Hukum Talak Mu’allaq (Talak Tergantung)

oleh: Muhammad Muafa

 

Assalamu ‘alikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustad yang saya hormati,

Terus terang saja saya mempunyai perasaan yang bikin hati nggak tenang,
dan sampai saat ini kepikiran terus, masalahnya adalah:

Saat ini saya sudah melakukan cerai rujuk 2x, berarti  kalau saya
bercerai lagi pasti tidak ada kesempatan untuk rujuk (saya akui
perbuatan saya sangat jelek sampai2 ua saya yang kiayi terkenal di
Sukabumi bilang ke saya “tidak bagus suka mengobral talak”.  padahal
talak saya dikeluarkan agar istri saya menjadi baik dan nggak melakukan
banyak kesalahan seperti berbohong dan suka pinjam2 uang ke orang lain,
dan sekaligus membentengi istri saya agar jangan begitu begitu lagi,
dengan harapan kalau dibentengi talak dia akan takut ).

Nah yang jterakhir,  apakah saya sudah jatuh cerai yang ke tiga atau
belum ? karena saya pernah berucap sama istri saya ” kalau kamu nggak
ikut sama saya pergi ke acara di ibu (kandung) saya maka jatuh talak “.
Ternyata sampai  batas waktu terakhir yang ditentukan, istri saya nggak
mau ikut dengan saya ke acara ibu (kebetulan istri saya mempunyai acara
sejenis dengan yang di ibu kandung saya).
Karena ada gelagat dia pasti
nggak mau ikut, maka saya ralat sendiri ucapan saya (pararun ya Allah
saya ralat ucapan talak saya itu).

Ustad yang baik, karena kegundahan hati saya ini saya ingin ada jawaban
yang syar’i agar rumah tangga saya kedepan dengan istri saya tidak
menyalahi aturan agama Islam.  Tentu saja  bagi saya sendiri selalu
kepikiran terus sedangkan istri ketika ditanya oleh saya soal pernah
berucap tersebut atau tidak dia tidak ingat sama sekali.

Sebagai gambaran, memang selama rumah tangga dirasakan kurang harmonis
walaupun sdh berumah tangga 24 tahun dan dikaruniai 6 anak (1 perempuan
, 5 laki2), kalau diistilahkan bahasa sunda mah AWET RAJET (rumah tangga
jalan tapi cekcok melulu).

Sekali lagi ustad, saya mohon petunjuk dengan jawabannya.

Terima kasih banyak atas bantuannya.

Wassalamu ‘alikum warahmatullahi wabarakatuh.

(Nama dan alamat penanya ada pada kami)


Jawaban

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Talak tersebut telah jatuh, sehingga jatuhlah talak yang ketiga yang berkonsekuensi tidak halalnya istri kembali kepada suami  sampai istri menikah lagi dengan pria lain dengan pernikahan wajar (bukan pura-pura/sandiwara/perkomplotan), kemudian diceraikan.

Menjatuhkan talak dengan cara mengaitkan dengan terjadinya hal lain disebut para Fuqoha’ dengan istilah الطَّلاَقُ الْمُعَلَّقُ (Suspended Divorce/ Talak Tergantung). Kasus talak yang ditanyakan penanya termasuk jenis ini, karena mengancam jatuhnya talak kepada istri, jika istri tidak melakukan perbuatan yang diperintahkan suami. Ketentuan Fikih dalam hal ini, talak dihukumi jatuh jika syarat yang disebutkan pada ancaman talak tersebut terealisasi.  Maka, seandainya seorang suami berkata kepada istrinya; “Jika matahari telah tenggelam hari ini, maka jatuhlah talakku kepadamu” atau “jika engkau menerima tamu tanpa seizinku, maka jatuhlah talakku kepadamu”, atau “jika engkau berhutang lagi tanpa sepengetahuanku, maka jatuhlah talakku kepadamu”, kemudian tiba waktu tenggelamnya matahari, atau istri menerima tamu tanpa seizin suami, atau istri berhutang tanpa sepengetahuan suami, dalam kondisi ini semuanya dihukumi jatuh talak tanpa bisa diralat lagi. Pada kasus yang ditanyakan penanya, suami mengancam istri jika tidak ikut hadir pada acara di ibu kandung maka jatuh talak. Ternyata istri tidak ikut hadir bersama suami. Dengan demikian syarat jatuhnya Tholaq Mu’allaq telah terealisasi sehingga hukum talak tiga telah jatuh dan berlaku konsekuensi-konsekuensi talak tiga dalam Syariat.  Hukum jatuhnya talak ini tidak membedakan apakah ancaman talak bersyarat itu benar-benar dimaksudkan mentalak atau sekedar “mengancam/menakut-nakuti/mendorong melakukan suatu perbuatan” dan semisalnya. Niat apapun dari suami yang mengucapkan ancaman talak tidak diperhatikan, dan ketentuan jatuhnya talak tetap berlaku.

Dalil yang menunjukkan Tholaq Mu’allaq dihukumi jatuh talak jika syarat yang diancamkan telah terealisasi adalah sejumlah nash berikut;

Pertama; membuat syarat yang tidak bertentangan dengan hukum Syara’ hukumnya Mubah, dan kaum Muslimin terikat oleh syarat yang dibuatnya. Ad-Daruquthni meriwayatkan;

سنن الدارقطنى – مكنز (7/ 194، بترقيم الشاملة آليا)

عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ الْمُزَنِىِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْمُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا ».

“Dari Katsir bin Abdillah bin ‘Amr bin ‘Auf Al-Muzany dari ayahnya dari kakeknya dai Nabi SAW, beliau bersabda ” Kaum Muslimin terikat syarat-syarat mereka, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram” (H.R.Ad-Daruquthni)

Membuat syarat jatuhnya talak termasuk keumuman bolehnya membuat syarat dalam Hadis ini. Oleh karena itu, hukum jatuhnya talak berlaku ketika syarat tersebut terealisasi sebagaimana talak dijatuhkan tanpa ada syarat.

Kedua; Talak dihukumi tetap jatuh baik diucapkan dengan serius maupun bercanda. Abu dawud meriwayatkan;

سنن أبى داود – م (2/ 225)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ ».

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga perkara, seriusnya dihukumi serius dan candanya (tetap) dihukumi serius, yaitu; nikah, perceraian, dan Rujuk (H.R.Abu Dawud).”

Tholaq Mu’allaq jelas menyebut lafadz talak sebagai ancaman, karena itu apapun motivasi mengucapkan ancaman tersebut, entah serius, main-main, atau sekedar menakut-nakuti termasuk cakupan makna Hadis ini. Karena itu, talak dihukumi jatuh ketika syarat ancaman talak tersebut telah terealisasi.

Ketiga; Ibnu Umar berfatwa jatuhnya talak pada kasus Tholaq Mu’allaq. Bukhari meriwayatkan;

صحيح البخاري (16/ 315)

قَالَ نَافِعٌ طَلَّقَ رَجُلٌ امْرَأَتَهُ الْبَتَّةَ إِنْ خَرَجَتْ فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ إِنْ خَرَجَتْ فَقَدْ بُتَّتْ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ تَخْرُجْ فَلَيْسَ بِشَيْءٍ

“Nafi’ berkata: Seorang lelaki mentalak istrinya dengan talak Battah (talak tiga/Bainunah Kubro) jika sang istri keluar (dari rumah suaminya). Maka Ibnu Umar berkomentar; Jika wanita itu keluar, maka dia tertalak oleh lelaki itu. Jika dia tidak keluar maka tidak ada konsekuensi apapun” (H.R.Bukhari)

Adanya fatwa dari Ibnu Umar ini menunjukkan bahwa ketentuan jatuhnya talak pada kasus Tholaq Mu’allaq sudah diketahui semenjak zaman Shahabat. Fatwa Ibnu Umar ini dikuatkan oleh riwayat fatwa senada dari Ibnu Mas’ud. Al-Baihaqi meriwayatkan;

السنن الكبرى للبيهقي وفي ذيله الجوهر النقي (7/ 356)

 عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ فِى رَجُلٍ قَالَ لاِمْرَأَتِهِ : إِنْ فَعَلَتْ كَذَا وَكَذَا فَهِىَ طَالِقٌ فَتَفْعَلُهُ قَالَ : هِىَ وَاحِدَةٌ وَهُوَ أَحَقُّ بِهَا.

“Dari Abdullah bin Mas’ud, tentang seorang lelaki yang berkata kepada istrinya; Jika dia (sang istri) melakukan ini  dan itu maka dia tertalak. (ternyata) wanita itu melakukannya. Maka Ibnu Mas’ud berkomentar; itu (sudah jatuh talak) satu, dan dia (lelaki itu) lebih berhak kepadanya -untuk Rujuk kembali- (H.R.Al-Baihaqi)

 

Adapula riwayat yang menunjukkan bahwa para Fuqoha’ Madinah berfatwa dengan fatwa ini. Al-Baihaqi meriwayatkan;

السنن الكبرى للبيهقي وفي ذيله الجوهر النقي (7/ 356)

عن ابْنِ أَبِى الزِّنَادِ عَنْ أَبِيهِ عَنِ الْفُقَهَاءِ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ كَانُوا يَقُولُونَ : أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لاِمْرَأَتِهِ أَنْتِ طَالِقٌ إِنْ خَرَجْتِ حَتَّى اللَّيْلِ فَخَرَجَتِ امْرَأَتُهُ أَوْ قَالَ ذَلِكَ فِى غُلاَمِهِ فَخَرَجَ غُلاَمُهُ قَبْلَ اللَّيْلِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ طَلَقَتِ امْرَأَتُهُ وَعَتَقَ غُلاَمُهُ لأَنَّهُ تَرَكَ أَنْ يَسْتَثْنِىَ لَوْ شَاءَ قَالَ بِإِذْنِى وَلَكِنَّهُ فَرَّطَ فِى الاِسْتِثْنَاءِ فَإِنَّمَا يُجْعَلُ تَفْرِيطُهُ عَلَيْهِ.

“Dari Ibnu Abi Az-Zinad dari ayahnya dari para Fuqoha’ penduduk Madinah, mereka memfatwakan; lelaki manapun yang berkata kepada istrinya: “Engkau tertalak jika engkau keluar hingga malam hari, kemudian ternyata istrinya keluar, atau dia mengatakan ucapan itu kepada budaknya, lalu budaknya keluar sebelum malam tiba tanpa sepengetahuannya, maka istrinya tertalak dan budaknya menjadi bebas. Hal itu dikarenakan dia tidak melakukan Istitsna’ (pengecualian). Kalau dia mau, dia bisa mengatakan “dengan izinku”, tetapi dia melalaikan Istitsna’, sehingga beban kealaian itu ditimpakan kepadanya (H.R.Al-Baihaqi)

 

Tidak bisa mengatakan bahwa riwayat fatwa Ibnu Umar adalah riwayat yang lemah. Klaim ini tertolak karena Hadis tersebut diriwayatkan Bukhari dalam Shahihnya. Meskipun Bukhari meriwayatkannya secara Mu’allaq, namun beliau menyebutkannya dengan Sighat Jazm (tegas) sehingga riwayatnya terhitung Shahih. Lagipula Ibnu hajar telah menyebutkan sanad lengkapnya dalam kitab Taghliqu At-Ta’liq. Justru riwayat fatwa shahabat yang bertentangan dengan riwayat fatwa Ibnu Umarlah yang lebih layak dipertanyakan keshahihannya, sekaligus diperiksa ulang redaksinya karena riwayat-riwayat yang ada seringkali difahami tidak tepat sebagai Tholaq Mu’allaq  padahal sebenarnya adalah terkait sumpah.

Tidak bisa pula memahami bahwa riwayat fatwa Ibnu Umar itu adalah dalam kondisi suami memang berniat talak sehingga dihukumi talak. Tidak bisa diklaim demikian, karena tidak ada perincian apapun dalam lafadz riwayat yang memberi isyarat niat suami. Karena itu, lafadz riwayat tersebut harus difahami umum dan mutlak yang mencakup niat talak maupun hanya niat menakut-nakuti. Lagipula Ibnu Umar dalam berfatwa sama sekali tidak menyinggung niat suami dalam membangun fatwa.

Keempat; Suami dalam kondisi memegang hak talak dan mentalak berdasarkan pilihannya tanpa dipaksa. At-Tirmidzi meriwayatkan;

سنن الترمذى (4/ 421)

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا نَذْرَ لِابْنِ آدَمَ فِيمَا لَا يَمْلِكُ وَلَا عِتْقَ لَهُ فِيمَا لَا يَمْلِكُ وَلَا طَلَاقَ لَهُ فِيمَا لَا يَمْلِكُ

“Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada nadzar bagi anak Adam terhadap sesuatu yang tidak dimilikinya, tidak ada (hak) memerdekakan pada sesuatu yang tidak dimilikinya dan tidak ada (hak) talaq pada sesuatu yang tidak dimilikinya (H.R.At-Tirmidzi).”

Hadis diatas menerangkan bahwa tidak ada  talak bagi orang yang tidak memiliki hak talak. Artinya, orang yang tidak memiliki hak talak jika menjatuhkan talak maka talaknya tidak jatuh. Mafhumnya; orang yang memiliki hak talak, dan mentalak berdasarkan pilihannya tanpa dipaksa berarti talaknya jatuh. Suami yang mentalak dengan cara Tholaq Mu’allaq termasuk keumuman Mafhum Hadis ini, oleh karena itu Tholaq Mu’allaq juga jatuh berdasarkan Hadis ini.

Itulah dalil-dalil utama yang menunjukkan jatuhnya Tholaq Mu’allaq.

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa Tholaq Mu’allaq dihukumi berdasarkan niatnya; jika berniat talak maka jatuh talak, jika berniat hanya menakut-nakuti maka tidak dianggap talak tetapi hanya dianggap sumpah yang cukup ditebus dengan Kaffaroh dalam kondisi terealisasi syarat, yang mana pendapat ini mendasarkan hujjahnya pada Hadis Nabi yang berbunyi;

صحيح البخاري (1/ 3)

 إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Amal-amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya (H.R.Bukhari)

Maka argumen ini tidak bisa diterima. Alasannya; Perlakuan dan konsekuensi hukum Syara’ memperhatikan yang Dhohir bukan niat pelaku. Niat pelaku adalah urusan hamba dengan Allah, bukan hamba dengan sesama hamba. Seorang munafik yang bersyahadat, meskipun tidak ada niat masuk Islam sama sekali, tetapi karena Dhohirnya dia telah bersyahadat maka diterapkan hukum-hukum sebagai seorang Muslim. Urusan batin dan niat dia bukan wilayah tanggungjawab manusia. Allahlah yang akan menghisab dia pada hari pembalasan terkait niat jahatnya. Umar pernah berpidato menegaskan kaidah ini. Bukhari meriwayatkan;

صحيح البخاري (9/ 118)

عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُتْبَةَ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ

إِنَّ أُنَاسًا كَانُوا يُؤْخَذُونَ بِالْوَحْيِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّ الْوَحْيَ قَدْ انْقَطَعَ وَإِنَّمَا نَأْخُذُكُمْ الْآنَ بِمَا ظَهَرَ لَنَا مِنْ أَعْمَالِكُمْ فَمَنْ أَظْهَرَ لَنَا خَيْرًا أَمِنَّاهُ وَقَرَّبْنَاهُ وَلَيْسَ إِلَيْنَا مِنْ سَرِيرَتِهِ شَيْءٌ اللَّهُ يُحَاسِبُهُ فِي سَرِيرَتِهِ وَمَنْ أَظْهَرَ لَنَا سُوءًا لَمْ نَأْمَنْهُ وَلَمْ نُصَدِّقْهُ وَإِنْ قَالَ إِنَّ سَرِيرَتَهُ حَسَنَةٌ

“Dari Az Zuhriy berkata, telah menceritakan kepadaku Humaid bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf bahwa ‘Abdullah bin ‘Utbah berkata, aku mendengar ‘Umar bin Al Khaththob radliallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya sejumlah orang dihukum berdasarakan (pemberitahuan) wahyu  pada masa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan hari ini wahyu sudah terputus. Dan hari ini kita menilai kalian berdasarkan amal amal yang nampak (zhahir). Maka siapa yang secara zhahir menampakkan perbuatan baik kepada kita, kita percaya kepadanya dan kita dekat dengannya dan bukan urusan kita apa yang tersembunyi darinya karena hal itu sesuatu yang menjadi urusan Allah dan Dia yang akan menghitungnya. Dan siapa yang menampakkan perbuatan yang jelek kepada kita, maka kita tidak percaya kepadanya dan tidak membenarkannya sekalipun batinnya baik (H.R.Bukhari)” .

Syariat Li’an juga menunjukkan bahwa konsekuensi hukum itu hanya melihat Dhohirnya, bukan maksud dan niat pelaku Li’an. Allah berfirman;

{وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ (6) وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (7) وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَنْ تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ (8) وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ } [النور: 6 – 9]

6. dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), Padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya Dia adalah Termasuk orang-orang yang benar.

7. dan (sumpah) yang kelima: bahwa la’nat Allah atasnya, jika Dia Termasuk orang-orang yang berdusta.

8. Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah Sesungguhnya suaminya itu benar-benar Termasuk orang-orang yang dusta.

9. dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu Termasuk orang-orang yang benar. (An-Nur; 6-9)

Dalam kasus  Li’an, pasti ada salah satu yang berdusta. Namun jika dua pihak yang berli’an semuanya berani bersumpah sebanyak lima kali untuk mendustakan lawannya, maka kedua-duanya selamat dari konsekuensi hukum (cambuk atau rajam) karena Dhohirnya mereka memang tidak bersalah. Namun diakhirat, kedustaan salah satu diantara mereka pasti terbukti dan akan dibalas. Dan ini berada diwilayah wewenang Allah karena terkait dengan maksud dan niat batin manusia yang tidak ada yang tahu kecuali Allah.

Hadis;

صحيح البخاري (1/ 3)

 إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Amal-amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya (H.R.Bukhari)

juga tidak tepat dipakai disini, karena topik Hadis tersebut adalah membahas keikhlasan amal seorang hamba. Bukan konsekuensi hukum syara yang diterapkan kepada orang yang berniat. Orang yang berhijrah karena menikahi wanita, tetap dihukumi Muhajirin secara dhohir, namun dari aspek keikhlasan tercela karena tidak murni berhijrah karena Allah.

Lagipula, Hadis riwayat Abu Dawud menegaskan bahwa talak itu termasuk perkara yang dihukumi jatuh, baik dilakukan dengan serius maupun canda. Hal ini menunjukkan bahwa niat suami yang mentalak sama sekali tidak diperhatikan. Hikmahnya; orang tidak akan bisa beralasan bercanda ketika mentalak demi menganulir ucapan talak yang telah diucapkannya. Anulir-anulir talak dengan alasan canda secara otomatis akan membuat syariat talak menjadi sia-sia, karena orang akan selalu bisa beralasan canda untuk mengingkari pernah mentalak.  Dengan adanya ketentuan jatuhnya talak yang diucapkan serius maupun canda, maka orang akan lebih berhati-hati mengucapkan kata-kata talak.

Adapun alasan bahwa Tholaq Mu’allaq dianggap tidak berlaku dengan mengqiyaskan tidak bolehnya ada Zawaj Mu’allaq (pernikahan digantung), maka alasan ini tidak bisa diterima. Karena talak berbeda dengan akad Nikah. Akad nikah adalah akad antara dua pihak, semnatara talak hanya menjadi hak suami dan tidak perlu ridha istri. Oleh karena dua ahal ini berbeda, maka keduanya tidak bisa diqiyaskan/dianalogikan.

Adapun argumen bahwa Nabi pernah mengharamkan minum madu zainab lalu ditegur Allah dengan turunnya surat At-Tahrim dan diperintahkan membatalkan sumpahnya, kemudian hal ini difahami bahwa sumpah tidak selalu memakai lafadz sumpah sehingga boleh saja Tholaq Mu’allaq difahami sumpah (yang konsekuensinya hanya wajib ditebus dengan Kaffaroh), bukan difahami jatuhnya talak, maka argumentasi ini tidak dapat diterima karena dua alasan. Pertama; ucapan Nabi saat bertekad tidak mau minum madu Zainab itu sama sekali tidak mengandung unsur Ta’liq (mengaitkan) dengan terealisasinya sesuatu sebagaimana dalam Tholaq Mu’allaq. Kedua; riwayat Bukhari jelas sekali menunjukkan bahwa Nabi memakai lafadz “Halafa” (bersumpah) sebelum bertekad tidak minum madu. Hal ini menunjukkan sumpah yang diperintahkan Allah untuk dibatalkan itu adalah sumpah yang memang diucapkan nabi, bukan tekad untuk tidak minum madu yang difahami sebagai sumpah. Bukhari meriwayatkan;

صحيح البخاري (20/ 391)

عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ زَعَمَ عَطَاءٌ أَنَّهُ سَمِعَ عُبَيْدَ بْنَ عُمَيْرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ عَائِشَةَ تَزْعُمُ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَمْكُثُ عِنْدَ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ وَيَشْرَبُ عِنْدَهَا عَسَلًا فَتَوَاصَيْتُ أَنَا وَحَفْصَةُ أَنَّ أَيَّتَنَا دَخَلَ عَلَيْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلْتَقُلْ إِنِّي أَجِدُ مِنْكَ رِيحَ مَغَافِيرَ أَكَلْتَ مَغَافِيرَ فَدَخَلَ عَلَى إِحْدَاهُمَا فَقَالَتْ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ لَا بَلْ شَرِبْتُ عَسَلًا عِنْدَ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ وَلَنْ أَعُودَ لَهُ فَنَزَلَتْ

{ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ }

{ إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ }

لِعَائِشَةَ وَحَفْصَةَ

{ وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا }

لِقَوْلِهِ بَلْ شَرِبْتُ عَسَلًا

و قَالَ لِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى عَنْ هِشَامٍ وَلَنْ أَعُودَ لَهُ وَقَدْ حَلَفْتُ فَلَا تُخْبِرِي بِذَلِكِ أَحَدًا

“Dari Ibnu Juraij menuturkan; ‘Atha` mengataka  bahwa dirinya pernah mendengar Ubaid bin Umair mengatakan; aku pernah mendengar ‘Aisyah menuturkan; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di rumah Zainab binti Jahsy dan meminum madu dirumahnya, maka aku dan Hafshah saling berpesan bahwa siapa saja diantara kami berdua yang didatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hendaknya kami mengatakan; ‘Aku mencium bau pohon mighfar dimulutmu, apakah engkau telah makan buah mighfar? ‘ Nabi kemudian menemui salah satu dari keduanya dan dia mengatakan ucapan yang telah disepakati keduanya, namun Nabi justeru menjawab: “Tidak, tetapi aku minum madu di tempat Zainab binti Jahsy, dan sekali-kali aku tidak akan mengulanginya.” Maka turunlah ayat yang menegur Nabi; “Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan sesuatu yang telah Allah halalkan kepadamu’ dan ayat, ‘jika kalian berdua bertaubat kepada Allah, ‘ ditujukan kepada Aisyah dan Hafshah. Dan firman-Nya; ‘Ingatlah ketika Nabi merahasiakan sebuah pembicaraan kepada sebagian isterinya, ‘ petikan ayat ini untuk ucapan Nabi yang mengatakan: ‘Namun aku minum madu.’ Ibrahim bin Musa berkata kepadaku; dari Hisyam dengan tambahan redaksi: “Saya sekali-kali tak akan mengulanginya selama-lamanya, saya telah bersumpah, maka janganlah kalian kabarkan kepada seorang pun.”(H.R.Bukhari)

Adapun ketentuan syariat bahwa sumpah Laghwun (sumpah main-main) tidak dihukum, dan hanya sumpah serius saja yang dihukum (ada konsekuensi syariat), berdasarkan ayat;

{لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ } [المائدة: 89]

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja (Al-Maidah; 89)

maka ketentuan ini tidak bisa menjadi dalil  bahwa niat diperhatikan dalam kasus Tholaq Mu’allaq. Alasannya;  Tholaq Mu’allaq  tidak bisa dihukumi sebagai sumpah dan belum bisa disamakan dengan sumpah. Lagipula hukum sumpah berbeda dengan hukum talak dan tidak bisa diqiyaskan. Sumpah main-main memang tidak dihukumi jatuh, tetapi talak main-main dihukumi jatuh berdasarakan nash.

Kisah Maulat (majikan wanita) Abu Rofi’ juga tidak bisa dijadikan dasar bahwa Thalaq Mu’allaq dihukumi sumpah. Dengan meneliti redaksinya kita akan bisa memahami bahwa riwayat tersebut sama sekali tidak menunjukkan bahwa Tholaq Mu’allaq dihukumi sebagai sumpah.

سنن الدارقطنى – مكنز (10/ 167، بترقيم الشاملة آليا)

عَنْ أَبِى رَافِعٍ قَالَ قَالَتْ مَوْلاَتِى لأُفَرِّقَنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَ امْرَأَتِكَ وَكُلُّ مَالٍ لَهَا فِى رِتَاجِ الْكَعْبَةِ وَهِىَ يَوْمًا يَهُودِيَّةٌ وَيَوْمًا نَصْرَانِيَّةٌ وَيَوْمًا مَجُوسِيَّةٌ إِنْ لَمْ تُفَرِّقْ بَيْنَكَ وَبَيْنَ امْرَأَتِكَ قَالَ فَانْطَلَقْتُ إِلَى أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أُمِّ سَلَمَةَ فَقُلْتُ إِنَّ مَوْلاَتِى تُرِيدُ أَنْ تُفَرِّقَ بَيْنِى وَبَيْنَ امْرَأَتِى فَقَالَتِ انْطَلِقْ إِلَى مَوْلاَتِكَ فَقُلْ لَهَا إِنَّ هَذَا لاَ يَحِلُّ لَكِ. فَرَجَعْتُ إِلَيْهَا – قَالَ – ثُمَّ أَتَيْتُ ابْنَ عُمَرَ فَأَخْبَرْتُهُ فَجَاءَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى الْبَابِ فَقَالَ هَا هُنَا هَارُوتُ وَمَارُوتُ فَقَالَتْ إِنِّى جَعَلْتُ كُلَّ مَالٍ لِى فِى رِتَاجِ الْكَعْبَةِ قَالَ فَمَا تَأْكُلِينَ قَالَتْ وَقُلْتُ وَأَنَا يَوْمًا يَهُودِيَّةٌ وَيَوْمًا نَصْرَانِيَّةٌ وَيَوْمًا مَجُوسِيَّةٌ. فَقَالَ إِنْ تَهَوَّدْتِ قُتِلْتِ وَإِنْ تَنَصَّرْتِ قُتِلْتِ وَإِنْ تَمَجَّسْتِ قُتِلْتِ . فَقَالَتْ فَمَا تَأْمُرُنِى قَالَ تُكَفِّرِينَ يَمِينَكِ وَتَجْمَعِينَ بَيْنَ فَتَاكِ وَفَتَاتِكِ .

“Dari Abu Rofi’ beliau berkata; Maulat (tuan wanita)ku  berkata: “Aku benar-benar akan memisahkanmu (menceraikanmu) dengan istrimu (dan dia bersumpah) semua hartanya (dishodaqohkan) digerbang pintu Ka’bah, dan dia akan sehari menjadi Yahudi, sehari menjadi Nasrani, dan sehari menjadi Majusi “jika kamu tidak berpisah dengan istrimu” (ancamnya). Maka aku pergi menuju Ummul Mukminin Ummu Salamah dan aku berkata : “Sesungguhnya Maulatku ingin memisahkan aku dengan istriku”. Ummu Salamah berkata; “Pergilah kepada Maulatmu dan katakan bahwa hal ini tidak halal baginya”. Maka aku kembali kepadanya. Lalu aku mendatangi Ibnu Umar, lalu aku memberitahunya. Maka Ibnu Umar datang, hingga ketika sampai di pintu beliau berkata; “Di sini ada Harut dan Marut”. Maulatku berkata: “Sesungguhnya aku telah menjadikan semua hartaku (dishodaqohkan) digerbang Ka’bah”. Ibnu Umar bertanya; “lalu apa yang kamu makan”? dia melanjutkan: “Dan aku berkata; Aku akan sehari menjadi Yahudi, sehari menjadi Nasrani, dan sehari menjadi Majusi”. Ibnu Umar berkomentar; “Jika engkau menjadi Yahudi maka engkau akan dibunuh, jika engkau menjadai Nasrani maka engkau akan dibunuh, dan jika engkau menjadi Majusi maka engkau akan dibunuh. Dia berkata; “Kalau begitu apa yang kau perintahkan kepadaku”?Ibnu Umar menjawab: “Tebuslah sumpahmu dan kumpulkan antara pemuda dan pemudimu –jangan berusaha menceraikan-” (H.R.Ad-Daruquthni)

 

Jelas sekali bahwa yang melakukan Ta’liq adalah Maulat Abu Rofi’ bukan Abu Rofi’ sendiri. Tentu saja yang punya hak talak yang berkonsekuensi jatuh talak hanya Abu Rofi’  bukan Maulatnya. Maulat Abu Rofi’ adalah pihak luar, bukan suami dan bukan pula istri. Karena itu Ta’liq yang ia ucapkan sebagai Ta’kid keinginannya bisa difahami secara Urfi sebagai sumpah, sehingga dia diperintahkan menebus sumpahnya dengan Kaffaroh.

Dengan demikian, berdasarkan uraian dalil-dalil di atas, serta bantahan terhadap sejumlah kebaratan bisa difahami bahwa Tholaq Mu’allaq dihukumi jatuh talak ketika syaratnya yang disebutkan dalam ancaman terealisasi. Pendapat ini adalah pendapat seluruh Imam empat madzhab; Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam As-Syafi’I, dan Imam Ahmad.  Bahkan disebut telah menjadi Ijma’ oleh Imam Mujtahid Abu Ubaid, Abu Tsaur, At-Thobary, Abu Bakr bin Al-Mundzir, Muhammad bin Nashr Al-Marwazy, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Rusyd, dan Al-Baji.

Ralat dalam Tholaq Mu’alaq tidak berguna, karena Talak bersifat Luzum (mengikat), begitu diucapkan maka jatuhlah konsekuensi sebagaimana lafadz Ijab Qobul dalam akad nikah yang tidak membedakan serius ataupun main-main.

Konsekuensi jatuhnya talak  yang ketiga adalah tidak halalnya menikah lagi sampai istri menikah lagi dengan lelaki lain kemudian diceraikan. Allah berfirman;

{فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ } [البقرة: 230]

kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga Dia kawin dengan suami yang lain (Al-Baqoroh; 230)

 

Konsekuensi hukum ini meskipun pahit tetap harus dijelaskan dan dijalankan sebagai realisasi ketakwaan kepad Allah SWT.

Memang benar, saran dari ulama kerabat penanya, bahwa dalam mengucapkan talak hendaknya tidak diobral. Seyogyanya para lelaki berhati-hati sekali dalam mengucapkan lafadz talak, karena konsekuensinya berat dan tidak bisa dibatalkan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah memarahi seorang lelaki yang mentalak istrinya tiga kali sekaligus karena dianggap mempermainkan Kitabullah. An-Nasa’I meriwayatkan;

سنن النسائي (11/ 79)

 مَحْمُودَ بْنَ لَبِيدٍ قَالَ

أُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَجُلٍ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ ثَلَاثَ تَطْلِيقَاتٍ جَمِيعًا فَقَامَ غَضْبَانًا ثُمَّ قَالَ أَيُلْعَبُ بِكِتَابِ اللَّهِ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ حَتَّى قَامَ رَجُلٌ وَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا أَقْتُلُهُ

Mahmud bin Labid berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diberi kabar mengenai seseorang yang menceraikan istrinya dengan tiga kali cerai sekaligus. Maka beliau berdiri dalam keadaan marah, kemudian bersabda: “Apakah ia mempermainkan Kitab Allah sedangkan aku berada diantara kalian, ” hingga seseorang berdiri dan berkata; ya Rasulullah bolehkan aku membunuhnya?” (H.R.An-Nasai)

Diriwayatkan pula bahwa Allah sendiri memubahkan Talak, tetapi talak adalah perkara mubah yang paling dibenciNya. Abu Dawud meriwayatkan;

سنن أبى داود (6/ 91)

عَنْ ابْنِ عُمَرَ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلَاقُ

 

dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Perkara halal yang paling Allah benci adalah perceraian.”(H.R.Abu Dawud)

Jika dalam rumah tangga terjadi persoalan, seyogyanya jangan langsung mengancam dengan talak, tetapi mengikuti cara yang diajarkan dalam Al-Quran. Cara tersebut bisa difahami dari ayat berikut ini;

{وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ} [النساء: 34]

wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz (pembangkangan)nya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka (An-Nisa:34)

Dari ayat di atas bisa difahami bahwa solusi awal terhadap istri yang bermasalah adalah dinasehati. Nasehat ini jika tidak mempan dari suami bisa meminta tolong kepada ulama atau orang yang disegani istri. Jika nasehat masih tidak mempan, bisa membuat aksi pisah ranjang sebagai hukuman mental yang bisa disertai tidak mengajak berbicara sebagaimana pernah dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada istri-istrinya selama satu bulan. Jika pisah ranjang masih tidak mempan maka suami boleh memukul, namun pukulan yang mendidik, bukan pukulan yang menyakitkan. Saat istri membangkang (Nusyuz) maka dia kehilangan hak nafkah. Jadi, jika suami tidak menafkahi istri karena istri yang membangkang, maka suami tidak berdosa.

Jika dipukul belum juga berubah, berarti persoalannya lebih  dalam lagi sehingga perlu keterlibatan pihak luar. Dalam kondisi ini, untuk mencari penyelesaian, pihak lelaki mengutus salah satu keluarganya yang dipercaya dan pihak wanita juga mengutus salah satu keluarganya yang dipercaya. Kedua utusan ini bertemu untuk membahas dan mencari solusi bersama. Allah menjamin, jika semua memang berniat baik maka Dia akan memberikan taufiq kebaikan. Allah berfirman;

{وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا} [النساء: 35]

dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud Mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu.(An-Nisa: 35)

Jika pelibatan dua keluarga ternyata masih juga belum memberikan solusi dan titik terang, berarti persoalan rumah tangga keduanya sudah mencapai puncaknya, sehingga dalam hal ini talaklah yang menjadi  solusi terakhir.

Atas dasar ini, bisa disimpulkan kembali bahwa kasus talak yang dibawa penanya adalah termasuk Tholaq Mu’allaq yang dihukumi jatuh talak jika syarat yang diancamkan terealisasi. Oleh karena syarat yang diancamkan, yaitu pembangkangan istri untuk pergi bersama suami telah terealisasi, maka jatuhlah talak tersebut dan berlaku konsekuensi-konsekuensi jatuhnya talak tiga.

Menjadi pelajaran pula bagi para Muslim-Muslimah yang hendak melangsungkan pernikahan, bahwa dalam menikah hendaknya bukan hanya pembahasan romantisme pernikahan saja yang dikedepankan. Namun yang lebih penting dari itu adalah mengkaji hukum-hukum Fikih baik terkait Fikih lelaki maupun Fikih wanita (seperti topik Tholaq Mu’allaq ini) agar tidak terjatuh pada pelanggaran-pelanggaran syariat yang berkonsekuensi berat. Wallahua’alam.

29 responses

  1. Pembelajaran yg berharga agar berhati-hati/tidak main-main dalam menjatuhkan talaq apalagi pada saat jatuh talaq tiga, karena rujuk pada talaq tiga hanya bisa dilakukan apabila keduanya sudah pernah menikah lagi.
    Terimakasih.

  2. assalamualaikum ustad- sya mw tnya, suatu ktka q n istri sy sdang brtengkar. Sy sngat mrah kpd istri sy krna q suruh mengundurkn diri dari instansi tmpat ia krj, kmudian ia bersikukuh gak mau. Sampai kmrahanq mmuncak q bicara “demi allah q gak ridho klo u tetap ke instansi it, klo sampai ksna gak usa pulang j” dri ucpn it q tdk brniat tuk pisah melainkn untk mmberi plajarn agr ia bs menghargai sya sbagai suamiy, tp blum smpai ia k instan it, sya n istri berbaikan lg, dg kpala dingin qita bermusyawarah, lalu sya mmutuskn n brbicara sya ridho pyn k instnsi trsbut dg jadwal yg sya mnta n trjdilah kesepaktan mufakat. Kalimat yg ad tanda kutip d ats mnurut ustad trmasuk ap? Tlong ustad jelaskan makna ungkpn crta sya in scr syar’i. Terima kasih wassalamualaikum wr wb

    1. wa’alaikumussalam warohmatullah…
      krn niatnya tdk talak, maka tdk dihitung talak. itu tdk lebih sanksi ta’dib (pendidikan) kpd istri sebgmana pisah ranjang, pukulan yg tdk menyakitkan, tdk diajak bicara dll. kata2 demi Allah adl sumpah, cuman bukan sumpah melakukan sesuatu, tp sumpah thd Khobar (berita), yakni info bhw suami tidak ridha. sumpah seperti ini seperti sumpah bahwa akhirat itu ada, kebangkitan adalah haqq dll yg tdk ada kaitan dengn perbuatan yg direncanakan akan dilakukan. krn itu tdk ada konsekuensi pembatalan sumpah. kecuali jk sumpah thd berita tsb adl sumpah dusta/palsu. maka wajib menebus dosa kedustaannya tsb. Wallahua’lam.

  3. faizin achmad baihaqi | Balas

    Assalamualaikum wr wb,ustad sya mau tanya tentang jatuhnya atau tidaknya talak pada saat kondisi istri sedang haid,waktu itu istri saya dalm perjalanan ke jakarta menumpang kereta bersama keluarganya menengok family yang ad di jakarta,sya tidak bisa ikut karna ada pekerjaan,ketika itu sya tidak ingat kami entah masalah apa kami bertengkar via sms sya sampai mengucapkan kata demi allah sya talak kamu ,pada saat itu saya menyesal mengucapkan kata itu.kemudian sya baru tau kalo istri pada saat itu lagi haid apakah jatuh talak 1,saya menyesal dan merasa berdosa ,ustad terlalu mudah berkata talak,mohon jawabanny ,waalaikumsalam wr.wb

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh.
      Talak saat haid adalah talak yang haram. menjatuhkannya berdosa, tapi tetap dihukumi jatuh.
      setelah hari ucapan talak itu istri sudah mulai menjalani masa iddah.
      dimasa iddah tersebut karena bapak menyesal, maka sy sarankan segera rujuklah. karena jika habis masa iddah istri tdk bisa dirujuk dan harus menyelenggarakan akad nikah baru.

      setelah ini berhati2 ya jika mengucapkan talak. jatah talaknya tinggal dua.

  4. Assalamu’alaikum,..saya pernah berkata sama istri saya setelah rujuk pertama..”kalau kamu mebela anak terus dan meninggalkan saya kamu saya thalaq 3 sekalian” tapi tujuan saya tuk mengancam istri supaya taat sama suami, tapi begitu istri saya bertemu kyai…kata kyai tersebut kamu(istri) kan masih mau ngebela anak masih mau membiayai anak pesantren walaupun harus dapat bantuan orang lain?….(maaf ekonomi saya pas2 an, lagian saya marah sama anak karena dia merokok(haram) dan gak mau minta maaf sama saya karena anak saya menyebab saya bercerai pertama…gimana ustadz…apakah seorang istri wajib taat sama kyai, anak atau suami? terima kasih.

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah.
      Tentu saja antara suami, anak, kyai istri wajib lebih taat kpd suaminya. Bahkan drpd ortu wanita , suami msh lebih wajib ditaati. Wallahua’lam

      1. tapi kyai tersebut sudah mengatakan bahwa sudah thalaq 3, dengan menggiring opini tersebut ke thalaq 3, dan istri saya bersikeras untuk mengikuti kyai tersebut….saya kasihan sama anak2 saya, takut saya ga bisa membiayai mereka lagi karena kalau saya menikah lagi….dengan cara apa ustadz agar istri saya sadar…trima kasih

      2. pertanyaan tentang ketaatan tentu beda dengan pertanyaan tentang hukum2 talak.
        jika bapak pernah mengatakan: “jika kamu meninggalkan saya, maka kamu saya talak 3”
        maka bapak telah mengucapkan talak mu’allaq. artinya jik istri melanggar ancaman tersebut, maka jatuhlah talak.
        motif bapak apakah mengancam ataukah berniat talak tidak dipertimbangkan.
        jadi yg jadi masalah besar di sini adl ucapan bapak tersebut.
        jangan pernah main2 dengan ucapan dalam pernikahan.
        bapak halal dan menikah dg istri bapak adl krn ucapan, dan bapak juga bisa berpisah krn ucapan. Wallahua’lam.

  5. Assalammualaikum,
    Ustad yg saya hormati,
    tadi pagi saya dapat khabar tentang pertengkaran adik ipar saya (yg suami) yang disaksikan oleh kedua mertua saya. Dalam pertengkaran tersebut adik ipar mengucapkan “Talaq 2 ” terhadap istrinya.
    Kondisi istrinya (apakah hamil/ haid) sy blm mengetahuinya.
    bagaimana menurut hukum talaq terhadap ucapan adik ipar tersebut?
    Mohon pencerahan Ustad

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah.
      Harus dipastikan ucapannya seperti apa. Jika memang lafaz talak, maka jatuhlah talak tersebut. Untuk menghitung itu talak ke berapa, harus diketahui dulu apakah sebelumnya sudah ada talak apa belum. Wallahua’lam

      1. ASSALAAMU’ALAIKUM WRWB Yth ustadz, saya ada pertanyaan yg sangat membebani pikiran saya sbg berikut : 1. Pada saat awal masa pernikahan, saya sempat ribut sama istri saya. Akar permasalahannya adalah krn kurang bgt perhatian sama dia dan lebih kekeluarga saya. Saya info kan bahwa saat itu sikon keluarga saya kurang kondusif, nenek yg merawat saya sejak kecil sakit dan yg biasanya menjaganya adalah kaka saya. Nah saat bertengkar hebat itu istri saya minya cerai sama saya sampai melempar buku nikah kami, trus saya jawab kalau kamu pengen cerai ntar kita urus di pengadilan agama, namun kami tidak pernah ngurus perceraian ke PA, bgmn status talak dimaksud apakah jatuh atau tidak. 2. Pernah seingat saya pas kelahiran putra pertama kmi..saya minta istri saya untuk berhenti bekerja supaya fokus ngurus rumah tangga, istri saya waktu itu msh terikat dinas kerja 1 tahun lagi, nah saya bilang ke dia “ntar kalau kontrak kamu nanti yg sisa 1 tahun sdh berakhir kamu harus berhenti kerja kalau tidak mau berhenti maka jatuh talak saya atas kamu, pada saat itu istri saya cuman diam dan menangis, nah sblm kontrak kerjanya berakhir saya liat kondisi keuangan kami dan keluarga istri saya lg seret krn itu sblm kontrak kerja dia berakhir, jauh jauh bulan sudah saya tarik/batalkan kata2 sumpah saya itu dan hal itu saya ikrarkan didepan istri saya, pertanyaan saya apakah talak saya tetap jatuh atau tidak, sbg info tambahan istri saya saat ini masih bekerja dan saya mengizinkannya sebelum syarat talak saya jatuh. Dan saya juga membayar kaffarat sumpah saya itu. 3. Krn keluarga saya kurang peduli kepada istri dan anak saya..istri saya sempat bilang masih mending keluarga dia dari pada keluarga saya yg gak peduli sama anak kami, trus saya emosi sekaligus kasian dgn dia, drpd dia menderita gr gr sikon keluarga saya, saya bilang kepada istri saya kalau kamu memang gak terima dgn sikon keluarga saya, mending kita cerai aja (sbg info keluarga saya hampir tidak peduli dgn istri dan anak saya, saya sdh berusaha agar keadaan berubah dgn diiringi doa mudahan2 d kabulkan Allah SWt). Terkait tawaran talak saya kpd istri saya td, istri saya tidak mengiyakan cuman bilang suamiku ht ht dgn ucapan saya, namun kalau Sayanya yg memang pengen cerai dgn dia maka saya boleh urus ke PA, saya tdk ingin cerai dgn istri saya, Bagaiman status talak saya, jatuh atau tidak ? 4. Dari ke 3 pertanyaan saya diatas kalau memang ada jatuh talak sdh sampai talak brp? Mohon dpt ditanggapi pada kesempatan pertama. Terima kasih atas jawabannya. WASSALAAMU’ALAIKUM WRWB

      2. Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh
        1.status jatuhnya talak atau belum, standarnya bukan mengurus ke pengadilan ataukah tidak. Tapi lafaz yang diucapkan suami. Jika seorang istri bilang “ceraikan aku” kemudian suami bilang “ya” atau “ya, kamu kucerai” atau “ya, telah jatuh talakku” atau yg semakna maka jatuhlah talak.
        2.talak bersyarat seperti itu dinamakan talak mu’allaq. Jika talak mu’allaq telah diucapkan, maka tidak bisa lagi ditarik kembali/dibatalkan dalam pendapat jumhur ulama. Jadi talak tetap jatuh
        3.jk baru tawaran, maka belum jatuh talak.
        4.jk benar ceritanya demikian maka sudah jatuh talak dua, dan bapak hanya punya kesempatan satu talak lagi. Jk sampai 3 kali maka tdk bs rujuk lagi sebelum istri menikah dg lelaki lain, disetubuhi dan dicerai dengn pernikahan yg wajar/bukan sandiwara.
        Kemudian bapak wajib rujuk dengan mengucapkan kata2 rujuk jk dg istri saat ini msh dlm masa iddah, tp jk sudah lewat mk hrs mengulang akad nikah.
        Wallahua’lam

      3. Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh
        1.status jatuhnya talak atau belum, standarnya bukan mengurus ke pengadilan ataukah tidak. Tapi lafaz yang diucapkan suami. Jika seorang istri bilang “ceraikan aku” kemudian suami bilang “ya” atau “ya, kamu kucerai” atau “ya, telah jatuh talakku” atau yg semakna maka jatuhlah talak.
        2.talak bersyarat seperti itu dinamakan talak mu’allaq. Jika talak mu’allaq telah diucapkan, maka tidak bisa lagi ditarik kembali/dibatalkan dalam pendapat jumhur ulama. Jadi talak tetap jatuh
        3.jk baru tawaran, maka belum jatuh talak.
        4.jk benar ceritanya demikian maka sudah jatuh talak dua, dan bapak hanya punya kesempatan satu talak lagi. Jk sampai 3 kali maka tdk bs rujuk lagi sebelum istri menikah dg lelaki lain, disetubuhi dan dicerai dengn pernikahan yg wajar/bukan sandiwara.
        Kemudian bapak wajib rujuk dengan mengucapkan kata2 rujuk jk dg istri saat ini msh dlm masa iddah, tp jk sudah lewat mk hrs mengulang akad nikah.

      4. ASSALAAMU’ALAIKUM WRWB Yth ustadz, saya ada pertanyaan yg sangat membebani pikiran saya sbg berikut (ini ada koreksi redaksional dari pertanyaan saya yg no 1 dan no 3 pada tanggal 23 Januari 2014 pukul 1:27 pm) sbb: 1. saat awal masa pernikahan, saya sempat ribut sama istri saya. Akar permasalahannya adalah krn kurang bgt perhatian sama dia dan lebih kekeluarga saya. Saya info kan bahwa saat itu sikon keluarga saya kurang kondusif, nenek yg merawat saya sejak kecil sakit dan yg biasanya menjaganya adalah kaka saya. Nah saat bertengkar hebat itu istri saya minya cerai sama saya sampai melempar buku nikah kami, trus saya jawab kalau kamu pengen cerai saya jawab ia nanti kita urus di pengadilan agama, namun kami tidak pernah ngurus perceraian ke PA, bgmn status talak dimaksud apakah jatuh atau tidak. 2. Pernah seingat saya pas kelahiran putra pertama kmi..saya minta istri saya untuk berhenti bekerja supaya fokus ngurus rumah tangga, istri saya waktu itu msh terikat dinas kerja 1 tahun lagi, nah saya bilang ke dia “ntar kalau kontrak kamu nanti yg sisa 1 tahun sdh berakhir kamu harus berhenti kerja kalau tidak mau berhenti maka jatuh talak saya atas kamu, pada saat itu istri saya cuman diam dan menangis dan dia bilang siap berhenti, nah sblm kontrak kerjanya berakhir saya liat kondisi keuangan kami dan keluarga istri saya lg seret krn itu SEBELUM kontrak kerja istri saya berakhir, jauh jauh bulan sudah saya tarik/batalkan kata2 sumpah saya itu dan hal itu saya ikrarkan didepan istri saya, pertanyaan saya apakah talak saya tetap jatuh atau tidak, sbg info tambahan istri saya saat ini masih bekerja dan saya mengizinkannya sebelum syarat talak saya jatuh. Dan saya juga membayar kaffarat sumpah saya itu. 3. Krn keluarga saya kurang peduli kepada istri dan anak saya..istri saya sempat bilang masih mending keluarga dia dari pada keluarga saya yg gak peduli sama anak kami, trus saya emosi sekaligus kasian dgn dia, drpd dia menderita gr gr sikon keluarga saya, saya bilang kepada istri saya kalau kamu memang gak terima dgn sikon keluarga saya, kalau istri saya mau minta cerai sama saya maka dia akan saya ceraikan, saya gak tega liat dia menserita gara2 keluarga saya (sbg info keluarga saya hampir tidak peduli dgn istri dan anak saya, saya sdh berusaha agar keadaan berubah dgn diiringi doa mudahan2 d kabulkan Allah SWt). Terkait tawaran talak saya kpd istri saya td, istri saya TIDAK mengiyakan cuman bilang suamiku ht ht dgn ucapan saya, namun kalau Sayanya yg memang pengen cerai dgn istri saya, maka saya boleh urus ke PA, saya tdk ingin cerai dgn istri saya, alhamdulillah mlm itu sudah baikan lg, trus besok paginya saya konfirmasi lg sama dia bagaimana dgn keluarga saya yg sikonnya kayak info diatas saya khawatir talak saya jatuh karena saya jahil masalah agama, dia jawab demi allah dia tidak mau rumah tangga kami hancur dan terkait masalah materi dan keluarga insyaallah istri saya bisa kuat menjalani dgn saya selaku suaminya asal jangan ada orang ketiga. Bagaimana status tawaran talak saya kepada istri saya spt diatas yg tidak diiyakan oleh istri saya dan dia mengembalikan masalah itu kepada saya dan saya juga tidak mau mentalak dia, apakah telah jatuh talak atau tidak ? 4. Dari ke 3 pertanyaan saya diatas kalau memang ada jatuh talak sdh sampai talak brp? Mohon dpt ditanggapi pada kesempatan pertama. Terima kasih atas jawabannya. Demi Allah saya tobatan nasuha terkait obral talak kepada istri saya. WASSALAAMU’ALAIKUM WRWB

  6. Assalamu’alaikum warohmatuloh Ustadz.
     
    Sebelumnya saya mohon ampun dan maaf terkait telpon saya yg pagi 2 td ke HP pak ustadz.
     
    Begini Pak ustadz, saya ingin bertanya terkait masalah rujuk, mudahan mudahan dapat menambah wawasan agama saya dalam hal ini.
     
    Dari kasus talak mu’allak saya (yg terkait kalau istri tidak berhenti bekerja kalau kontraknya habis, dia saya talak) setelah saya konsultasi dengan pak ustadz dan ustadz yang lain, ternyata talaknya tetap jatuh karena syaratnya terpenuhi dan tidak dapat ditarik kembali.
     
    Nah sebagaimana pembicaraan saya lewat telpon kemaren dengan pak ustadz, saya info khan bahwa istri saya habis kontrak kerja 28 oktober 2013 ( ternyata bukan tgl 01 Nopember 2013 krn kontrak kerja dia 2 tahun terhitung sejak 27 okt 2011) (dan pada kondisi ini saya masih belum tau ternyata talak mu’allak saya yang jatuh atas istri saya tanggal 28 okt 2013 , krn kejahilan saya mengenai masalah agama).
     
    Pada tanggal selasa malam tgl 21 januari 2014 (saat ini saya masih belum tau bahwa ada talak mu’allak saya yang jatuh pada tanggal 28 okt 2013), saya dan istri saya bertengkar dimana ujung ujungnya saya menawarkan kepada istri saya, apabila dia minta cerai saya ikhlas menceraikan dia, alhamdulillah dia nya tidak mengiyakan dan menyerahkan lagi kepada saya yang mana apabila saya ingin pisah, silahkan saya urus ke pengadilan agama. saya tidak mau pisah dengan istri saya.  Namun karena saya khawatir bahwa tawaran talak yg tgl 21 jan 2014 ini  jatuh talak, dan pada saat itu  saya bilang kepada istri saya bahwa saya rujuk dia dan dia mengiyakan (saya dan istri masih sama sama jahil dalm bidang agama pak ustadz, takut kalau tawaran saya td telah jatuh talak). Jadi pada  kasus ini setelah saya konsultasi dengan pak ustadz alhamdulillah tidak ada talak yang jatuh, terus setelah saya tau hal dimaksud saya infokan istri saya dan infokan juga bahwa rujuk kemaren itu bukan berarti saya talak dia, cuman krn takut kalau jatuh talak atas tawaran talak saya yg dia serahkan kembali kepada saya serta secara niat dan lisan insyaAllah pasti saya tidak ada niat maupun kata saya cerai istri saya.
     
     
    Pada tanggal 29 januari 2014, setelah saya dapat info dari beberapa ustadz dan juga ustadz sendiri bahwa talak saya mu’allak jatuh yakni 28 oktober 2013 (ternyata bukan tgl 01 Nopember 2013 krn kontrak kerja dia 2 tahun terhitung sejak 27 okt 2011) , sehingga pada pagi hari tgl 29 januari 2014 saya langsung menelpon istri saya (saya di makassar dan istri saya di banjarmasin) bahwa saya rujuk kembali dia terkait talak mu’allak saya yang jatuh pada tanggal 28 okt 2013 (kondisi istri saya masih haidh yang ketiga cuman ada sedikit yg buat ragu, krn saat itu dia minumm pil kb sehingga dalam 1 bulan ada 2 peroide haidh dan utk haidh keduanya hari hari awal darahnya seperti darah luka baru beberapa hari kemudian seperti darah haidh masih plek lendir kecoklatan) dan info istri saya seingat dia sejak 1 Nopember 2013 sampai dengan 29 januari 2014 dia baru haidh yg ketiga kali, sore menjelang maghrib pada tgl 29 januari 2013 dia mandi suci, untuk bulan oktober 2013 seingat dia haidnya sekitar tgl 23 okt berakhirnya dia lupa, cuman 1 nopember 2013 dia sdh bersih krn dia sholat pas diangkat sbg pegawai tetap, talak muallak saya jatuh tgl 28 oktober 2013, dan dia teratur kalau haidh dlm sebulan hanya 1 periode saja
     
     
    Nah pak ustadz yang semoga senatiasa dirahmati Allah, yang ingin saya tanyakan disini adalah sbb:
     
    Rujuk saya secara lisan yg tgl 21 jan 2014 (rujuk karena kekhawatiran saya kalau ternyata tawaran talak saya yg tidak diiyakan istri td merupakan talak, yang ternyata alhamdulillah tidak jatuh talak utk kejadian pada tanggal 21 jan 2014) apakah bisa dianggap sebagi rujuk yang sah untuk  talak mu’allak saya yang jatuh pada tanggal 23 oktober 2013 walaupun saya sendiri tidak mengetahui ternyata ada saya talak yang jatuh atas istri  tgl 23 okt 2013 dan tidak ada niat untuk merujuk talak muallak dimaksud krn saya beranggapan tidak ada talak)
     
    atau rujuk yg tanggal 29 Januari 2014 itu lah rujuk yang sah atas talak mu’allak saya yang jatuh pada tanggal 01 Nopember 2013.
     
     Untuk darah yg seperti luka dan disambung dengan darah yg menurut istri saya itu mirip darah haidh (periodenya dari 14 jan 2014 sore s.d 29 januari 2014 sore) dan istri saya baru mandi suci sore walaupun hari ini masih ada kayak lendir , tu bagaimana status rujuk saya yg tgl 29 januari pagi, itu apakah masih masuk hitungan haidh ke 3 atau bagaimana

    Utk siklus haid sbb pak ustad :
    Jatuh talak 28 okt 2013

    23 okt s.d tglnya lupa cuman tidak sampai 1 nop 2013 istri saya haid
    Habis itu suci
    akhir nop 2013 s.d minggu pertama des 2013 haidh lg
    Habis itu suci
    Akhir desember 2013 s.d kira kira 11 jan 2014 haidh lg
    12 s.d 13 jan 2014 siang suci dari haidh, disini istri saya menkomsumsi pil kb

    14 s.d 29 januari 2014 sore haidh lg dgn kondisi diawal awal haidh darah yg seperti luka dan disambung dengan darah yg menurut istri saya itu mirip darah haidh sampai tgl 29 januari sore, 29 januari 2014 istri saya saya rujuk (karena saya br tau cara rujuk yg benar)

    Mohon jawabannya ustadz, semoga Allah membalas semua kebaikan ustadz dan mudah2an Allah memberikan jalan yg terbaik buat saya.
    Wassalaamu’alaikum wr wb
     
     
    Welvi

    1. Edit post welvi pada 30 Januari 2014 pukul 1:23 pm

      Assalamu’alaikum warohmatuloh Ustadz.
       
      Sebelumnya saya mohon ampun dan maaf terkait telpon saya yg pagi 2 td ke HP pak ustadz.
       
      Begini Pak ustadz, saya ingin bertanya terkait masalah rujuk, mudahan mudahan dapat menambah wawasan agama saya dalam hal ini.
       
      Dari kasus talak mu’allak saya (yg terkait kalau istri tidak berhenti bekerja kalau kontraknya habis, dia saya talak) setelah saya konsultasi dengan pak ustadz dan ustadz yang lain, ternyata talaknya tetap jatuh karena syaratnya terpenuhi dan tidak dapat ditarik kembali.
       
      Nah sebagaimana pembicaraan saya lewat telpon kemaren dengan pak ustadz, saya info khan bahwa istri saya habis kontrak kerja 28 oktober 2013 ( ternyata bukan tgl 01 Nopember 2013 krn kontrak kerja dia 2 tahun terhitung sejak 27 okt 2011) (dan pada kondisi ini saya masih belum tau ternyata talak mu’allak saya yang jatuh atas istri saya tanggal 28 okt 2013 , krn kejahilan saya mengenai masalah agama).
       
      Pada tanggal selasa malam tgl 21 januari 2014 (saat ini saya masih belum tau bahwa ada talak mu’allak saya yang jatuh pada tanggal 28 okt 2013), saya dan istri saya bertengkar dimana ujung ujungnya saya menawarkan kepada istri saya, apabila dia minta cerai saya ikhlas menceraikan dia, alhamdulillah dia nya tidak mengiyakan dan menyerahkan lagi kepada saya yang mana apabila saya ingin pisah, silahkan saya urus ke pengadilan agama. saya tidak mau pisah dengan istri saya.  Namun karena saya khawatir bahwa tawaran talak yg tgl 21 jan 2014 ini  jatuh talak, dan pada saat itu  saya bilang kepada istri saya bahwa saya rujuk dia dan dia mengiyakan (saya dan istri masih sama sama jahil dalm bidang agama pak ustadz, takut kalau tawaran saya td telah jatuh talak). Jadi pada  kasus ini setelah saya konsultasi dengan pak ustadz alhamdulillah tidak ada talak yang jatuh, terus setelah saya tau hal dimaksud saya infokan istri saya dan infokan juga bahwa rujuk kemaren itu bukan berarti saya talak dia, cuman krn takut kalau jatuh talak atas tawaran talak saya yg dia serahkan kembali kepada saya serta secara niat dan lisan insyaAllah pasti saya tidak ada niat maupun kata saya cerai istri saya.
       
       
      Pada tanggal 29 januari 2014, setelah saya dapat info dari beberapa ustadz dan juga ustadz sendiri bahwa talak saya mu’allak jatuh yakni 28 oktober 2013 (ternyata bukan tgl 01 Nopember 2013 krn kontrak kerja dia 2 tahun terhitung sejak 27 okt 2011) , sehingga pada pagi hari tgl 29 januari 2014 saya langsung menelpon istri saya (saya di makassar dan istri saya di banjarmasin) bahwa saya rujuk kembali dia terkait talak mu’allak saya yang jatuh pada tanggal 28 okt 2013 (kondisi istri saya masih haidh yang ketiga cuman ada sedikit yg buat ragu, krn saat itu dia minumm pil kb sehingga dalam 1 bulan ada 2 peroide haidh dan utk haidh keduanya hari hari awal darahnya seperti darah luka baru beberapa hari kemudian seperti darah haidh masih plek lendir kecoklatan) dan info istri saya seingat dia sejak 1 Nopember 2013 sampai dengan 29 januari 2014 dia baru haidh yg ketiga kali, sore menjelang maghrib pada tgl 29 januari 2013 dia mandi suci, untuk bulan oktober 2013 seingat dia haidnya sekitar tgl 23 okt berakhirnya dia lupa, cuman 1 nopember 2013 dia sdh bersih krn dia sholat pas diangkat sbg pegawai tetap, talak muallak saya jatuh tgl 28 oktober 2013, dan dia teratur kalau haidh dlm sebulan hanya 1 periode saja
       
       
      Nah pak ustadz yang semoga senatiasa dirahmati Allah, yang ingin saya tanyakan disini adalah sbb:
       
      Rujuk saya secara lisan yg tgl 21 jan 2014 (rujuk karena kekhawatiran saya kalau ternyata tawaran talak saya yg tidak diiyakan istri td merupakan talak, yang ternyata alhamdulillah tidak jatuh talak utk kejadian pada tanggal 21 jan 2014) apakah bisa dianggap sebagi rujuk yang sah untuk  talak mu’allak saya yang jatuh pada tanggal 23 oktober 2013 walaupun saya sendiri tidak mengetahui ternyata ada saya talak yang jatuh atas istri  tgl 23 okt 2013 dan tidak ada niat untuk merujuk talak muallak dimaksud krn saya beranggapan tidak ada talak)
       
      atau rujuk yg tanggal 29 Januari 2014 itu lah rujuk yang sah atas talak mu’allak saya yang jatuh pada tanggal 28 oktober 2013.
       
       Untuk darah yg seperti luka dan disambung dengan darah yg menurut istri saya itu mirip darah haidh (periodenya dari 14 jan 2014 sore s.d 29 januari 2014 sore) dan istri saya baru mandi suci sore walaupun hari ini masih ada kayak lendir , tu bagaimana status rujuk saya yg tgl 29 januari pagi, itu apakah masih masuk hitungan haidh ke 3 atau bagaimana

      Utk siklus haid sbb pak ustad :
      Jatuh talak 28 okt 2013

      23 okt s.d tglnya lupa cuman tidak sampai 1 nop 2013 istri saya haid
      Habis itu suci
      akhir nop 2013 s.d minggu pertama des 2013 haidh lg
      Habis itu suci
      Akhir desember 2013 s.d kira kira 11 jan 2014 haidh lg
      12 s.d 13 jan 2014 siang suci dari haidh, disini istri saya menkomsumsi pil kb

      14 s.d 29 januari 2014 sore haidh lg dgn kondisi diawal awal haidh darah yg seperti luka dan disambung dengan darah yg menurut istri saya itu mirip darah haidh sampai tgl 29 januari sore, 29 januari 2014 istri saya saya rujuk (karena saya br tau cara rujuk yg benar)

      Mohon jawabannya ustadz, semoga Allah membalas semua kebaikan ustadz dan mudah2an Allah memberikan jalan yg terbaik buat saya.
      Wassalaamu’alaikum wr wb
       
       
      Welvi

  7. Assalaamu’alaikum pak ustadz,

    Minta pencerahan lagi saya nya pak ustadz, semoga pak ustadz berkenan menjawab pertanyaan saya nya

    Ini terkait talak mu’allaq, sebenarnya berkaitan dengan kasus saya yang dulu, cuman barusan ingat ini rentetan awal sblm talak mu’allaq yg berhenti kerja pas kontrak istri saya berakhir.

    1. Ternyata pas awal pertengkaran seingat saya, saya berniat menceraikan istri saya bukan pada saat kontrak kerja dia habis, tetapi pada saat istri saya masih kontrak, istri saya bilang dia siap berhenti kerja, cuman khan nanti kena denda, trus (seingat saya) saya bilang “denda nya nanti saya yg bayar, dan pokoknya kalau nanti Denda berhenti kerja nya sudah saya bayar (saya mau cariin dulu) istri saya harus berhenti gak mesti menunggu kontraknya habis, kalau tidak saya berniat menceraikan dia”, istri saya menjawab dia nurut aja, “ternyata saya tidak bisa mendapatkan uang pengganti dendanya berhenti kerjanya, dan istri saya otomatis saya izinkan untuk bekerja,

    2. kemudian klausul talak saya saya revisi menjadi kalau nanti kontraknya berakhir maka dia hrs berhenti kalau tidak saya cerai dia krn untuk uang pengganti dend saya tidak bisa bayar, yg ternyata poin 2 ini jatuh talaknya

    pertanyaan saya untuk Poin 1 apakah talaknya jatuh atau tidak?

    wassalaamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh pak ustadz

    1. Assalaamu’alaikum pak ustadz,
      Minta pencerahan lagi saya nya pak ustadz, semoga pak ustadz berkenan menjawab pertanyaan saya nya (ini barusan di update krn ada was was pak ustadz)
      Ini terkait talak mu’allaq, sebenarnya berkaitan dengan kasus saya yang dulu, cuman barusan ingat ini rentetan awal sblm talak mu’allaq yg berhenti kerja pas kontrak istri saya berakhir.
      1. Ternyata pas awal pertengkaran seingat saya, saya berniat menceraikan istri saya bukan pada saat kontrak kerja dia habis, tetapi pada saat istri saya masih kontrak, istri saya bilang dia siap berhenti kerja, cuman khan nanti kena denda, trus (seingat saya) saya bilang “denda nya nanti saya yg bayar, dan pokoknya kalau nanti Denda berhenti kerja nya sudah saya bayar (saya mau cariin dulu) istri saya harus berhenti gak mesti menunggu kontraknya habis, kalau tidak saya berniat menceraikan dia”, istri saya menjawab dia nurut aja, “ternyata saya tidak bisa mendapatkan uang pengganti dendanya berhenti kerjanya, dan istri saya otomatis saya izinkan untuk bekerja,
      2. kemudian klausul talak saya saya revisi menjadi kalau nanti kontraknya berakhir maka dia hrs berhenti kalau tidak saya cerai dia krn untuk uang pengganti dend saya tidak bisa bayar, yg ternyata poin 2 ini jatuh talaknya
      pertanyaan saya:
      a. untuk Poin 1 apakah talaknya jatuh atau tidak?
      b. Misalkan untuk kondisi di poin 1 saya mempunyai kemampuan untuk membayar denda (misal ngutang, walaupun kenyataannya saya tidak mampu), namun saya tidak bayar denda itu krn banyak mudharatnya daripada manfaatnya itu juga sesudah bermusyawarah, dan istri saya tetap saya izinkan bekerja apakah talak saya tetap jatuh, krn syarat untuk talak saya jatuh “apabila dendanya saya bayar dan istri saya tetap tidak berhenti bekerja
      wassalaamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh pak ustadz

      1. Bismillahirrohmaanirrohiim
        Assalaamu’alaikum pak ustadz,

        Insya Allah ini pertanyaan paling UPDATE ustadz…krn saya ingin menambahkan informasinya lbh detil

        1. Ternyata pas awal pertengkaran seingat saya, saya berniat menceraikan istri saya bukan pada saat kontrak kerja dia habis pak ustadz, tetapi pada saat istri saya masih kontrak, saya bilang istri saya bahwa saya berniat menceraikan dia kalau dia tidak mau nurut perintah saya untuk berhenti kerja, istri saya bilang dia nurut aja dan siap berhenti kerja, cuman khan nanti dia bakalan kena denda katanya krn berhenti sebelum kontrak berakhir, trus (seingat saya waktu itu) saya bilang “denda nya biar nanti saya yg cari dan bayar, dan Pokoknya kalau nanti uang denda berhenti kerja nya istri saya sudah ada (saya mau cariin dulu krn blm ada duitnya), dan apabila disaat dana denda nya ada itu, saya minta istri saya berhenti kerja, maka istri saya harus berhenti kerja, gak mesti menunggu kontraknya habis, kalau tidak nurut, saya ceraikan dia”, istri saya menjawab dia nurut aja,

        jadi selama dana nya belum ada saya izinkan dia bekerja, Nah pak ustadz “ternyata saya tidak bisa mendapatkan uang pengganti dendanya berhenti kerjanya, dan istri sayapun otomatis saya izinkan untuk bekerja dan dia tidak saya ceraikan

        2. kemudian selama waktu berjalan istri saya diskusi sama saya, dia menyarankan bagaimana kalau dia berhenti pas abis kontrak aja, krn sayang juga kalaupun ada duit cuman buat bayar denda, dan sikon saat itu memang dana penggantinya masih belum ada, cuman istri saya juga bilang ini sekedar saran, kalaupun saya nanti tetap nyuruh dia berhenti kerja pas dana denda nya sdh saya siapkan, dia juga nurut aja untuk berhenti kerja.
        Disini saya masih belum nyuruh dia berhenti krn dana dendanya tidak ada dan dia belum saya ceraikan.

        3. kemudian klausul talak saya saya revisi menjadi kalau nanti kontraknya berakhir maka dia hrs berhenti kalau tidak saya cerai dia, dengan pertimbangan disini “untuk uang pengganti denda saya tidak masih blm ada dan di poin ini, saya tidak lagi mengusahakan uang denda tsb, yg ternyata talak mu’allaq di poin 3 ini jatuh talaknya sesuai dengan jawaban pak ustadz

        pertanyaan saya sbb pak ustadz:

        a. untuk Poin 1 apakah talaknya jatuh atau tidak?
        b. untuk Poin 2 apakah talaknya jatuh atau tidak?
        c. Misalkan untuk kondisi di poin 1 dan poin 2 atau selama ancaman
        talak itu, saya mempunyai kemampuan untuk membayar denda (misal duit hasil ngutang, walaupun kenyataannya saya tidak ngutang krn dirasa berat), namun saya juga tidak menyuruh istri saya berhenti kerja (tetap saya izinkan bekerja) dan saya juga tidak bayar denda itu krn banyak mudharatnya daripada manfaatnya dan saya juga sudah berpikiran jernih, dan saya juga tidak ada menceraikan dia, apakah talak saya tetap jatuh dalam keadaan seperti ini, krn syarat untuk talak saya jatuh “apabila uang dendanya ada, dan apabila saat dana ada itu saya meminta istri saya berhenti dan apabila dia tidak nurut, maka saya cerai dia

  8. Assalamualaikum pak ustadz..saya minta tolong utk diberi penjelasan ttg masalah yg sdg saya hadapi.
    Saya br menikah 1 bln lbh, saya bekerja diluar kota jauh dr istri, tiap 2 minggu sekali saya pulang, dikarenakan kami jauh istri sering menuduh saya berselingkuh, padahal jelas saya bekerja utk mencari nafkah dan sama sekali tdk ada dlm benak saya utk selingkuh,beberapa hari yg lalu saya pernah mengucapkan sambil bercanda ‘ bukan istriku namanya kalau suka nuduh yang tidak-tidak’. Pertanyaan saya apakah itu sudah jatuh talak?
    Kemudian sktr 2 minggu stlh itu istri saya berulang kali menuduh saya berselingkuh hingga akhirnya saya sangat tdk terima dan dlm keadaan marah saya ucapkan ‘ saya bersumpah,jika kamu menuduh saya lagi tanpa ada bukti yang jelas,maka saya cerikan kamu, ingat ya,sekali lagi saya katakan,saya bersumpah,jika kamu menuduh saya lagi tanpa ada bukti yg jelas,maka saya ceraikan kamu”.
    Pertanyaan saya apakah talak saya sdh jatuh? Karena sampai skrg saya blm ada berkomunikasi lg dgn istri saya sdh 2 hari ini. Skrg saya kepikiran, saya menyesal telah mengatakan itu, apa solusinya menurut pak ustadz? Karena saya msh syg sekali kpd istri saya..saya berniat tdk ingin bermain2 lg mengucapkan cerai..saya ingin istri saya mnjd istri yg prtm dan terakhir.. apakah bs saya cabut kembali syaratnya?atau saya hrs mmbyr kafarah sumpah? Bagaimana cara mmbyr kafarah sumpah?
    Atas penjelasannya sya ucapkan terima kasih..
    Wassalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh..

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah.
      1.yg ucapan canda tdk jatuh talak, krn tdk ada niat talak
      2.yg kedua dinamakan talak mu’allaq. Sdh diucapkan, jd tdk bs ditarik lagi. Talak tsb jatuh jk istri melanggar ancaman suami.
      Saran saya; jk suatu hari istri akhirnya melanggar, maka segera rujuklah. Panggil dua saksi adil, dan ucapkan kata rujuk. Setelah itu berhati2lah. Jangan pernah mengucapkan lagi talak mu’allaq krn jatah talaknya setelah itu tinggal 2 kali saja. Wallahua’lam

  9. asaammualaikum , saya curhat ya , saya telah mentalak istri saya kerena dia meminta dan saya mengucapkan talak sat marah tak bisa berpikir , talak tersebut sah atau tidak , dan apakah benar tentang talak ba’in sugra? apa hadis nya

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah.
      Talak tersebut sah. Secara fakta umumnya talak memang sambil marah. Tidak ada, atau jarang sekali orng mentalak dg tersenyum damai. Talak bain sughro adalah benar, dinyatakan alquran dan banyak hadis shahih. Wallahua’lam

  10. farikhatul janah | Balas

    assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Ustad yg saya hormati.*
    saya mau bertanya ustad. Saya telah dijatuhi talak 3 sekaligus oleh suami saya. Tapi tidak lewat ucapan langsung melainkan lewat sms ke kaka sya. Dan mengirimkn surat untuk tanda buktinya.
    Apakah talak itu sah?*
    berapakah jatuhnya talak itu?
    Bagaimanakah cara rujuknya?

    Balaz,,

    wassalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh.
      Talak tersebut sah, meski lewat sms (untuk mendalami silakan dibaca artikel saya yg berjudul “hukum talak lewat surat”). Talak maksimal dijatuhkan 3 kali. Jika masih jatuh 1 atau 2, maka masih bisa rujuk. Jk sudah jatuh 3 maka tdk bs rujuk lagi.
      Wanita hrs menikah dg lelaki lain. Jk dg lelaki lain ini dicerai kemudian habis masa iddah, mk wanita baru bs menikah dg suami pertama. Wallahua’lam

  11. Assalamu’alaikum pak ustadz saya mau bertanya,suami saya mengatakan kepada saya “selama kamu ikut aku,kamu masih istriku” aku tanya ikut yang bagaimana? dia bilang “maksudnya ikut masih ingin menjadi istriku” apakah itu trmasuk talaq muallaq pak ustadz?mohon dijawab ya karna saya slalu waswas pak ustadz.terimakasih
    wassalamu’alaikum wr.wb

    1. Wa’alaikumussalam Warohmatullah
      bisa jatuh talak mu’allaq jk suami meniatkan talak. Tp tdk jatuh talak jk tdk ada niat talak. Wallahua’lam

  12. Assalamu’alaikum ustadz, bagaimana hukum nya jika suami berbicara begini depan istri “mah,papah sangkain jatuhnya talaq itu cuma ada kata kata aku talaq kamu aja” apakah dengan berbicara begitu trmasuk sudah jatuh talaq pak ustadz?dan hukum nya suami menerangkan kata talaq depan istri bagaimana? apa kata “talaq” harus diucapkan atau diganti?trimakasih pak ustadz.
    wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: