Niat Dan Doa Zakat

Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

Ust mau tanya, apakah pelafalan niat zakat mal sama dengan zakat fitrah? Atau Cuma diganti fitrah menjadi mal saja? Trus apa lafal bacaan bagi orang yang menerima zakat tersebut. Syukron

Abdullah H.-Kalimantan

Jawaban

 Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Niat tidak harus dilafalkan, cukup menyengaja dengan hati. Jika dilafalkan, maka niat zakat Fithri sedikit berbeda dengan zakat Mal. Doa menerima zakat tidak terikat dengan lafadz tertentu, bisa mengambil dari riwayat doa-doa yang pernah diucapkan Rasulullah atau yang disarankan oleh ulama mu’tabar.

Definisi niat sebagaimana  dijelaskan dalam kamus-kamus bahasa seperti Al-Qomus Al-Muhith dan kamus-kamus istilah Fuqoha seperti Al-Muttholi’ ‘Ala Abwabi Al-Muqni’ adalah; القَصْدُ (hal menyengaja/penyengajaan) yaitu;

 عَزْمُ الْقَلْبِ عَلى فِعْلِ الشَّيْءِ

tekad hati untuk melakukan sesuatu

Jadi, niat adalah jenis dari  اْلإِرَادَةُ (kehendak), namun bukan kehendak biasa karena kehendak yang dimaksud adalah kehendak yang kuat (اْلعَزْمُ) yang diistilahkan dengan azam/kehendak yang kuat. Kehendak yang kuat tersebut diarahkan untuk melakukan perbuatan tertentu yang terkait dengan Mukallaf, bukan terkait dengan perbuatan orang lain. Karena itulah niat dideskripsikan sebagai; عَزْمُ الْقَلْبِ عَلى فِعْلِ الشَّيْءِ (tekad hati untuk melakukan sesuatu).

Jika seorang mukallaf telah menyengaja suatu perbuatan yaitu bertekad kuat untuk melakukan suatu perbuatan, maka dia dikatakan telah berniat  yang shahih meskipun tanpa mengucapkan niat. Berpuasa misalnya, jika orang yang hendak berpuasa telah menyengaja untuk berpuasa yaitu bertekad kuat untuk melakukan perbuatan puasa, maka pada saat itu dia telah merealisasikan niat yang shahih, dan niatnya sah meskipun tidak mengucapkan dalam hati dengan lisan.  Demikian pula zakat. Jika orang yang hendak berzakat, baik zakat Fithri maupun zakat mal telah menyengaja untuk berzakat, yaitu bertekad kuat untuk melakukan perbuatan zakat, maka pada saat itu dia telah merealisasikan niat yang shahih, dan niatnya sah meskipun tidak mengucapkan dalam hati dengan lisan. Niat tersebut, ketika didorong oleh mafhum bahwa puasa adalah perintah Allah semata-mata untuk meraih ridhanya, maka niat tersebut sudah ikhlas karena Allah meskipun dia tidak menggumamkan/mengucapkan dalam hati “Lillahi Ta’ala” (karena Allah Ta’ala).

Kesimpulannya, niat zakat dan juga niat ibadah-ibadah yang lainnya cukup merealisasikan makna menyengaja melakukan perbuatan, yaitu bertekad melakukan perbuatan tanpa diharuskan mengucapkan dengan lisan. Mengucapkan dengan lisan bukan syarat sah niat.

Namun, hal ini tidak bermakna bahwa mengucapkan dengan lisan diharamkan. Menggumamkan dalam hati maupun mengucapkan dengan lisan mubah saja jika dimaksudkan hanya menegaskan/memantapkan niat. Rasulullah SAW pernah mengucapkan niatnya berjihad memerangi orang-orang Quraisy.

عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَاللَّهِ لَأَغْزُوَنَّ قُرَيْشًا وَاللَّهِ لَأَغْزُوَنَّ قُرَيْشًا وَاللَّهِ لَأَغْزُوَنَّ قُرَيْشًا

Dari ‘Ikrimah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda; Demi Allah aku benar-benar akan memerangi Quraisy, Demi Allah aku benar-benar akan memerangi Quraisy, Demi Allah aku benar-benar akan memerangi Quraisy.

Diantara lafadz berniat zakat fitri untuk diri sendiri yang menyebar di masyarakat adalah sebagai berikut;

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكاَةَ الْفِطْرِ عَنْ نَفْسِيْ فَرْضًا للهِ تعالى

Aku berniat mengeluarkan zakat fithri untuk diriku sebagai kewajiban karena Allah Ta’ala

Jika untuk istri, diubah menjadi;

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكاَةَ الْفِطْرِ عَنْ زَوْجَتِيْ… فَرْضًا للهِ تعالى

Aku berniat mengeluarkan zakat fithri untuk istriku …. (disebut namanya)  sebagai kewajiban karena Allah Ta’ala

Jika untuk putra, diubah menjadi;

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكاَةَ الْفِطْرِ عَنْ ابْنِيْ… فَرْضًا للهِ تعالى

Aku berniat mengeluarkan zakat fithri untuk putraku …. (disebut namanya)  sebagai kewajiban karena Allah Ta’ala

Jika untuk putri, diubah menjadi;

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكاَةَ الْفِطْرِ عَنْ ابْنَتِيْ… فَرْضًا للهِ تعالى

Aku berniat mengeluarkan zakat fithri untuk putriku …. (disebut namanya)  sebagai kewajiban karena Allah Ta’ala

Jika niat zakat mal ingin dilafalkan, maka bisa membaca misalnya lafadz berikut;

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكاَةَ الْمَالِ عَنْ نَفْسِيْ فَرْضًا للهِ تعالى

Aku berniat mengeluarkan zakat mal untuk diriku sebagai kewajiban karena Allah Ta’ala

Untuk penerima zakat, disunnahkan mendoakan yang berzakat. Dalil yang menunjukkan sunnahnya mendoakan orang yang berzakat adalah ayat berikut;

{ خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ} [التوبة: 103]

ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. (At-Taubah-103)

Diantara doa yang bisa dibaca misalnya;

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى …

Ya Allah berilah Shalawat kepada….

Lafadz ini didasarkan pada hadis berikut;

صحيح البخاري (13/ 67)

عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أَوْفَى وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَةٍ قَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِمْ فَأَتَاهُ أَبِي بِصَدَقَتِهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِي أَوْفَى

dari ‘Amr bin Murrah ia berkata; aku mendengar Abdullah bin Abu Aufa, -dia adalah shahabat yang ikut berbai’at di bawah pohon- katanya; “Bila suatu kaum datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa sedekah, beliau lalu mendo’akannya: “Allahumma shalli ‘alaihim” (Ya Allah, berilah ampunan kepada mereka). Setelah itu bapakku menemui beliau sambil membawa sedekahnya. Beliaupun mendo’akanya: “Allahumma shalli ‘alaa aalii abu Aufa. (Ya Allah, berilah ampunan kepada keluarga Abu Aufa).” (H.R.Bukhari)

Lafadz lain yang bisa dibaca misalnya;

اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيهِ وَفِي أَمْوَالِهِ

“Ya Allah berkahilah dia dan hartanya”

Lafadz ini didasarkan pada hadis berikut;

سنن النسائي (8/ 185)

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ سَاعِيًا فَأَتَى رَجُلًا فَآتَاهُ فَصِيلًا مَخْلُولًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثْنَا مُصَدِّقَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنَّ فُلَانًا أَعْطَاهُ فَصِيلًا مَخْلُولًا اللَّهُمَّ لَا تُبَارِكْ فِيهِ وَلَا فِي إِبِلِهِ فَبَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ فَجَاءَ بِنَاقَةٍ حَسْنَاءَ فَقَالَ أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِلَى نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيهِ وَفِي إِبِلِهِ

dari Wail bin Hujr bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seorang petugas pengambil zakat, lalu ia mendatangi seseorang dan orang itu memberikan seekor anak unta sapihan yang kurus, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kami telah mengutus seorang petugas pengambil zakat utusan Allah dan Rasul-Nya, dan sungguh si fulan telah memberikan kepadanya seekor anak unta sapihan yang kurus. Ya Allah, janganlah Engkau berikan berkah kepadanya dan jangan pula kepada untanya.” Lalu berita itu sampai kepada orang tersebut, maka ia datang dengan membawa unta yang baik seraya berkata; ‘Aku bertaubat kepada Allah -Azza wa Jalla- dan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Ya Allah, berikan berkah kepadanya dan kepada untanya.’ (H.R.An-Nasai)

Bisa juga membaca doa yang disarankan Imam Syafi’I yang berbunyi;

آجَرَك اللَّهُ فِيمَا أَعْطَيْت وَجَعَلَهُ لَك طَهُورًا وَبَارَكَ لَك فِيمَا أَبْقَيْت

“Semoga Allah mengganjar atas apa yang engkau berikan, menjadikannya sebagai penyuci untukmu dan memberkahi hartamu yang tersisa”

Dalam Kitab Asna Al-Matholib disebutkan;

أسنى المطالب شرح روض الطالب (4/ 494)

وَالْأَوْلَى أَنْ يَقُولَ ) مَا اسْتَحَبَّهُ الشَّافِعِيُّ ( آجَرَك اللَّهُ فِيمَا أَعْطَيْت وَجَعَلَهُ لَك طَهُورًا وَبَارَكَ لَك فِيمَا أَبْقَيْت )

“Lebih utama membaca dia yang disukai oleh As-Syafi’i:Semoga Allah mengganjar atas apa yang engkau berikan, menjadikannya sebagai penyuci untukmu dan memberkahi hartamu yang tersisa” (Asna Al-Matholib Syarhu Roudhi Ath-Tholib, vol 4, hlm 494)

Wallahua’lam.

About these ads

8 responses

  1. Yaa ustadz…

    Bukankah ulama syafi’iyyah telah mengingkari pelafalan niat? Sebagaimana diutarakan imam an nawawi, az zairazi, as suyuthi dan ulama lainnya dari madzhab syafi’i?

    Adapun dalil yang antum paparkan, ini bukan menjadi dalil untuk dibenarkannya melafalkan niat…

    Adakah rasuulullaah melafalkannya pada zakat? Adakah demikian para shahabat memahami hadits diatas? Jika para shahabat memahami hadits diatas demikian, adakah pernah mereka mengamalkannya untuk zakat, shalat, atau selainnya?

    Seandainya demikian pemahaman haditsnya, tentulah mereka akan memahami demikian, tapi adakah?

    Dan ulama mana dari imam yg empat yang berdalil dengan hadits diatas atas pembolehan pelafalan niat?

    Ingat ustadz, bukankah asal muasal pensyari’atan dalam agama itu terlarang? Kecuali dengan dalil dan pemahaman yang shahiih?

    Allah berfirman

    أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ

    Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?

    (asy syuura: 21)

    1. jazakumullah atas masukan saudara Fillah..
      dengan senang hati, jika ada kelemahan Insya Allah saya akan mengoreksi penjelasan.
      Ada rencana untuk menulis topik ini dalam artikel tersendiri Insya Allah.
      silakan jika saudara Fillah memiliki sejumlah artikel, kitab, dll yang menjelaskan dengan hujjah yang jelas tentang keharaman melafalkan niat karena termasuk bid’ah. akan coba kami telaah secara lebih mendalam.
      lebih afdhol jika disertai dengan bantahan terhadap pendapat yang berbeda.
      untuk statemen bahwa ulama syafi’iyyah mengingkari pelafalan niat, mohon dicek lagi sumbernya, karena kami mendapati bahwa imam An-nawawi mensunnahkan pelafalan niat sebagaimana termaktub dalam kitab Al-Minhaj. beliau berkata;

      المنهاج للنووي (ص: 26)
      وَالنِّيَّةُ بِالْقَلْبِ
      وَيُنْدَبُ النُّطْقُ قُبَيْلَ التَّكْبِيرِ.

      bahkan keterangan wahbah Az-Zuhaily, sunnahnya melafalkan niat adalah pendapat Jumhur ulama.

      namun sy tdk mengingkari adanya ulama2 besar yang melarang/mengharamkannya seperti Ibnu taimiyah, Ibnu Al-Qoyyim, dll. termasuk ulama kontemporer seperti Ibnu utsaimin, ibnu baz, dll

      jadi, sepertinya lebih jelas jika sy menulis artikel tersendiri.
      Mudah2an Allah memudahkan.

      1. al-Imam Asy-Syarbini rahimahullah. Beliau berkata:

        وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ ، وَلَا تَكْفِي بِاللِّسَانِ قَطْعًا ، وَلَا يُشْتَرَطُ التَّلَفُّظُ بِهَا قَطْعًا كَمَا قَالَهُ فِي الرَّوْضَةِ

        “Niat letaknya dalam hati dan tidak perlu sama sekali dilafazhkan. Niat sama sekali tidak disyaratkan untuk dilafazhkan sebagaimana ditegaskan oleh An Nawawi dalam Ar Roudhoh [lihat 1/268].”

        mam Jalaluddin Abdur Rahman bin Abu Bakr As-Suyuthy asy Syafi’iy -rahimahullah- , seorang ulama bermadzhab Syafi’iyyah berkata,

        “Diantara jenis-jenis bid’ah juga adalah berbisik-bisik ketika berniat shalat. Itu BUKANLAH TERMASUK PERBUATAN Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan para sahabatnya. Mereka tidaklah pernah mengucapkan niat shalat, selain takbir.

        (Padahal) Allah -Ta’ala- berfirman,

        لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

        “Sungguh pada diri Rasulullah ada contoh yang baik bagi kalian”.

        (QS. Al-Ahzab: 21)

        Asy-Syafi’iy -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

        “Berbisik-bisik ketika berniat shalat, bersuci termasuk bentuk kejahilan terhadap syari’at, dan kerusakan dalam berpikir”.

        [Lihat Al-Amr bil Ittiba’ wa An-Nahyu an Al-Ibtida’ (hal. ......)]

        Syaikh Abu Ishaq Asy-Syairozy asy Syafi’iy -rahimahullah-, seorang pembesar madzhab Syafi’iyyah berkata ketika membicarakan tata cara shalat:

        “…Kemudian ia berniat. Berniat termasuk fardhu-fardhu shalat karena berdasarkan sabda Nabi,

        إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

        [“Sesugguhnya amalan itu tergantung niatnya dan bagi setiap orang apa yang ia niatkan” (Muttafaqun ‘alaih, dari shahabat ‘Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu)],

        dan karena ia juga merupakan ibadah murni (mahdhoh). Maka tidak sah tanpa disertai niat seperti puasa. Sedang tempatnya niat itu adalah DI HATI.

        Jika ia berniat dengan hatinya, tanpa lisannya, niscaya cukup. Di antara sahabat kami ada yang berkata,

        [“Dia berniat dengan hatinya, dan melafazhkan (niat) dengan lisan”.]

        Pendapat ini TIDAK ADA NILAINYA, karena niat itu adalah menginginkan sesuatu dengan hati”.

        [Lihat Al-Muhadzdzab (3/168-bersama Al-Majmu’) karya Asy-Syairazy -rahimahullah-]

        Imam An-Nawawy -rahimahullah- berkata ketika menukil pendapat orang-orang bermadzhab Syafi’i yang membantah ucapan Abu Abdillah Az-Zubairy (yang ia adalah orang yang pertama kali mengatakan bahwa niat itu dilafazhkan):

        “Para sahabat kami -yakni orang-orang madzhab Syafi’iyyah- berkata,

        [“Orang yang berpendapat demikian (yaitu melafazhkan niat) TELAH KELIRU. Bukanlah maksud Asy-Syafi’i dengan “mengucapkan” dalam shalat adalah ini (bukan melafazhkan niat). Bahkan maksudnya adalah (mengucapkan ) takbir”. ]”.

        [Lihat Al-Majmu (3/168)]

        Seorang Ulama dari kalangan madzhab Asy-Syafi’iyyah, Qodhi Abu Ar-Robi’ Sulaiman bin Umar Asy-Syafi’i -rahimahullah- berkata,

        “Mengeraskan niat dan bacaan di belakang imam bukan termasuk sunnah, bahkan makruh. Jika lantarannya terjadi gangguan terhadap orang-orang yang sedang shalat, maka itu Haram!

        Barangsiapa yang menyatakan bahwa “melafazhkan niat termasuk sunnah”, maka ia KELIRU… TIDAK HALAL (yaitu HARAM) BAGINYA, DAN SELAIN DIRINYA untuk menyatakan sesuatu dalam agama Allah TANPA ILMU”.

        Bahkan Syaikh Ala’uddin Ibnul Aththar asy Syafi’iy, dari kalangan madzhab Asy-Syafi’i -rahimahullah- berkata,

        “Mengeraskan suara ketika berniat disertai gangguan terhadap orang-orang yang sedang shalat merupakan perkara haram menurut ijma’.

        Jika tidak disertai gangguan, maka ia adalah BID’AH yang jelek.

        Jika ia maksudkan riya’ dengannya, maka ia haram dari dua sisi (bid’ah dan syirik ashghar), (dan ia) termasuk dosa besar.

        Orang yang mengingkari seseorang yang berpendapat itu SUNNAH, orangnya BENAR. Sedangkan orang yang membenarkannya KELIRU.

        Menisbahkan hal itu kepada agama Allah karena ia yakin itu agama, merupakan KEKUFURAN. Tanpa meyakini itu agama, (maka penisbahan itu) adalah MAKSIAT.

        Wajib bagi orang mukmin yang mampu untuk melarangnya dengan keras, mencegah dan menghalanginya.

        Perkara ini TIDAK PERNAH DINUKIL dari Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , seorang sahabatnya, dan tidak pula dari kalangan ulama kaum muslimin yang bisa dijadikan teladan”.

        [Lihat Majmu’Ar-Rosa’il Al-Kubro (1/254-257)]

        Maka mohon yaa ustadz, mendatangkan dalil tentang “pen-sunnah-an” pelafazhan niat ini… datangkan kepada kami SATU DALIL yang mana Rasuulullaah MENGUCAPKAN “ushalli/nawaytu…” dalam ibadahnya..

        Jika Rasulullah tidak ternukil MEN-SUNNAH-KAN hal tersebut, tidak pula para shahabt beliau… mengapa kita dengan berani “men-sunnah-kan” hal tersebut?!

        (Mohon jangan kembali berdalil dengan dalil umum, yang dipahami sendiri, tanpa melalui perantara pemahaman para shahabat/tabi’in)

      2. jazakumullah atas sejumlah datanya. insya Allah bermanfaat bagi ulasan dalam tulisan saya nanti.

        untuk pelafalan, sedikit perlu sy tegaskan,bhw sy menguatkan pendapat Mubah BUKAN sunnah atau haram.
        kutipan sy thd statemnen an-nawawi sekedar mengoreksi statemen penjenengan yg mengatakan bhw Syafi’iyyah dan an-nawawi mengingkari pelafalan niat.
        tentu dg maksud agar kita berhati2 dlm menukil pendapat ulama dan berhati2 dalam menyikapi pembahsan fikih yg diduga termasuk pembahsan ikhtilaf.
        An-Nawawi sudah barang tentu bukan ulama sembarangan. keilmuannya diakui lintas madzhab, meski beliau bermadzhab syafi’i.
        adalah tidak seyogyanya dan tidak pantas jika kita menuduh beliau berijtihad sunnahnya pelafalan niat hanya karena berdasarakan hawa nafsu tanpa dalil.
        apalagi jika kita nanti tahu bhw yg berpendapat sunnah bukan hanya an-nawawi tp banyak ulama yg lain dr berbagai madzhab.
        sy tergagas untuk berfikir; lebih hati2 dan tawadhu’ jk kita mencoba menelaah mslh ini scr lebih mendalam berdasarkan hujjah seraya “mencurigai:” pengetahuan kita: jangan2 ada banyak hal yg belum kita ketahui”
        mungkin dg sikap ini kita bisa berharap Allah berkenan memberi petunjuk dlam Al-Haqq/kebenaran, ketika ALlah tahu isi hati kita memang ingin mencari kebenaran, bukan yg lain.

        mudah2an usahanya tercatat sebagai amal shalih.

      3. Justru imam nawawi TIDAK SEPAKAT dengan pendapat sebagian syafi’iyyah yang “membolehkan/mensunnahkan” pelafalan niat…

        Apa maksud “an-nuthq”?

        Simak PENJELASAN IMAM NAWAWI:

        قَالَ أَصْحَابُنَا غَلِطَ هَذَا الْقَائِلُ وَلَيْسَ مُرَادُ الشَّافِعِيِّ بِالنُّطْقِ فِي الصَّلَاةِ هَذَا بَلْ مُرَادُهُ التَّكْبِيرُ

        “Ulama kami (syafi’iyah) mengatakan, ‘Orang yang memaknai demikian (pelafazhan) adalah KELIRU. Yang dimaksud As Syafi’i dengan “an nuthq” ketika shalat bukanlah melafalkan niat namun maksud beliau adalah takbiratul ihram’.”

        (Al Majmu’, 3:277).

        Masihkah “berdalil” dengan ucapan an nawawi? Sedangkan beliau memaksudkan an nuthq dengan takbiratul ihraam?!

        Kesalahpahaman ini juga dibantah oleh Abul Hasan Al Mawardi As Syafi’i, beliau mengatakan,

        فَتَأَوَّلَ ذَلِكَ – الزُّبَيْرِيُّ – عَلَى وُجُوبِ النُّطْقِ فِي النِّيَّةِ ، وَهَذَا فَاسِدٌ ، وَإِنَّمَا أَرَادَ وُجُوبَ النُّطْق بِالتَّكْبِيرِ

        “Az Zubairi TELAH SALAH dalam menakwil ucapan Imam Syafi’i dengan wajibnya mengucapkan niat ketika shalat. Ini adalah takwil yang salah, yang dimaksudkan wajibnya mengucapkan (TAKBIR) adalah ketika takbiratul ihram.”

        (Al-Hawi Al-Kabir, 2:204).

        Imam An-Nawawi mengatakan:

        النية في جميع العبادات معتبرة بالقلب ولا يكفي فيها نطق اللسان مع غفلة القلب ولا يشترط

        “Niat dalam semua ibadah yang dinilai adalah hati, dan tidak cukup dengan ucapan lisan sementara hatinya tidak sadar. Dan tidak disyaratkan dilafalkan,…” (Raudhah at-Thalibin, 1:84)

        Dalam buku yang sama, beliau juga menegaskan:

        لا يصح الصوم إلا بالنية ومحلها القلب ولا يشترط النطق بلا خلاف

        “Tidak sah puasa kecuali dengan niat, dan tempatnya adalah hati. Dan tidak disyaratkan harus diucapkan, tanpa ada perselisihan ulama…”

        (Raudhah at-Thalibin, 1:268)

        Dalam I’anatut Thalibin –salah satu buku rujukan bagi syafiiyah di Indonesia–, Imam Abu Bakr ad-Dimyathi As-Syafii juga menegaskan:

        أن النية في القلب لا باللفظ، فتكلف اللفظ أمر لا يحتاج إليه

        “Sesungguhnya niat itu di hati bukan dengan diucapkan. Memaksakan diri dengan mengucapkan niat, termasuk perbuatan yang tidak butuh dilakukan.”

        (I’anatut Thalibin, 1:65)

        JELAS, bahwa “pensunnahan” atau “pembolehan” ini sudah DIINGKARI oleh madzhab syafi’iy itu sendiri…

        Lagi pula… Agama ini milik Allah, dan hanya Allah yang berhak mensyari’atkan atau mengizinkan apapun dalam syari’atNya… Tidak ada seorang pun berhak mengatakan “ini termasuk bagian dari syari’at” atau menisbatkan sesuatu dalam syari’atNya dengan membolehkan suatu perbuatan dalam ibadah, tanpa perantaraan WAHYU …

        Alangkah sangat mengherankan membawakan dan berdalil “perkataan ulamaa” tanpa sama sekali membawakan dalilnya.

        Bahkan “perkataan ulama” yang dibawakan pun dipahami sendiri, bukan seperti apa yang dimaksudkan ulama tersebut…

        Kita bukannya merendahkan ulamaa’, tapi membolehkan atau mensunnahkan sesuatu dalam agama ini MEMBUTUHKAN DALIL yang datang dari Allah dan RasulNya, dengan disertai pula pemahaman yang benar.

        Lagi pula jelas “khilaf” seperti ini adalah khilaf. YANG TIDAK DIANGGAP (ghayru mu’tabar) seperti dinyatakan ulama syafi’iyyah diatas..

      4. saudara tergesa2 dalam memahami statemen an-nawawy.
        coba diperiksa lagi:
        yang dikritik annawawy dan ulama2 madzhab syafi’iyyah adalah pendapat Abu Abdillah Az-Zubairy (yg juga bermadzhab syafi’i) yang berpendapat WAJIB melafalkan niat.pndpt azzubairy ini dikritik krn dianggap keliru memahami statemen as-syafi’i tentang makna Nutqh yg sesungguhnya dimaksudkan sbg takbirotul ihrom.
        an nawawy tdk pernah mengkritik pendapat yg MENSUNNAHKAN atau MEMUBAHKAN pelafalan niat.
        jangan khawatir, penjelasan dalil apa yg sy jelaskan insya Allah kami usahakan dibahas scr lbh luas

  2. pegang pendapat anda masing2,, bedasarkn ilmu yg anda pelajari dan yakin.,, jgn saling menyalahkn. karena kebenaran milik ALLOH.
    Utk ibn abdillaah. klw anda selalu menyalahkn hal bagi penganut syafiiyyah,, berarti anda lebih ‘aliim dr imam syafi’i,, imam nawawi, imam ghozali dan banyak lg ulama2 yg sesudah nya yg alloh berikn karomah,, maunnah,, karismatik yg tinggi.
    Jadi mohon kesadarannya utk banyak mengamalkn ilmu yg anda miliki, sehingga anda menjadi org tawaddhu’ yg akn menghargai pendapat org lain. karena 4 imam/mazhab yg terkenal itu dia saling menghormati, menghargai pendpt diantara mereka.

  3. ikhtilafi ummati rahmah
    assalamu’alaikum ikhwatu fillah, afwan ana ikut koment..
    Smua itu baik kok! Yg g baik adlh org yg g brbuat.. Niat dgn lafadznya mengajarkan niat dlm hati bg kaum awwam.. Sdangkan niat dlm hati saja bg yg sdh faham.. Bg yg sdh faham, diam itu lbh baik.. Syukran ust..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 558 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: