam.

  6. assalamualaikum, ustadz saya mohon doa nya saat ini saya sedang menghadapi sebuah masalah, suami sya menceraikan saya pd saat saya sdang nifas baru melahirkan anak kami yg pertama, alasannya adalah karena beliau tersinggung dengan ucapan orangtua saya bahwa ketika saya hamil saya kurang banyak vitamin, secara pribadi saya telah meminta maaf dan saya beserta keluarga saya telah meminta maaf kpada kluarganya tp sampai saat ini mereka msih dendam tidak mau memaafkan. apa yg sebaiknya saya lakukan selama 3 bulan saya bertahajud teteapi Allah belum memberikan jawaban suami saya orangnya keras hati ustadz, dan yg sy tau cerai saat istri nifas hukumnya haram, akan tetapi suami sy telah menyerahkan sy kpd orgtua saya, mohon doanya uistadz agar saya dan anak sy yg msih brusia 3 bln dberi kekuatan dan yg terbaik

    1. Wa’alaikumussalam warohmatullah..
      Subhanallah.. inggih ibu, saya ikut berdoa.. semoga ibu senantiasa diberi ketabahan, dan segera dilepaskan dari kesusahan..Allah akan memberi yang terbaik, Insya Allah..

      1. aamiin terima kasih banyak ustadz, mohon doanya.

  7. assalamualaikum warahmatullah… usadz maaf sya brtanya lg, apakah yg dilakukan suami sy dan kluargany tsb adalah termasuk zolim, dan bagaimana doanya agar hati saya tenang ustadz? trimaksh bnyak ustadz

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh. suami tdk zalim, krn talak adl haknya. cuman suami berdosa krn mentalak dimasa nifas. keluarganya tdk ada sangkut paut. namun jk memprovokasi agar cerai memang bs termasuk kezaliman.
      doanya adalah minta ketabahan: “Allahumma afrigh ‘alayya shobron” (ya Allah, tuangkanlah ketabahan pada hatiku). bacalah setiap kali rasa sedih itu datang.

  8. iya ustadz, suami sy tidak menengok atau paling tdk menanyakan kabar anaknya ustadz seperti dibuang begitu saja ustadz bagaimana itu ustadz

    1. itu yg tdk benar. anak adl kewajiban suami sampai baligh, meski sdh cerai.

  9. apakah itu zolim ustadz kpd anak, dan sampai saat ini sdh 4bln suami sy tdk mau mngurus surat cerai dgn alasan ga mau ktemu lawan ulun..sperti menggantung ustadz dan orangtuanya jg begitu tidak mau menengok atau menanyakan cucunya, mreka mmutuskan slaturahmi ustadz. apa yg sbaiknya hrus sy lakukan ustadz,

    1. sepertinya yg paling mungkin saat ini adl banyak berdoa dan bersedekah. mudah2an ada keajaiban.

  10. aaamiin.. terimakasih banyak ustadz atas penjelasannya selama ini… saya mohon bantuan doa dari ustadz

  11. Assalamu ‘alaikum udstad,dulu saya sering mendzalimi istri saya,sy sering minta pisah,nyuruh dia pulang kerumahx,bhkn pernh aq sakiti badanx,terlebih lagi ketika aq pux selingkuhan tambh menjadi2 aq,menghinanya,mengumpatnya,mengusirnya,tapi istriku tetap sabar dan tabah trhdp perlakuanku,dia terus mndoakanku,hingga skarang semuanya sdh berubh udstdz,aq bgt menyayangi istri dan anakku,alhmdulillah shalat 5 waktu pun tdk prnh kami tinggalkn,kami trus saling mengingatkn dlm kebaikan dlm mencari ridho Allah Swt.yg jd pikiran aq,masihkh kami sah sebagai suami istri ?,mengingat seringx aq dulu mengucapkn kata pisah,mengusir dia,nyuruh pulang ke orang tuax,dan apa yg harus kami lakukan..mohon jawabanx udstadz,waalaikum salam.

