Monthly Archives: Juni, 2012

Hukum Puasa Sya’ban

Oleh: Muhammad Muafa

 

Pertanyaan

Assalamu’alaikum.

Saya mau tanya puasa Sya’ban itu Sunnahnya berapa hari?

 

Abu Hurum-Malang

 

Jawaban

Wa’alaikumussalam Warahmatullah.

Puasa Sya’ban hukumnya Sunnah tanpa membedakan apakah dikerjakan pada paruh pertama bulan Sya’ban (tanggal 1-15 Sya’ban) maupun paruh kedua (tanggal 16-30 Sya’ban), dikerjakan sebulan penuh maupun sebagian besar saja, dikerjakan berselang-seling hari maupun berturut-turut, teratur maupun tidak, sedikit maupun banyak. Semuanya adalah amal ma’ruf  dan termasuk keumuman dalil yang menunjukkan Sunnahnya puasa Sya’ban tanpa dibatasi jumlah hari tertentu atau tanggal tertentu.

Continue reading →

Fikih Anak: Mensucikan Najis Air Kencing Bayi

oleh: Muhammad Muafa

Pertanyaan

Assalamu’alaikum,

Ustadz, bisa minta dalil bayi laki-laki pipis (air kencing) nya hanya diperciki air? Lalu bagaimana jika sebelum dua tahun telah makan yang selain ASI? Apa sifat pipisnya najis?tidak cukup hanya diperciki air?

Inayah-Tangerang

 

 

Jawaban

Wa’alaikumussalam Warahmatullah.

Muqoddimah

Air kencing bayi dalam keluarga muslim dari segi status kenajisan dan cara mensucikannya adalah problem yang umum terjadi dan akan senantiasa berulang selama pernikahan dan kelahiran terus terjadi. Bagi sebagian pasangan suami-istri yang memiliki bayi, hukum fikih terkait persoalan ini mungkin belum diketahui atau diketahui namun dalam bentuk yang samar-samar. Tulisan ini dimaksudkan memberikan sumbangan bagi mereka. Mudah-mudahan bermanfaat.

Continue reading →

Perbedaan Antara Qital, Harb Dan Ghozwah

Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Afwan ustadz, saya ingin bertanya. Apa perbedaan antara Ghazwah, Harb dan Qital? Syukron.

Abu Khoir Muhammad- Malang

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.  
Qital (اْلقِتاَلُ),  Harb (الْحَرْبُ) dan Ghozwah (الغَزْوَةُ)semuanya bermakna perang, namun tekanan makna pada ketiga  kata tersebut  masing-masing berbeda.

Continue reading →

Jangan Menghalangi Muslimah Menikahi Pria Pilihannya

Assalamualaikum ustad.. Saya berusia 27 tahun saya sudah mempunyai calon untuk menikah, tetapi keluarga (adik ibu saya) tidak menyetujui maksud saya untuk menikah. Apa yang harus saya lakukan? Terima kasih atas jawabannya semoga bermanfaat…

Lia, Temanggung, Jawa Tengah
villagebulu@yahoo.com

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah.

Memilih suami adalah hak besar wanita Muslimah tanpa intervensi siapapun baik itu keluarganya, orang lain maupun negara. Ayah, ibu, saudara, saudari, kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, keponakan dan semua keluarga, dekat atau jauh tidak berhak mencegah  pilihan suami wanita. Demikian pula shahabat, bos, guru, Musyrif, Musyrifah, Murobbi, Murobbiyah, Mursyid, Mursyidah, ustadz, ustadzah, Amir, bahkan Khalifah juga tidak berhak mengintervensi (yang bersifat memaksa/menekan) keputusan wanita dalam memilih suami. Memilih suami adalah hak penuh wanita. Dialah yang berhak menentukan siapa calon suaminya, dan dia pula yang berhak menentukan apakah menerima seorang lelaki atau menolaknya.

Continue reading →