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh.
      Jik pernah mengucapkan kata “aku cerai kamu” atau “pulang sana ke rumah orang tuamu” atau yg semakna dngan ini, maka itu dihitung talak. Jika sampai tiga kali maka tdk boleh rujuk lagi sblm istri menikah dg pria lain dg pernikahan wajar/bukan sandiwara, lalu dicerai dg wajar juga.
      Jika ucapannya ” aku ingin pisah” atau “aku ingin cerai”, atau yg semakna dengannya mk ini belum dihitung cerai, krn masih rencana.
      Jk lupa bagaimana persisnya ucapan, mk semoga Allah mengampuni dan bapak tetap sah saat ini menjadi suami istri.
      Dan berhati2lah sesudah hari ini dg ucapan apapun yg bermakna talak. Wallahua’lam

  12. Saya terlahir sebagai seorang wanita muslim dan mengalami perceraian karena mantan suami (muslim yang memiliki group muslim garis keras) melakukan KDRT kepada saya dan anak2 serta memilih perceraian karena mantan suami selalu berniat poligami dan selalu berselingkuh dan jajan. Saat ini anak-anak saya juga diambil dengan jalan dibeli dengan uang. Kewajiban sebagai mantan suami tidak dijalankan dan tidak ada harta gono gini yang diberikan kepada saya dari harta yang berlimpah. Semua habis.Dan janji-janjinya mengenai pemenuhan ekonomi untuk saya sebagai mantan istri hanya sebatas janji. Saya berjuang tanpa uang menghidupi anak- anak selama mantan menikah dengan selingkuhan yang merusak rumah tangga saya. Saat ini mantan suami telah kaya raya dan anak-anak dibeli dengan uang dan pekerjaan. Anak-anak bisa hidup mewah sementara saya hidup susah. Anak-anak dipaksa ketemu dengan wanita perusak rumah tangga saya dengan dalih sebagai ibu tiri mereka. Hal ini tidak bisa saya tolerir. Saya tidak masalah anak-anak bertemu dengan ayahnya tetapi saya tidak perbolehkan anak-anak menemui wanita tersebut. (Sampai saya tinggalkan rumah saya sebagai tempat ayah anak bertemu) Anak-anak tidak berani bilang ke ayahnya karena sudah terbeli dengan uang. Saya memilih untuk tidak ada hubungan dengan anak-anak lagi karena mereka memilih uang daripada ibu mereka sendiri. Sejak perceraian dan ketidakadilan yang saya rasakan selama menikah dan pasca cerai, saya tidak beragama. Agama Islam saya rasakan tidak sejalan dengan nurani saya. Dua tahun setelah perceraian saya mempunyai hubungan dengan suami orang yang beragama muslim. Saya sangat cinta dia. Keluarga mereka bermasalah besar dan ditambah lagi dengan karena kehadiran saya, mereka sepakat cerai. Padahal saya tidak pernah setuju mereka bercerai dan saya ingin mereka memperbaiki keluarganya dan apabila saya harus pergi dari keadaan ini saya harus siap. Dan perceraian tetap terjadi. Setelah bercerai laki-laki tadi minta saya menjadi istrinya. Saat ini kami hidup bersama tanpa ikatan agama. Untuk ketenangan jiwa saya yang terus gundah saya mulai menjalankan sholat dan berdoa dengan cara Kristiani .walaupun hati saya takut dengan keislaman dan juga belum mantap di kekristenan. Pertimbangan saya ragu untuk menjadi istrinya adalah hukum merusak rumah tangga orang yang saya baca di media dan apakah pernikahan saya dan dia adalah kedzaliman bagi keluarga mereka. Mohon pencerahan. Apakah menikah jalan terbaik atau justru menambah masalah baru Terima kasih

    1. Ibu, merusak rumah tangga adalah dosa besar.
      Perbuatan beribadah dengan agama nasrani adalah kesalahan terbesar dan paling fatal.
      Jika Allah tidak melindungi, merahmati dan menyayangi, itu bisa menyeret kepada kesengsaraan yang terus menerus, bahkan setelah mati nanti.
      Pakailah sudut pandang “mencari Allah” ketika menghadapi masalah hidup.
      Jangan sudut pandang “bagaimana membuat diri menjadi nyaman”
      Siapa yang “mencari” Allah, maka Dia akan “menemuinya”, dan akan diberi kebahagiaan dunia melebihi apa yang diangankan.
      Taubat adalah program utama ibu saat ini.
      Taubat membersihkan diri, mensucikan jiwa dari segala dosa dan kesalahan.
      Carilah guru yang benar dalam islam.
      Yang Fakih (benar2 mengerti agama), zuhud (tidak cinta dunia), dan shalih

  13. ass. P ustad sya mnikah sdh 2thn.di awal prnkahn smpai skarang rmah tngga kami selalu di cmpuri oleh mertua dan kakak ipar sya,awalnya sya cma mkir ya udhlah mgkin mmg lebh baik klo dbmbing org tua..tp lma2 k jdi trlalu msuk rmahtgga kami..bahkn msalah uang sja tdak bleh dbrikan kpda sya.alasnnya ada sya br0s,sya g bsa pgang uang,cma bsa f0ya2..y sdh sya bsa trima slma 2thn uang slalu suami yg pgang.bahkan uang gaji saya suami yg pgang.kan hrusnya mslah keuangan istri yg ngtur..skrg q dh g prnah ja2n,bli2,jlan2 jd q blg sm suami klo q brhak mengatur keuangn pda awlnya suami memberikan upah gji kpd q,wlaw cma dkasih 50rb untk smggu q snag skali..q sdh brsykur..tp lma2 gk dksh lg..kan p0sisi ka2k iparq lg hmil..suamiq nyuruh q mw tggal dstu q nurut aja..tp pas dstu q pgen plg pgen liat keadaan rmah kan ibukq nkah lg jdi cma ada q suami dan adik2..tp sma skali g dblehkan,mlah kakak iparq ska blg kalau kluargaq brantakan kelaparn…dstu q cma bsa dngerin hinaannya..lalu pas dkmar q blg sma suami pgen plg pgn liat rumah smpai q nangis klo g nangis g d blehin,suamiku mau plg pas mw pmitan sma ibux sma kaka ipar mlah pda marah pda prgi.lalu kami plg nah pas smpai rumah kaka ipar suami sms isinya menjlek2n q..q g pntez jd istri dan blg klaw smua kluarga dstu g ad yg stju..si kakak slalu blg sma suami untk nggalin q,,sruh blik m ibuxnya lg..pdhal q g prnh sruh suamiq drhaka wlau tggl dsni q g prnh lrang k tmpat ibuxnya bhkan stiap mggu kmi slalu dtg..p ustad gmana msalah kakak dan mrtua yg slalu ikut cmpur smpai mengingin kami brcerai

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh.
      Mencampuri urusn rumah tangga orng lain adalh kezaliman, kemungkaran, dan dosa. Apalagi berusaha memisahkan, itu termasuk dosa besar, perbuatan tukang sihir dan program utama Iblis. Maslah ini intinya pad suami. Jk suami mau tegas dan melarang semua orng mencampuri urusan rumah tangganya, mk semua urusan selesai. Jk suami lembek, maka selama itu pula maslah akan selalu ada. Wallahua’lam

  14. assalam..
    Maaf p.Ustad mw tnya kluarga sy skrg sdn karam awalx ad pihak k tiga dr ipar sy.Dy slu nyuruh suami sy krumahx trz sdgkn suamix pergi k jkarta tentux sy pnx prsaan curiga pd kakak ipar sndiri tp dsmping tu sy perlu bantuan suami jg krn tiap hari kakak iparx tidak henti sms suamiq akhirx sy sms kakak iparx tu jgn trllu sring nyuruh suami krn suamiq pnx kluarga jg tp kakak iprx malh telp suami sy kl sy sms dy trs suamiq lgsung marah sm q ddpan ibu sya dy blang q lbh baik mlih kuarga dr pd sy istrix. Dy trz pergi mnggat dr sni smp sbulan skrg blm pulng.sdgkn sy sdh mnta maaf kpd suami sy.apa skrg yg hrs sy lakukn pak ustad? mhon pencerahanx..

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah.
      Datanglah ke ibu/ortu suami. Bicaralah baik2 dan ceritakan kejadiannya apa adanya. Minta maaflah jk memang merasa bersalah. Mintalah bantuan agar membenahi urusan rumah tangga putranya. Semoga dimudahkan. Wallahua’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 525 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: